MAKALAH TENTANG ILMU HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan di dunia ini kita berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadits. Pada Al-Qur’an semua wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW baik dengan cara inspiratif, diajak bicara langsung oleh ALLAH lewat tabir, melalui penglihatan di waktu tidur ataupun dari utusan ALLAH seperti malaikat jibril adalah mutlak. Apapun yang tertulis didalam Al-Qur’an itu bersifat abadi dan tidak bisa dirubah karena Al-Qur’an sebagai penyempurna kitab-kitab terdahulu. Jadi apa yang terdapat didalam Al-Qur’an saat ini begitu jugalah yang terdapat pada masa nabi dan para rasul.
Sedangkan hadits adalah segala apa yang diberitakan dari nabi Muhammad Saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, atau berupa pembiasaan atas perbuatan sahabatnya. Karena hadits ini ada yang bisa diterima dan ditolak oleh para ulama maka dari itu Ilmu Hadits sangat diperlukan agar kita bisa menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar.

B.     Rumusan Masalah
Secara garis besar pembuatan makalah kami ini membahas tentang:
1.    Periode-periode tentang perkembangan Ilmu hadits ?
2.    Sejarah timbulnya ilmu hadits dan pengumpulannya ?
3.    Pengetian dan macam-macam hadits ?
4.    Cabang-cabang ilmu hadits yang dikelompokkan menjadi beberapa hal ?

C. Tujuan Penulisan
1.  Mengetahui periode-periode tentang perkembangan Ilmu hadits
2.  Mengetahui sejarah timbulnya ilmu hadits dan pengumpulannya
3.  Mengetahui pengetian dan macam-macam hadits
4.  Mengetahui cabang-cabang ilmu hadits yang dikelompokkan menjadi beberapa hal



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pedoman Kehidupan
1.    Al-Qur’an
Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang artinya membaca. Al-Qur’an adalah kita suci umat islam yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an diturunkan secara beragsur-angsur dalam berbagai peristiwa. Baik itu secara langsung bicara dengan Allah lewat tabir, melalui penglihatan dalam tidur ataupun melalui utusan seperti yang sering kita kenal dengan malaikat jibril.
Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat manusia hingga hari kiamat dan yang tertulis didalamnya itu bersifat abadi sehingga tidak bisa diubah lagi. Jadi ayat yang tertulis didalam Al-Qur’an pada masa sekarang ini juga seperti itulah yang diketahui oleh Nabi Muhammad dan para sahabat rasul serta orang-orang terdahulu setelah adanya islam. Al-Qur’an sebagai penyempurna kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW sekaligus ini menjadi mukjizat untuk Nabi Muhammad SAW.

b.      Hadits
Pada intinya Hadits dan As-Sunnah adalah sesuatu yang bersandarkan dengan Nabi Muhammad SAW. Namun adapun diantara keduanya ada perbedaan yang perlu disinggung dalam makalah kelompok kami ini.
Adapun hadits atau Al-Hadits secara bahasa diartikan sebagai sesuatu yang baru (Al-Jadid) yang mana lawan kata dari Al-Qadim (Sesuatu yang lama). Hadits juga berarti Al-Khabar (berita) yang mana berarti sesuatu yang dipercakapkan dari seseorang dan dipindahkan kepada orang lain. Kata jamaknya Al-Ahadis.
Secara istilah atau terminology para ahli hadits dan ahli ushul berbeda pendapat tentang pendefenisian istilah hadits ini. Bahkan dikalangan ahli hadits itu sendiripun terdapat beberapa perbedaan pendapat. Maha suci Allah yang memberikan perbedaan ini agar kita selalu bersatu dalam sebuah rahmat.
Para ahli hadits ada yang mendefenisikan bahwa hadits itu adalah “Segala perkataan Nabi SAW, perbuatan, dan hal ihwalnya".Ulama hadits menerangkan bahwa yang termasuk “hal ihwal”, ialah segala pemberitaan tentang Nabi Saw, seperti yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaannya. “Para ahli yang lain ada yang mengatakan:”Segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya.
Ulama hadits yang lain juga mendefiniskan hadits sebagai "Sesuatu yang didasarkan kepada Nabi SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifatnya".
Dari ketiga pengertian tersebut, ada kesamaan dan perbedaan para ahli hadits dalam mendefinisikan hadits. Kesamaan dalam mendefinisikan hadits ialah hadits dengan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik perkataan maupun perbuatan. Sedangkan perbedaan mereka terletak pada penyebutan terakhir dari perumusan definisi hadits. Ada ahli hadits yang menyebut hal ihwal atau sifat Nabi sebagai komponen hadits, ada yang tidak menyebut. Kemudian ada ahli hadits yang menyebut taqrir Nabi secara eksplisit sebagai komponen dari bentuk-bentuk hadits, tetapi ada juga yang memasukkannya secara implisit ke dalam aqwal atau afal-nya.
Sedangkan ulama Ushul, mendefinisikan hadits sebagai berikut :
"Segala perkataan Nabi SAW. yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara'".
Berdasarkan rumusan definisi hadits baik dari ahli hadits maupun ahli ushul, terdapat persamaan yaitu ; "memberikan definisi yang terbatas pada sesuatu yang disandarkan kepada Rasul SAW, tanpa menyinggung-nyinggung prilaku dan ucapan shabat atau tabi'in. Perbedaan mereka terletak pada cakupan definisinya. Definisi dari ahli hadits mencakup segala sesuatu yang disandarkan atau bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir. Sedangkan cakupan definisi hadits ahli ushul hanya menyangkut aspek perkataan Nabi saja yang bisa dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara'. 

