MAKALAH TENTANG TERBURU-BURU (AL-'AJALAH)



BAB I
PENDAHULAN

A.    Latar Belakang
    Banyak sekali orang-orang Arab dan bangsa-bangsa lain yang hidupnya berburu. Oleh karena itu al-qur’an dan hadist menganggap penting dalam persoalan ini, dan ahli-ahli fiqihpun kemudian membuatnya bab tersendiri, dengan menguraikan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang wajib dan mana yang  sunat.
    Hal mana justru banyaknya binantang dan burung-burung yang dagingnya sangat baik sekali tetapi sukar didapat oleh manuisa, oleh karena tidak termasuk binatang peliharaan. Untuk itu islam tidak memberikan persyaratan dalam menyembelih banatang-binatang tersebut seperti halnya persyaratan yang berlaku pada binatang-binatang peliharaan yang harus disembelih pada lehernya.
    Islam menganggap cukup apa yang kiranya mudah, untuk memberikan keringanan dan keleluasaan kepada manusia. Dimana hal ini telah dibenarkan juga oleh fitrah dan kebutuhan manusia itu sendiri. Disini islam hanya beberapa peraturan dan persyaratan yang tunduk kepada aqidah dan tata tertib islam, serta membentuk setiap persolan umat islam dalam suatu karakter islam.
    Syarat-syarat itu ada yang bertalian dengan si pemburunya itu sendiri, ada yang bertalian dengan binatang yang di buru dan ada yang bertalian dengan alat yang dipakai untuk berburu.
    Semua persyaratan ini hanya berlaku untuk binatang darat. Adapun binatang laut, adalah seperti yang dikemukakan di atas, yaitu secara keseluruhannya telah dihalalkan Allah tanpa suatu ikatan apapun.



B.    Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari berburu.
2.    Apa syarat yang berlaku untuk berburu.
3.    Syarat yang berkenaan dengan binatang yang diburu.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Berburu
Berburu yaitu sesuatu yang dicari dari hewan, baik berupa binatang darat maupun binatang laut dan hukumanya adalah halal kecuali bagi orang yang sedang berihram pada haji maupun umrah, penyembelian binatang buruan.
Untuk binatang darat apabila didapatinya masih dalam keadaan hidup maka wajib untuk menyemblihnya dan dilarang untuk memakannya sebelum menyembelihnya. Apabila didapati telah mati maka boleh dimakan (halal), jika memenuhi syarat sebagai berikut:
1.    Pemburu adalah orang yang diperbolehkan sebagai penyembelih (syarat dalam menyembelih).
2.    Membaca bismillah sebelum melemparkan atau melepaskan alat berburu.
3.    Alat yang digunakan harus tajam,tanpa mengeluarkan darah.
4.    Tidak menggunakan anjing pemburu, karena anjing tidak mengetahui apa yang diperbuatnya.
5.    Kalau dengan anjing buruan, dipastikan dia tidak memakan buruan.

B.    Syarat Yang Berlaku Untuk Pemburu
Syarat yang berlaku untuk pemburu binatang darat, sama dengan syarat yang berlaku bagi orang yang akan menyembelih, yaitu harus orang islam, ahli kitab atau orang yang dapat dikategorikan sebagai ahli kitab seperti majusi dan tabiin.
Termasuk tuntunan yang diajarkan islam kepada orang-orang yang berburu, yaitu: mereka itu tidak bermain-main sehingga melayanglah jiwa binatang tersebut tetapi tidak ada maksud untuk makan atau dimanfaatkan. Dalam salah satu hadistnya Rasulullah SAW bersaba yang artinya:
“ Barang siapa membunuh seekor burung pipit dengan maksud bermain-main, maka nanti di hari kiamat burung tersebut akan mengadu kepada Allah, ia berkata : Ya tuhankau, si anu telah membunuhku dengan barmain-main, tetapi tidak membunuh aku untuk diambil manfaat:” (HR. Nasa’i dan Ibn Hibban).