c.       As-Sunnah
Menurut bahasa berarti “Jalan dan kebiasaan yang baik atau yang jelek”. Menurut MT. Hasbi Ash Shiddieqy,ditinjau dari sudut bahasa (lughat) bermakna jalan yang dijalani, terpuji atau tidak. Sedangkan sunnah menurut istilah muhadditsin (ahli-ahli hadits) ialah segala yang dinukilkan dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup baik yang demikian itu sebelum Nabi SAW diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya.
Menurut Fazlur Rahman, sunnah adalah praktek actual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normative dan menjadi sunnah. Sunnah adalah satu konsep perilaku.
Menurut Ajjaj Al-Khatib, bila kata sunnah diterapkan ke dalam masalah-masalah hokum syara’, maka yang dimaksud dengan kata sunnah disni adalah segala sesuatu yang diperintahkan, dilarang, da dianjurkan oleh Rasulullah SAW, baik berupa perkataan maupun perbuatannya. Dengan demikian, apabila dalam dalil hokum syara’ disebutkan Al Kitab dan As-Sunnah, maka yang dimaksudnya adalah Al-Qur’an dan Hadits.
Pengertian Sunnah ditinjau dari sudut istilah, dikalangan ulama terdapat perbedaan. Ada ulama yang mengartikan sama dengan hadits, dan ada ulama yang membedakannya, bahkan ada yang member syarat-syarat tertentu, yang berbeda dengan istilah hadits.
Ulama ahli hadits merumuskan pengertian Sunnah sebagai berikut:
“Segala yang bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, atau perjalanan hidupnya, baik sebelum diangkat menjadi rasul, seperti ketika bersemedi di gua Hira’ maupun sesudahnya”. Defenisi ini sama halnya dengan pendefenisian Hadits. Ini disebabkan mereka memandang diri Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah atau Qudwah (contoh atau teladan) yang paling sempurna bukan sebagai sumber hokum.
Oleh karena itu, mereka menerima dan meriwayatkannya secara utuh segala berita yang diterima tentang diri rasul. Tanpa membedakan apakah isinya berkaitan dengan penetapan hokum syara’ atau tidak. Begitu juga mereka tidak melakukan pemilihan untuk keperluan tersebut, apabila ucapan atau perbuatannya itu dilakukan sebelum di utus menjadi Rasul atau sesudahnya.
Ulama Ushul fiqih memberikan defenisi sunnah adalah “segala yang dinukilkan dari nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan maupun taqrirnya yang ada sangkut pautnya dengan hokum”.
Menurut TM Hasbi Ash Shiddieqy, makna inilah yang diberikan kepada perkataan Sunnah dalam sabda Nabi sebagai berikut: “Sungguh telah saya tinggalkan untukmu dua hal, tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang kepadanya, yakni kitabullah dan sunnah rasul-Nya” (HR Malik)
Perbedaan pengertian tersebut diatas, disebabkan karena ulama hadits memandang Nabi SAW, sebagai yang sempurna, yang dijadikan suri tauladan bagi umat muslim, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AL-Ahzab ayat 21, sebagai berikut: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu”.
Ulama hadits membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi Muhammad SAW, baik yang ada hubungannya dengan ketetapan hokum syariat islam maupun tidak. Sedangkan agama ushul fiqih, memandang Nabi Muhammad SAW sebagai Musyarri: artinya pembuat undang-undang disamping Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 7 yang berbunyi: “…Apa yang diberikan oleh rasul, maka ambillah atau kerjakanlah. Dan apa yang dilarang oleh rasul jauhilah”.
Ulama fiqih, memandang sunnah ialah “perbuatan yang dilakukan dalam agama, tetapi tingkatannya tidak sampai wajib atau fardlu. Atau dengan kata lain sunnah adalah suatu amalan yang diberi pahala apabila dikerjakan, da tidak dituntuk apabila ditinggalkan.
Menurut Dr. Taufiq dalam kitabnya Dinullah fi Kutubi Ambiyah menerangkan bahwa sunnah ialah suatu jalan yang dilakukan atau dipraktekkan oleh Nabi scara kontinyu dan diikuti oleh para sahabatnya, sedangkan Hadits ialah ucapan-ucapan Nabi yang diriwayatkan oleh seseorag, dua atau tiga orang perawi, dan tidak ada yang mengetahui ucapan-ucapan tersebut selain mereka sendiri.



B.     Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadits
a.      Periode Pertama(Zaman Rasul)
Para sahabat bergaul dan berinteraksi langsung dengan Nabi, sehingga setiap permasalahan atau hukum dapat ditanyakan langsung kepada Nabi. Para sahabat lebih fokus dengan menghapal dan mempelajari Al-Qur’an. Rasul pada masa itu secara umum melarang menuliskan hadits karena takut tercampur baur dengan ayat Al-Qur’an karena wahyu sedang / masih diturunkan.
 Secara umum sahabat masih banyak yang buta huruf sehingga tidak menuliskan hadits, mereka meriwayatkan hadits mengandalkan hafalan secara lisan. Sebagian kecil sahabat –yang pandai baca tulis- menuliskan hadits seperti : Abdullah Bin Amr Bin Ash yang mempunyai catatan hadits dan dikenal sebagai “Shahifah Ash Shadiqah” juga Jabir Bin Abdullah Al Anshary mempunyai catatan hadits yang dikenal sebagai “Shahifah Jabir”. Pada event tertentu orang arab badui ingin fatwa Nabi dituliskan, maka Nabi meluluskan permintaan nya untuk menuliskan hadits untuknya. Para sahabat masih disibukkan dengan peperangan penaklukan kabilah-kabilah di seluruh jazirah Arab. Para sahabat yang belum paham tentang suatu hukum bisa saling bertanya kepada yang lebih tahu dan saling mempercayai penuturannya.

b.      Periode Kedua (Masa Kulafaur Rasyidin)
Sebagian sahabat tersebar keluar jazirah Arab karena ikut serta dalam jihad penaklukan ke daerah Syam, Iraq, Mesir, Persia. Pada daerah taklukan yang baru masuk Islam, Khalifah Umar menekankan agar mengajarkan Al-Qur’an terlebih dahulu kepada mereka. Khalifah Abu Bakar meminta kesaksian minimal satu orang bila ada yang meriwayatkan hadits kepadanya. Khalifah Ali meminta bersumpah orang yang meriwayatkan hadits. Khalifah Umar melarang sahabat besar keluar dari kota Madinah dan melarang memperbanyak periwayatan hadits. Setelah Khalifah Umar wafat, sahabat besar keluar kota Madinah tersebar ke Ibukota daerah taklukkan untuk mengajarkan agama.

c.       Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)
Para sahabat besar telah terpencar kelur dari Madinah. Jabir pergi ke Syam menanyakan hadits kepada sahabat Abdullah Bin Unais Al Anshary. Abu Ayyub Al Anshary pergi ke Mesir menemui sahabat Utbah Bin Amir untuk menanyakan hadits. Masa ini sahabat besar tidak lagi membatasi diri dalam periwayatan hadits, yang banyak meriwayatkan hadits antara lain :
a. Abu Hurairah (5347 hadits)
b. Abdullah Bin Umar (2360 hadits)
c. Anas Bin Malik (2236 hadits)
d. Aisyah, Ummul Mukminin (2210 hadits)
e. Abdullah Bin Abbas (1660 hadits)
f. Jabir Bin Abdullah (1540 hadits)
g. Abu Sa’id Al Kudri (1170 hadits)
h. Ibnu Mas’ud
i. Abdullah Bin Amr Bin Ash
Pada waktu pemerintahan Khalifah Ali, terjadi pemberontakan oleh Muawiyah Bin Abu Sofyan, setelah peristiwa tahkim (arbitrase) muncul kelompok (sekte) kawarij yang memusuhi Ali dan Muawiyah. Setelah terbunuhnya Khalifah Ali, muncul sekte Syiah yang mendukung Ali dan keturunannya sementara kelompok jumhur (mayoritas) tetap mengakui pemerintahan Bani Umayah. Sejak saat itu mulai bermunculan hadits palsu yang bertujuan mendukung masing-masing kelompoknya. Kelompok yang terbanyak membuat hadits palsu adalah Syiah Rafidah.
d.      Periode Ke Empat (Masa pembukuan Hadits)
Pada waktu Umar Bin Abdul Aziz (Khalifah ke-8 Bani Umayyah) yang naik tahta pada tahun 99 H berkuasa, beliau dikenal sebagai orang yang adil dan wara’ bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai Khulafaur Rasyidin yang ke-5, tergeraklah hatinya untuk membukukan hadits dengan motif :
a. Beliau khawatir ilmu hadits akan hilang karena belum dibukukan dengan baik.
b. Kemauan beliau untuk menyaring hadits palsu yang sudah mulai banyak beredar.
c. Al-Qur’an sudah dibukukan dalam mushaf, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran tercampur  dengan hadits bila hadits dibukukan.
d. Peperangan dalam penaklukan negeri negeri yang belum Islam dan peperangan antar sesama kaum Muslimin banyak terjadi, dikhawatirkan ulama hadits berkurang karena wafat dalam peperangan-peperangan tersebut.
Khalifah Umar menginstruksikan kepada Gubernur Madinah Abu Bakar Bin Muhammad Bin ‘Amr Bin Hazm (Ibnu Hazm) untuk mengumpulkan hadits yang ada padanya dan pada tabi’in wanita ‘Amrah Binti ‘Abdur Rahman Bin Sa’ad Bin Zurarah Bin ‘Ades, murid Aisyah-Ummul Mukminin.
Khalifah Umar Bin Abdul Azis menulis instruksi kepada Ibnu Hazm :
“Lihat dan periksalah apa yang dapat diperoleh dari hadits Rasulullah, lalu tulislah karena aku takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan anda terima selain hadits Rasulullah saw dan hendaklah anda sebarkan ilmu dan mengadakan majelis-majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahui dapat mengetahuinya, lantaran tidak lenyap ilmu hingga dijadikannya barang rahasia.”
•         Berdasarkan instruksi resmi Khalifah itu, Ibnu Hazm minta bantuan dan menginstruksikan kepada Abu Bakar Muhammad Bin Muslim Bin Ubaidillah Bin Syihab az Zuhry (Ibnu Syihab Az Zuhry)-seorang ulama besar dan mufti Hijaz dan Syam- untuk turut membukukan hadits Rasulullah saw.
•         Setelah itu penulisan hadits pun marak dan dilakukan oleh banyak ulama abad ke-2 H, yang terkenal diantaranya :

a. Al-Muwaththa’, karya Imam Malik Bin Anas (95 H – 179 H).
b. Al Masghazy wal Siyar, hadits sirah nabawiyah karya Muhammad Ibn Ishaq (150 H).
c. Al Mushannaf, karya Sufyan Ibn ‘Uyainah (198 H)
d. Al Musnad, karya imam Abu Hanifah (150 H)
e. Al Musnad, karya imam Syafi’i (204 H)

e.       Periode Kelima (Masa Kodefikasi Hadis)
1. Periode Penyaringan hadits dari Fatwa-fatwa sahabat (abad ke-III H)
•         Menyaring hadits nabi dari fatwa-fatwa sahabat nabi
•         Masih tercampur baur hadits sahih, dhaif dan maudlu’ (palsu).
•         Pertengahan abad tiga baru disusun kaidah-kaidah penelitihan ke sahihan hadits.
•         Penyaringan hadits sahih oleh imam ahli hadits Ishaq Bin Rahawaih (guru Imam Bukhary).
•         Penyempurnaan kodifikasi ilmu hadits dan kaidah-kaidah pen sahihan suatu hadits.
•         Penyusunan kitab Sahih Bukhory
•         Penyusunan enam kitab induk hadits (kutubus sittah), yaitu kitab-kitab hadits yang diakui oleh jumhur ulama sebagai kitab-kitab hadits yang paling tinggi mutunya, sebagian masih mengandung hadits dhaif tapi ada yang dijelaskan oleh penulisnya dan dhaifnya pun yang tidak keterlaluan dhaifnya, ke enam kuttubus shittah itu adalah :
a. Sahih Bukhory
b. Sahih Muslim
c. Sunan Abu Dawud
d. Sunan An Nasay
e. Sunan At-Turmudzy
f. Sunan Ibnu Majah
2. Periode menghafal dan meng isnadkan hadits (abad ke-IV H)
•         Para ulama hadits berlomba-lomba menghafalkan hadits yang sudah tersusun pada kitab-kitab hadits.
•         Para ulama hadits mengadakan penelitian hadits-hadits yang tercantum pada kitab-kitab hadits.
•         Ulama hadits menyusun kitab-kitab hadits yang bukan termasuk kuttubus shittah.
3. Periode Klasifikasi dan Sistimasi Susunan Kitab-Kitab Hadits (abad ke-V H s.d 656 H, jatuhnya Baghdad)
•         Mengklasifikasikan hadits dan menghimpun hadits-hadits yang sejenis.
•         Menguraikan dengan luas (men syarah) kitab-kitab hadits.
•         Memberikan komentar (takhrij) kitab-kitab hadits.
•         Meringkas (ikhtisar) kitab-kitab hadits.
•         Menciptakan kamus hadits.
•         Mengumpulkan (jami’) hadits-hadits bukhory-Muslim
•         Mengumpulkan hadits targhib dan tarhib.
•         Menyusun kitab athraf, yaitu kitab yang hanya menyebut sebagian hadits kemudian mengumpulkan seluruh sanadnya, baik sanad kitab maupun sanad dari beberapa kitab.
•         Menyusun kitab istikhraj, yaitu mengambil sesuatu hadits dari sahih Bukhory Muslim umpamanya, lalu meriwayatkannya dengan sanad sendiri, yang lain dari sanad Bukhary atau Muslim karena tidak memperoleh sanad sendiri.
•         Menyusun kitab istidrak, yaitu mengumpulkan hadits-hadits yang memiliki syarat-syarat Bukhary dan Muslim atau syarat salah seorangnya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau di sahihkan oleh keduanya.
4. Periode Ke Enam (dari tahun 656 H sampai sekarang)
Mulai dari jatuhnya Baghdad oleh Hulagu Khan dari Mongol tahun 656 H – sekarang ini.
•         Menertibkan, menyaring dan menyusun kitab kitab takhrij.
•         Membuat kitab-kitab jami’
•         Menyusun kitab-kitab athraf
•        Menyusun kitab-kitab zawaid, yaitu mengumpulkan hadits-hadits yang tidak terdapat dalam kitab-kitab yang sebelumnbya kedalam sebuah kitab yang tertentu.