        Dan di hadist yang lain beliau bersabda, yang artinya:
“ Tidak seorangpun yang membunuh burung pipit dan yang lebih kecil dari itu tidak menurut haknya, melainkan akan ditanyakan Allah kelak di hari kiamat. Rasulullah SAW kemudian di tanya, apa hak burung itu, ya Rasulullah? Nabi menjawab: Yaitu di disembelih kemudian dimakan, tidak diputus kepalanya kemudian dibuang begitu saja” (HR. Riwayat Nasa’i dan Hakim)
        Selain daripada itu bahwa diharuskan pula bagi seorang yang berburu , bukan sedang berihram. Sebab seorang muslim yang sedang berihram berarti dia berada dalam fase kedamaian dan keamanan yang menyeluruh yang berpengaruh dangat luas sekali terhadap alam sekelilingnya, termasuk binatang di permukaan bumi dan burung yang sedang terbang di angkasa sehingga binatang-bintang itu sekalipun berada di hadapannya dan mungkin untuk ditangkap dengan tangan. Tetapi hal ini adalah justru merupakan ujian dan pendidikan guna membentuk seorang muslim yang berpribadi kuat dan tabah.
Dalam hal ini Allah telah berfirman yang artinya sebagi berikut:
“ Hai orang-orang yang beriman, sungguh Allah menguji kamu dengan sesuatu daripada binatang buruan yang dapat ditangkap oleh tangan-tangan kamu dan tombak-tombak kamu, supaya Allah dapat membuktikan siapakah orang yang takut kepadanya dengan ikhlas. Maka barangsiapa melanggar sesudah itu,baginya siksaan yang pedih “(Al-maidah:49).
“................padahal kamu tidak dihalalkan berburu, sedang kamu dalam keadaan berihram.” (Al-maidah).
C.    Syarat Yang Berkenaan Dengan Binatang Yang Diburu
Adapun syarat yang berkenan dengan binatang yang diburu, yaitu hendaknya binatang tersebut tidak memungkinkan ditangkap manusia untuk disembelih pada lehernya. Kalau ternyata memungkinkan binatang tersebut untuk disembelih di lehernya, maka haruslah disembelih dan tidak boleh pindah kepada cara lain, karena menyembelih adalah termasuk pokok.
Begitu juga kalau ada orang melepaskan panahnya atau anjingnya kemudian menangkap seekor binatang dan ternyata tersebut hidup, maka dia menjadikan halalnya binatang tersebut dengan disembelih di lehernya sebagimana lazimnya. Tetapi kalu hidupnya itu tidak menentu jika disembelih juga lebih baik dan apabila tidak disembeih juga tidak berdosa, sabda nabi yang artinya:
“ Kalau kemu melepas anjingmu, maka sebutlah asma allah atasnya,maka jika anjing itu menangkap untuk kamu dapati dia masih hidup, maka sembelihlah” (HR. Bukhari Muslim). 
D.    Alat Yang Di Pakai Untuk Berburu
Alat yang dipakai untuk berburu ada dua macam, yaitu:
a.    Benda tajam seperti panah, pedang dan tombak, sebagaimana yang di syaratkan dalam al-qur’an yang artinya:
“...............yang dapatdi tangkap oleh tangan-tangan kamu dan tombak-tombak kamu” (Al-maidah:94).
    Berburu dengan senjata tajam, berburu dengan senjata tajam di perlukan dua persyaratan:
1.    Hendaknya alat tersebut dapat menembus kulit, dimana binatang tersebut mati karena ketajaman alat tersebut bukan karena beratnya. Sebagaimana dalam hadist di sebutkan yang artinya:

Adi bin Hatim pernah bertanya kepada Rasulullah SAW bahwa ia melempar binatang dengan golok dan mengenainya, maka jawab nabi: “Apbila kamu melempar dengan golok, dan golok itu dapat menembus (melukai) kulit, maka makanlah. Tetapi kalua yang mengenai itu silangnya, maka janganlah kamu makan” (HR. Bukhari Muslim).