C.    Pembagian Ilmu Hadits
Para ulama telah membagi ulumul hadits menjadi dua. Yaitu ilmu hadits riwayah dan ilmu hadits dirayah.
a.      Ilmu Hadits Riwayah
Menurut Zhafar Ahmad ibn Lathif Al-Ustmani Al-Tahanawi di dalam Qawa’id fi ulum al hadis bahwa ilmu hadits yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan dan keadaan rasul SAW serta periwayatan, pencatatan dan penguraian lafaz-lafaznya. Berdasarkan defenisi tersebut dapat dipahami bahwa pada dasarnya ilmu hadits riwayah itu membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadits Nabi SAW. Objek kajian ilmu hadits riwayah meliputi 2 hal. Yang pertama cara periwayatan hadits yaitu cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaian dari seorang perawi kepada perawi lain. Yang kedua adalah cara pemeliharan hadits  yakni dalam bentuk penghafalan, penulisan dan pembukuan hadits tersebut.
Urgensi atau tujuan dalam ilmu hadits riwayah ini agar hadits itu tidak lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan periwayatannya. Sehingga hadits itu terpelihara kemurnian isi dan maknanya. Hal ini sejalan dengan perintah Allah SWT agar menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan ini.
b.      Ilmu Hadits Dirayah
Dalam ilmu hadits dirayah ini para ulama hadits memberikan defenisi yang bervariasi, namun kalau dicermati lagi tentang varian defenisi ini akan ditemukan kesamaan antara satu dan yang lainnya terutama dalam sasaran pendefenisiannya. Ibn al akfani mendefenisikan bahwa ilmu hadits dirayah adalahh ilmu yang bertujuan untuk mengetahui  hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya,keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Selain itu M. Hajjaj al khatib mendefenisikan bahwa ilmu hadits dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marawi dari segi diterima dan ditolaknya
Objek kajian ilmu hadits dirayah adalah dari segi persambungan sanad (ittishal al-sanad), yaitu bahwa suatu rangkaian sanad hadits haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan hadis tersebut. Oleh karenanya tidak dibenarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya atau tersamar. Dari segi keterpercayaan sanad (siqat al-sanad), yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat di dalam sanad suatu hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi hadisnya). Di segi keselamatannya terbebas dari kejanggalan (syadz), cacat (‘illat) dan tinggi dan rendahnya martabat suatu sanad.
Tujuan dan urgensi ilmu hadis dirayah adalah untuk mengetahui dan menetapkan hadis-hadis yang Maqbul (yang dapat diterima sebagai dalil atau untuk diamalkan) dan yang Mardud (yang ditolak).
Ilmu hadis dirayah inilah yang pada masa selanjutnya secara umum dikenal dengan Ulumul Hadis, Musthalahul Hadis, atau Ushul al-Hadis. Keseluruhan nama-nama di atas meskipun bervariasi, namun mempunyai arti dan tujuan yang sama, yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaanperawi (sanad) dan marwi (matan) suatu hadis, dari segi diterima dan ditolaknya.
Ulumul Hadis adalah istilah Ilmu Hadis di dalam tradisi Ulama` Hadis. (Arabnya: `Ulum al Hadits). `Ulum al Hadits terdiri atas dua kata, yaitu `Ulum dan al Hadits. Kata `Ulum dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari `Ilm, jadi berarti “ilmu-ilmu”; sedangkan al Hadits di kalangan Ulama` Hadis berarti “segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir, atau sifat.” Dengan demikian `Ulum Al Hadits mengandung pengertian “ilmu-ilmu yang membahas atau berkaitan dengan Hadis Nabi “.
Secara umum para Ulama` Hadis membagi Ilmu Hadis kepada dua bagian, yaitu Ilmu Hadis Riwayah (`Ilm al Hadits Riwayah) dan Ilmu Hadis Dirayah (`Ilm al Hadits Dirayah):
1. Pengertian Ilmu Hadis Riwayah
a.       Menurut Ibn al-Akfani, sebagaimana yang di kutip oleh Al-Suyuthi, yaitu:
Ilmu Hadis yang khusus berhubungan dengan riwayah adalah ilmu yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi SAW dan perbuatannya, pencatatannya, serta periwayatannya, dan penguraian lafaz-lafznya.
b.      Menurut Muhammad `Ajjaj al-Khathib, yaitu:
Ilmu yang membahas tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW, berupa perkataan, perbuatan, taqrir (ketetapan atau pengakuan), sifat jasmaniah, atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti dan terperinci.
c.       Menurut Zhafar Ahmad ibn lathif al-`Utsmani al-Tahanawi di dalam
      Qawa`id fi `Ulum al-Hadits, yaitu:
Ilmu Hadis yang khusus dengan riwayah adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan, perbuatan, dan keadaan Rosul SAW serta periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan Hadis Nabi SAW serta periwayatan, pencatatan, dan penguraian lafaz-lafaznya.
Dari ketiga definisi di atas dapat di pahami bahwa Ilmu Hadis Riwayah pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan, pemeliharaan, dan penulisan atau pembukuan hadis Nabi SAW.
Objek kajian Ilmu Hadis Riwayah adalah Hadis Nabi SAW dari segi periwayatannya dan pemeliharaannya. Hal tersebut mencakup:
   Cara periwayatan Hadis, baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara 
    penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi yang lainnya;
           Cara pemeliharaan Hadis, Yaitu dalam bentuk penghafalan, penulisan dan
                    pembukuannya.
Sedangkan tujuan dan urgensi ilmu ini adalah: pemeliharaan terhadap Hadis Nabi SAW agar tidak lenyap dan sia-sia, serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya.
    2.   Pengertian Ilmu Hadis Dirayah
Para ulama memberikan definisi yang bervariasi terhadap Ilmu Hadis Dirayah ini. Akan tertapi, apabila di cermati definisi-definisi yang mereka kemukakan, terdapat titik persamaan di antara satu dan yang lainnya, terutama dari segi sasaran kajian dan pokok bahasannya.
a.       Menurut ibnu al-Akfani, yaitu:
Dan ilmu hadis yang khusus tentang Dirayah adalah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui hakikat riwayat, syarat-syarat, macam-macam, dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, jenis yang diriwayatkan, dan segala sesuaatu yang berhubungan dengannya.
        b.      Imam al-Suyuti merupakan uraian dan elaborasi dari definisi diatas, yaitu:
Hakikat Riwayat adalah kegiatan periwayatan sunnah (Hadis) dan penyandarannya kepada orang yang meriwayatkannya dengan kalimat tahdits, yaitu perkataan seorang perawi “haddatsana fulan”, (telah menceritakan kepada kami si fulan), atau ikhbar, seperti perkataannya “akhbarana fulan”, (telah mengabarkan kepada kami si fulan).
Syarat-syarat Riwayat yaitu penerimaan para perawi terhadap apa yang di riwayatkan dengan menggunakan cara-cara tertentu dalam penerimaan riwayat (cara-cara tahammul al-Hadits), seperti sama` (perawi yang mendengar langsung bacaan Hadis dari seorang guru), qira`ah (murid membacakan catatan Hadis dari gurunyadi hadapan guru tersebut), ijazah (memberi izin kepada seseorang untuk meriwayatkan suatu hadis dari seorang Ulama` tanpa di bacakan sebelumnya), munawalah (menyerahkan suatu Hadis yang tertulis kepada seseorang untuk di riwayatkan), kitabah (menuliskan Hadis untuk seseorang), i`lam (memberi tahu seseorang bahwa Hadis-hadis tertentu adalah koleksinya),  washiyyat (mewasiat-kan kepada seseorang koleksi Hadis yang di milikinya), dan wajadah (mendapat-kan koleksi tertentu tentang Hadis dari seorang guru).
Macam-macam riwayat adalah seprti periwayatan muttashil (periwayatan yang bersambung mulai dari perawi pertama sampai kepada perawi yang terakhir), atau munqothi` (periwayatan yang terputus, baik di awal, di tengah atau di akhir), dan yang lainnya.
Hukum riwayat adalah al-qobul (di terimanya suatu riwayat karena telah memenuhi persyaratan tertentu), dan al-radd (ditolak, karena adanya persyaratan tertentu yang tidak terpenuhi).
Keadaan para perawi maksudnya adalah keadaan mereka dari segi keadilan mereka (al-`adalah) dan ketidakadilan mereka (al-jarh).
Syarat-syarat mereka yaitu syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seorang perawi ketika menerima riwayat (syarat-syarat pada tahammul) dan syarat ketika menyampaikan riwayat (syarat pada al-adda`).
Jenis yang diriwayatkan (ashnaf al-marwiyyat) adalah penulisan Hadis di dalam kitab al-musnad, al-mu`jam, atau al-ajza` dan lainnya dari jenis-jenis kitab yang menghimpun Hadis-hadis Nabi SAW.
        c.       M. `Ajjaj al-Khatib dengan definisi yang lebih ringkas dan komprehensif,
                         yaitu:
Ilmu Hadis Dirayah adalah kumpulan kaidah-kaidah dan masalah-masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi dari segi di terima atau ditolaknya.
Dengan urian sebagai berikut:
Al-rawi atau perawi adalah orang yang meriwayatkan atau menyampaikan Hadis dari satu orang kepada yang lainnya; Al-marwi adalah segala sesuatu yang diriwayatkan, yaitu sesuatu yang di sandarkan kepada Nabi SAW atau kepada yang lainnya seperti Sahabat atau Tabi`in; keadaan perawi dari segi diterima atau ditolaknya adalah mengetahui keadaan para perawi dari segi jarh dan ta`dil ketika tahammul dan adda` al-Hadits, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dalam kaitannya dengan periwayatan Hadis; keadaan marwi adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ittishal al-sanad (persambungan sanad) atau terputusnya, adanya `illat atau tidak, yang menentukan diterima atau ditolaknya suatu Hadis.
Objek kajian atau pokok bahasan Ilmu Hadis Dirayah ini, berdasarkan definisi diatas adalah sanad dan matan Hadis.
Pembahasan tentang sanad meliputi: (i) segi persambungan sanad (ittishal al-sanad), yaitu bahwa suatu rangkaian sanad Hadis haruslah bersambung mulai dari Sahabat sampai kepada periwayat terakhir yang menuliskan atau membukukan Hadis tersebut; oleh karenanya, tidak di benarkan suatu rangkaian sanad tersebut yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui idenatitasnya atau tersamar; (ii) segi keterpercayaan sanad (tsiqot al-sanad), yaitu bahwa setiap perawi yang terdapat didalam sanad suatu Hadis harus memiliki sifat adil dan dhabith (kuat dan cermat hafalan atau dokumentasi Hadisnya); (iii) segi keselamatannya dari kejanggalan (syadz); (iv)keselamatannya dari cacat (`illat); dan (v) tinggi dan rendahnya suatu sanad.
Sedangakan pembahasan mengenai matan adalah meliputi segi ke-shahih-an atau ke-dho`ifan-nya. Hal tersebut dapat terlihat melalui kesejalanannya dengan makna dan tujuan yang terkandung di dalam Al-Qur`an, atau keselamatannya: (i) dari kejanggalan redaksi (rakakat al-faz); (ii) dari cacat atau kejanggalan pada maknanya (fasd al-ma`na), karena bertentangan dengan akal dan panca indra, atau dengan kandungan dan makna Al-Qur`an, atau dengan fakta sejarah; dan (iii) dari kata-kata asing (gharib), yaitu kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal.
Tujuan dan urgensi Ilmu Hadis Dirayah adalah untuk mengetahui dan menetapkan Hadis-hadis yang Maqbul (yang dapat diterima sebagai dalil atau untuk di amalkan), dan yang mardud (yang ditolak).
Ilmu Hadis Dirayah inilah yang selanjutnya secara umum dikenal dengan Ulumul Hadis, Mushthalah al-Hadits, atau Ushul al-Hadits. Keseluruhan nama-nama diatas, meskipun bervariasi, namun mempunyai arti dan tujuan yang sama yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan perawi (sanad) dan marwi (matan) suatu Hadis, dari segi diterima dan di tolaknya.