Hadist ini menunjukkan bahwa yang terpenting ialah lukanya, sekalipun pembunuhan itu dilakukan dengan alat yang berat. Dengan demikian halallah binatang yang diburu dengan peluru dan senjata api dan sebagainya, karena alat-alat tersebut lebih dapat menemmbus daripada panah tombak dan pedang. Adapun hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad yang berbunyi:

“ Janganlah kamu makan binatang yang mati karena senapan kecuali apa-apa yang kamu sembelih”
Dan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari perkataan Umar dalam bab binatang yang mati karena senapan bahwa senapan yang dimaksud di sini adalah senapan yang pelurunya tu terbuat dari tanah liat, kalau sudah kering kemudian dipakai untuk berburu. Senapan seperti ini bukan senapan yang sebenarnya (menurut pengertian sekarang). Termasuk senapan jenis ini ialah berburu dengan menggunakan batu bulat (sebangsa krikil). Hal ini dengan tegas telah di larang oleh nabi dengan sabdanya:
“ Bahwa krikil itu tidak dapat untuk memburu binatang dan tidak dapat melukai musuh, tetapi dia dapat menanggalkan gigi dan mencabut mata” (HR. Bukhari Muslim).
Harus disebut asma Allah ketika melemparkan alat tersebut atau ketika memukulkannya, sebagaimana apa yang diajarkan Rasulullah Saw kepada Adi bin Hatim.
b.    Hewan yang melukai
Di antara alat yang boleh dimakan untuk berburu adalah hewan yang melukai baik dari hewan galak ataupun dari burung dengan catatan hewan tersebut sudah menjadi hewan penurut/terlatih hal ini sesuai dengan hadist nabi (subulussalam hal: 81)
Dari hadist di atas kita boleh berburu dengan menggunakan hewan yang melukai seperti halnya anjing dan yang lainnya dengan catatan hewan tersebut sudah penurut. Ada beberapa syarat hewan untuk dikategorikan hewan penurut yaitu:
     Ketika hewan tersebut di perintah untuk berburu maka hewan tersebut berburu
     Ketika disuruh berhenti maka berhenti
     Ketika telah berhasil menangkap buruannya hewan tersebut tidak memakannya
     Perkara yang ketiga diatas telah berulang-ulang
    Apabila keempat syarat tersebut tidak terpenuhi maka hasil buruan hewan tersebut tidak halal dimakan jika mati, akan tetapi jika masih hidup boleh dimakan dengan syarat disembelih. Dan juga di syaratkan untuk membaca basmalah sebelum melepaskan hewan yang digunakan untuk berburu sesuai dengan firman allah
“.......................................”
Juga perlu diketahui bahwa berburu dengan hewan yang melukai diperbolehkan apabila hewan yang diburu sulit atau tidak boleh disembelih seperti biasanya dikarenakan hewan tersebut terlalu sadis. Beda halnya berburu dengan sesuatu yang tajam maka  boleh walaupun hewan yang diburu tersebut termasuk hewan yang sulit atau gampang penyembelihannya.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
        Dari berbagai macam penjelasan dan penjababaran di atas dapat di simpulkan termasuk tuntunan yang diajarkan islam kepada orang-orang yang berburu, yaitu: mereka itu tidak bermain-main sehingga melayanglah jiwa binatang tersebut tetapi tidak ada maksud untuk dimakan atau di manfaatkan .

B.    Saran
        Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari masih terdapat kekurangan dan kesalahan yang disebabkan keterbatasan pengetahuan yang penulis miliki, oleh karena itu penulis meminta kritikan dan saran dari para pembaca.
      


DAFTAR PUSTAKA


Http/Fiqih. Com
Kardawi, Yusuf. Hukum Berburu, cet 10 Jakarta:2007
Rusyd Ibnu. Bidayatul Mujtahid jilid I. (Jakarta Pustaka Azzam) 2006
Sabiq Sayyid. Fiqh Sunnah, Jakarta: Pena Pundi Aksara 2008

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==