2.    Cabang-cabang Ulumul Hadis

Diantara cabang-cabang besar yang tumbuh dari Ilmu Hadis Riwayah dan Dirayah ialah:
        a.    Ilmu Rijal al-Hadis
Yaitu ilmu yang membahas para perawi hadits, baik dari sahabat, dari tabi`in, mupun dari angkatan-angkatan sesudahnya. Hal yang terpenting di dalam ilmu Rijal al-Hadits adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut, meliputi masa kelahiran dan wafat mereka, negeri asal, negeri mana saja tokoh-tokoh itu mengembara dan dalam jangka berapa lama, kepada siapa saja mereka memperoleh hadis dan kepada siapa saja mereka menyampaikan Hadis. Ada beberapa istilah untuk menyebut ilmu yang mempelajari persoalan ini. Ada yang menyebut Ilmut Tarikh, ada yang menyebut Tarikh al-Ruwat, ada juga yang menyebutnya Ilmu Tarikh al-Ruwat.

        b.     Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dil
Yaitu Ilmu yang menerangkan tentang hal cacat-cacat yang dihadapkan kepada para perawi dan tentang penta`dilannya (memandang adil para perawi) dengan memakai kata-kata yang khusus dan tentang martabat-martabat kata-kata itu. Maksudnya al-Jarh (cacat) yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan “sifat jelek” yang melekat pada periwayat hadis seperti, pelupa, pembohong, dan sebagainya. Apabila sifat itu dapat dikemukakan maka dikatakan bahwa periwayat tesebut cacat. Hadis yang dibawa oleh periwayat seperti ini ditolak, dan hadisnya di nilai lemah (dha`if). Maksudnya al-Ta`dil (menilai adil kepada orang lain) yaitu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sifat baik yang melekat pada periwayat, seperti, kuat hafalan, terpercaya, cermat, dan lain sebagainya. Orang yang mendapat penilaian seperti ini disebut `adil, sehingga hadis yang di bawanya dapat di terima sebagai dalil agama. Hadisnya dinilai shahih. Sesuai dengan fungsinya sebagai suber ajaran Islam, maka yang diambil adalah hadis shahih.
        c.    Ilmu Fannil Mubhamat
Yaitu ilmu untuk mengetahui nama orang-orang yang tidak disebut di dalam matan atau di dalam sanad. Misalnya perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shahih Bukhory diterangkan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al `Asqollany dalam Hidayatus Sari Muqaddamah Fathul Bari.
        d.    Ilmu Mukhtalif al-Hadis
Yaitu ilmu yang membahas Hadis-hadis secara lahiriah bertentangan, namun ada kemungkinan dapat diterima dengan syarat. Mungkin dengan cara membatasi kemutlakan atau keumumannya dan lainnya, yang bisa disebut sebagai ilmu Talfiq al-Hadits.
        e.    Ilmu `Ilalil Hadits
Yaitu ilmu yang membahas tentang sebab-sebab tersembunyi yang dapat merusak keabsahan suatu Hadis. Misalnya memuttasilkan Hadis yang munqathi`, memarfu`kan Hadis yang mauquf, memasukkan suatu Hadis ke Hadis yang lain, dan sebagainya. Ilmu yang satu ini menentukan apakah suatu Hadis termasuk Hadis dla`if, bahkan mampu berperan amat penting yang dapat melemahkan suatu Hadis, sekalipun lahirnya Hadis tersebut seperti luput dari segala illat.
        f.      Ilmu Gharibul-Hadits
Yaitu ilmu yang membahas dan menjelaskan Hadis Rasulullah SAW yang sukar di ketahui dan di pahami orang banyak karena telah berbaur dengan bahasa lisan atau bahasa Arab pasar. Atau ilmu yang menerangkan makna kalimat yang terdapat dalam matan hadis yang sukar diketahui maknanya dan yang kurang terpakai oleh umum.
        g.    Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadis
Yaitu ilmu yang membahas Hadis-hadis yang bertentangan dan tidak mungkin di ambil jalan tengah. Hukum hadis yang satu menghapus (menasikh) hukum Hadis yang lain (mansukh). Yang datang dahulu disebut mansukh, dan yang muncul belakangan dinamakan nasikh. Nasikh inilah yang berlaku selanjutnya.
        h.    Ilmu Asbab Wurud al-Hadits (sebab-sebab munculnya Hadis)
Yaitu ilmu yang menerangkan sebab-sebab Nabi menuturkan sabdanya dan masa-masanya Nabi menuturkan itu. Seperti di dalam Al Qur`an dikenal adalah Ilmu Asbab al-nuzul, di dalam Ilmu hadis ada Ilmu Asbab wurud al-Hadits. Terkadang ada hadis yang apabila tidak di ketahui sebab turunnya, akan menimbulkan dampak yang tidak baik ketika hendak di amalkan.
        i.      Ilmu Mushthalah Ahli Hadits
Yaitu ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah yang di pakai oleh ahli-ahli Hadis.
3.    Pengertian, Pembagian, dan Contoh Hadits Shahih
Pengertian hadits shahih adalah sebuah hadits yang sanadnya bersambung dan diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah Serta tidak ada cacat atau kekurangan dalam hadits tersebut. Atau dalam istilah lain tidak termasuk hadits yang syadz dan mu’allal.
Dari pengertian ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kriteria hadits shahih adalah
a)      Tersambung sanadnya (ittisal as-sanad) artinya setiap hadits yang yang diriwayatkan oleh rowi  kerowi di atasnya sehingga sambung dalam penerimaan haditsnya kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, akan mengecualikan hadits yang munqoti’, muaddlol, mullaq dan mursal.


b)      Diriwayatkan oleh rawi yang tsiqah (‘adil dan dhabit)
Adil adalah sifat yang yang ada pada seseorang yang senantiasa mendorong untuk bertakwa dan menjaga kredibilitasnya. Ini terkait dengan dimensi moral spiritual.
Dlabit adalah sifat terpercaya, hafal di luar kepala, mengetahui arti hadits,dan   mampu untuk menceritakan setiap saat sesuai dengan redaksi saat ia menerima hadits. Dlabit sendiri dibagi menjadi tiga tingkatan:
Tingkat pertama ( al-darojah al-ulya) yang ada pada ‘adil dan dlobid
Tingkat kedua (al-darojah al-wustho) tingkatan yang ada di bawahnya
Tingkat ketiga (al-darojah al-dunya)  bawah tingkat kedua.
c)      Hadits yang diriwayatkan bukan termasuk kategori hadits yang syadz
d)      Hadits yang diriwayatkan harus terbebas dari illat (cacat) yang dapat menyebabkan kualitas hadits menjadi turun. .
Hadits shohih terbagi menjadi dua;
a)      Shohih lidzatihi adalah sebuah hadits ayng mancakup semua syarat hadits shohih dan tingkatan rowi berada pada tingkatan pertama. Contoh;
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
Sehingga apabila sebuah hadits telah ditelaah dan telah memenuhi syarat di atas, akan tetapi tingkatan perowi hadits berada pada tingkatan kedua maka hadits tersebut dinamakan hadits Hasan
b)      Shohih lighoirihi
Hadits ini dinamakan lighoirihi karena keshohihan hadits disebabkan oleh sesuatu yang lain. Dalam artian hadits yang tidak sampai pada pemenuhan syarat-syarat yang paling tinggi. Yakni dlobid seorang rowi tidak pada tingkatan pertama. Hadits jenis ini merupakan hadits hasan yang mempunyai beberapa penguat. Artinya kekurangan yang dimiliki oleh hadits ini dapat ditutupi dengan adanya bantuan hadits, dengan teks yang sama, yang diriwayatkan melalui jalur lain. Contoh hadits dari Muhammad bin Amr dari Abi Salamah dari Abi Hurairoh bahwa Nabi bersabda
لو لا أن أشق علي أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة
Letak hadits ini masuk pada kategori lighorihi. Menurut Ibnu Sholah memberi alasan  karena pada Muhammad bin Amr bin al-Qomah  termasuk orang yang lemah dalam hafalan,.kekuatan, ingatan dan juga kecerdasanya, Akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan jalur lain, yaitu oleh al A’raj bin Humuz dan sa’id al Maqbari maka bias dikategorikan shohih lighirihi.
4.    Cara mengukur keshohihan hadits..
Untuk mengetahui suatu hadits itu apakah shahih atau tidak, kita bisa melihat dari beberapa syarat yang telah tercantum dalam sub yang menerangkan hadits shahih. Apabila dalam syarat-syarat yang ada pada hadits shahih tidak terpenuhi, maka secara otomatis tingkat hadits itu akan turun dengan sendirinya. Semisal kita meneliti sebuah hadits, kemudian kita temukan salah satu dari perawi hadits tersebut dalam kualitas intelektualnya tidak sempurna. Dalam artian tingkat dlabidnya berada pada tingkat kedua (lihat tingkatan dlabid pada bab hadits shahih), maka dengan sendirinya hadits itu masuk dalam kategori hadits shahih lighoirihi. Dan apabila ada sebuah hadits yang setelah kita teliti kita tidak menemukan satu kelemahanpun dan tingkatan para perawi hadits juga menempati posisi yang pertama , maka hadits itu dikatakan sebagai hadits shahih lidatihi.
Untuk hadits shahih lighoirihi kita bisa merujuk pada ketentuan-ketentuan yang termuat dalam pengertian dan kriteria-kriteria hadits hasan lidatihi. Apabila hadits itu terdapat beberapa jalur maka hadist itu akan naik derajatnya menjadi hadits shahih lighoirihi. Dengan kata lain kita dapat menyimpulkan apabila ada hadits hasan akan tetapi hadits itu diriwayatkan oleh beberapa rawi dan melalui beberapa jalur, maka dapat kita katakana hadits tersebut adalah hadits shahih lighoirihi.
Adapun derajat hadist hasan sama dengan hadist shahih dalam segi kehujjahannya, sekalipun dari sisi kekuatannya berada di bawah hadist shahih. Oleh karena itu mayoritas Fuqaha, Muhaditsin dan Ushuliyyin (ahli Ushul) berpendapat bahwa hadist hasan tetap dijadikan sebagai hujjah dan boleh mengamalkannya.
Pendapat berbeda datang dari kelompok ulama Al-Mutasyaddidun (garis keras) yang menyatakan bahwa hadist hasan tidak ada, serta tidak dapat dijadikan hujjah. Sementara ulama Al-Mutasahilun (moderat) seperti al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah dll justru mancantumkannya ke dalam jenis hadist yang bisa  dijadikan sebagai hujjah walupun tingkatannya dibawah hadits sahih.
Sedangkan untuk hadits dhaif Ulama juga berbeda pendapat, yaitu :
•        Mutlak tidak bisa diamalkan baik yang terkait dengan hukum maupun Fadhail al A’mal, menurut Abu Hatim, Bukhori Muslim, dan Abu Bakr ibn al ‘Arabi.
•        Mutlak bisa di amalkan asalkan di tahrij oleh Abu dawud dan Ahmad ibn Hanbal.
•        Bisa diamalkan ketika terkait dengan Fadhailul a’mal, nasihat dan sebagainya.  Selain hukum.inipun harus dengan catatan apabila tidak sangat dha’if  dan harus bersamaan dengan riwayat pendukung.
5.    Peran At-Tabi’ dalam analisis kualitas Sanad
Sebelum kita mengetahui lebih jauh peran mutabi’ terhadap kualitas sebuah hadits. Sebaiknya kita terlebuh dahulu mengetahui apakah pengertian at tabi’. Mutabi’ merupakan isim fa’il taba’a yang berarti mengikuti. Sedangkan pengertian terminologinya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang berkapasitas sebagai al- mukhorij al- hadits. Di mana hadits itu sesuai dengan hadits yang yang diriwayatkan oleh perawinya. Sedangkan al-mukhorij itu meriwayatkan dari guru perawi pertama atau dari guru gurunya perawi. Pengertian lain mutabi’ adalah hadits yang rowinya itu ada kesesuaian dengan rowi lain yang berkapasitas sebagi mukharriij al hadits. Di mana rawi kedua meriwayatkan dari guru rawi pertama atau dari guru gurunya rawi pertama. Kesesuaian tadi bisa dalam ma’na, redaksi ataupun keduanya[8].
Posisi mutabi’ sangat berpengaruh terhadap kualitas sebuah hadits. Karena ketika ada sebuah hadits yang kurang dari segi sanad, sehingga tidak bisa dapat  dikategorikan sebagai hadits shohih maupun hadits hasan, maka ketika ditemukan hadits yang sama dari jalur lain, posisi hadits yang pertama bisa kuat dan naik menjadi hadits shohih lighoirihi atau hasan lighoirihi.. Contohnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Syafii dari Malik dari Abdullah bin Umar dari Ibn Umar dari Nabi
ألشهر تسع وعثرون فلا تصوم حتى  تروا ألهلال ولاتفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين يوما
Hadits ini dinilai ghorib karena diduga hanya diriwayatkan oleh Syafii dari Malik. Akan tetapi ditemukan hadits lain yang sama dan diriwayatkan dari Abdullah bin Maslamah al-Qo’nabi dengan jalur sanad yang sama.
6.    Analisis tentang perowi hadits yang shahih.
Imam Bukhari adalah seorang tokoh yang terkenal dengan kehebatanya dalam bidang hadits, sehinga apabila sebua hadits sebagai “riwayat Imām Bukhārī”, seolah mengindikasikan bahwa hadits itu tidak perlu ditinjau lagi keshahihannya.
Nama lengkap Imam Bukhari adalah  Abū ‘ Abdullāh Muḥammād bin’ Ismāil bin Ibrahīm bin al-Mugīrah bin Bardizbah al-Ju’fi  al-Bukhārī. Beliau lebih dikenal dengan nama al-Bukhari, hal ini disandarkan pada tempat kelahirannya yakni Bukhārā. Ia dilahirkan pada hari jumat, 13 Syawwāl 194 H (21 Juli 810 M) di Bukhara. Ia mengembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 30 Ramaḍān 256 H (31 Agustus 870 M) diusianya yang ke 62 tahun.[1]
Bukhari memiliki daya hapal tinggih sebagaimana yang diakui kakanya, Rāsyīd bin ‘Ismaīl. Sosok Bukhari kurus, tidak tinggih, tidak pendek, kulit agak kecoklatan, ramah, dermawan, dan banyak menyumbangkan hartanya untuk pendidikan.[2]
Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab ats-Tsiqāt, Ibnu Ḥibbān menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang bersifat syubhat (ragu-ragu) hukumnya terlebih lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan murid dari Imām Mālik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.
Disaat usianya belum mencapai sepuluh tahun, Imam Bukhari telah mulai belajar hadits dan sudah melakukan pengembaraan ke Balkha, Naisabur, Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Mesir, dan Syam. Jadi, tidaklah mengherankan apabila pada usianya yang belum genap 16 tahun ia tela berhasil menghafal matan sekalius perawi hadits dari beberapa kitab karangan Ibnu Mubarak dan Waqi’[3].
Tidak semua hadits yang beliau hafalkan kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah rawi (periwayat/pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqah (kuat). Menurut Ibnū Hajār al-Asqalānī, Bukhari menulis sebanyak 9.082 hadits dalam karya monumentalnya, al-Jami’ as-Ṣaḥiḥ yang dikenal dengan sebagai shahih bukhari.
Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para rawi, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang dilontarkan kepada rawi juga cukup halus, namun tajam. Kepada rawi yang sudah jelas kebohongannya, ia berkata, “perlu dipertimbankan”, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri hal itu.” Sementara kepada rawi yang haditnya tidak jelas, ia menyataka, “Haditsnya diingkari.” Bahkan, banyak meninggalkan rawi yang diragukan kejujurannya. Dia berkata, “saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadit-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan rawi, yang dalam pandangan saya perlu dipertbangkan”.  
Banyak ulama atau rawi yang ditemui sehinggah Imam Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebua hadits, mengecek keakuratan sebuah hadits, ia berkali-berkali mendatangi ulama atau rawi meskipun berada di kota atau negeri yang jauh.
Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Ẓuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
1.    Guru-guru beliau
Perjalanan panjangnya  kebeberapa daerah tersebut memungkinkannya untuk menemui beberapa ulama yang kemudian dijadikan guru dalam berbagai disiplin ilmu, utamanya dalam bidang hadts.  Diantara beberapa ulama yang kemudian menjadi gurunya ialah:
a.         Abū 'Aṣim An-Nabīl
b.         Makkī bin Ibrahīm
c.         Muḥammād bin 'Īsā bin Aṭ-Ṭabba'
d.         ‘Ubaidullāh bin Mūsā
e.         Muḥammād bin Salām Al-Baikandi
f.           Aḥmād bin Ḥambāl
g.         Isḥāq bin Manṣūr
h.         Khallād bin Yaḥyā bin Ṣafwan
i.           Ayyūb bin Sulaimān bin Bilāl
j.           Aḥmād bin Isykāb[4]
Dan masih banyak lagi

2.    Murid-murid beliau
     Beliau memiliki murid yang banyak dari setiap penjuru, namun yang dianggap paling populer adalah :
a.       Al-Imām Abū al-Ḥusain Muslīm bin al-Hajjāj an-Naisaburi (204-261), penulis kitab Ṣaḥīh Muslīm yang terkenal
b.      Al-Imām Abū 'Īsā At-Tirmīżi (210-279) penulis buku sunan At-Tirmīżi yang terkenal
c.       Al-Imām Ṣalīh bin Muḥammād (205-293)
d.      Al-Imām Abū Bakār bin Muḥammād bin Isḥāq bin Khuẓaimah (223-311), penulis buku Ṣaḥīh Ibnū Khuẓaimah.
e.       Al-Imām Abū Al-Faḍl Aḥmād bin Salamāh An-Naisaburi (286), teman dekat Imām Muslīm, dan dia juga memiliki buku shahih seperti buku Imām Muslīm.
f.       Al-Imām Muḥammād bin Naṣr Al-Marwāzi (202-294)
g.      Al-Ḥāfiẓ Abū Bakār bin Abī Dāwud Sulaimān bin Al-Asy'ats (230-316)
h.      Al-Ḥāfizh Abū Al-Qāsim ‘Abdullāh bin Muḥammād bin ‘Abdul 'Aziz Al-                Bagāwi (214-317)
i.        Al-Ḥāfiẓ Abū Al-Qāḍi Abū ‘Abdillāh Al-Ḥusain bin ‘Isma'il Al-Maḥāmili (235-330)
j.        Al-Imām Abū Isḥāq Ibrahīm bin Ma'qīl al-Nasafi (290)
k.      Al-Imām Abū Muḥammād Ḥammād bin Syakir al-Naswī (311)
l.        Al-Imām Abū ‘Abdillāh Muḥammād bin Yūsuf bin Maṭār al-Firabri (231-320)[5]
3.    Karya-karya beliau
a.      Al-Jāmi' al-Ṣaḥīh (Ṣaḥīh Bukhāri)
b.      Al-Adāb al-Mufrād.
c.       At-Tarīkh al-Ṣagīr.
d.      At-Tarīkh al-Awsaṭ.
e.       At-Tarīkh al-Kabīr.
f.        At-Tafsīr al-Kabīr.
g.      Al-Musnād al-Kabīr.
h.      Kitāb al-'Ilāl.
i.        Raf'ūl Yadain fī al-Ṣalāḥ.
j.        Birru al-Wālidain.
k.       Kitāb al-Asyribah.
l.        Al-Qirā`ah Khalfa al-Imām.
m.    Kitāb al-Ḍu'āfa.
n.      Usami al-Ṣaḥābah.
o.      Kitāb al-Kuna.
p.      Al-Ḥbbah
q.      Al-Wiḥdān
r.       Al-Fawa`id
s.       Qaḍāya al-Ṣaḥābah wa al-Tabī'in
t.        Masyīkhah

B.  Sejarah dan latar belakang penulisan kitab Shahih Bukhari
                                                   
Imam al-Bukhari memberi nama kitabnya  Al-Jāmi’ al-Musnad al-Shahih al-Mukhtṣar min umūri rasūlillāhi ṣallallāhu alahi wa sallām. Pemberian nama  al-Jāmi’ menunjukan bahwa kitab sahih ini tidak hanya menghimpun hadis-hadis dalam satu bidang keagamaan, tetapi banyak bidang keagamaan. Di samping itu penggunaan kata al-musnād al-ṣahīh mengindikasikan bahwa hadis-hadis di dalam kitab shahih ini adalah hadis-hadis yang memiliki sandaran yang kuat.
Meski sudah termasuk luar biasa dalam bidang hadits dan ilmu hadits, tampaknya Imam Bukhari tidak begitu saja membukukan hadits-hadits nabawi. Ada beberapa faktor yang mendorong untuk menulis kitab itu, yang menunjuknya bahwa penulisnya tidak mau berangkat dari kemauannya sendiri. Karenanya wajar apabila keikhlasan beliau menjadikan kitabnya sebagai rujukan yang paling otientik sesudah al-Qur'an. Sementara faktor-faktor itu ialah:

1.    Belum adanya kitab hadis yang khusus memuat hadis-hadis sahih yang mencakup berbagai bidang dan masalah.
Pada akhir masa tabiin di saat ulama sudah menyebar ke berbagai penjuru negeri, hadis-hadis Nabi sudah mulai di bukukan, orang pertama yang melakukan ini adalah al-Rabi’ bin Ṣabīh (w. 160 H), Saīd bin Abū Arubah (w. 156 H), yang mana metode penulisan mereka terbatas pada hal-hal tertentu saja, sampai pada akhirnya ulama berikutnya menulis hadis lebih lengkap, mereka menulis hadis-hadis hukum yang cukup luas meskipun tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabiin, dan tabi’ut al-tabiin, seperti: Imām Mālik, Ibnū Juraiz dan al-Auzai.
Kemudian pada abad ke dua ulama mulai menulis hadis secara tersendiri tanpa dicampuri fatwa-fatwa sahabat maupun tabiin, metode penulisannya berbentuk musnad dimana disebutkan terlebih dahulu nama sahabat kemudian hadis-hadis yang diriwayatkan. Ada pula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abū Bakār Syaibah. Namun demikian, kitab-kitab tersebut masih bercampur antara yang sahih, hasan dan daif.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Bukhari atas inisiatifnya dalam mengumpulkan hadis-hadis yang sahih saja yang tercover dalam al-Jāmi’ al-Ṣahīh.


2.    Dorongan sang guru
Terdorong atas saran salah seorang guru beliau yakni Isḥāq bin Rahawaih, Imam al-Bukhari mengatakan” ketika aku berada di kediaman Ishaq, beliau menyarankan agar aku menulis kitab yang singkat yang hanya memuat hadis-hadis sahih Rasulullah saw. Imam al-bukhari menjelaskan hubungan antara permintaan gurunya dan penyusunan kitab Sahihnya:
 فوقع في قلبي في جمع الجامع الصحيح
“Maka terbesit dalam hatiku, maka mulai saya mengumpulkan al-Jami’ al-Shahih”

3.    Dorongan hati
Diriwayatkan Muḥammād bin Sulaimān bin Faris, Bukhari berkata” aku bermimpi bertemu Rasulullah saw. aku berdiri di hadapannya sambil mengipasinya kemudian aku datang pada ahli ta’bir mimpi untuk menanyakan maksud dari mimpi itu”, ahli ta’bir itu mengatakan bahwa “anda akan membersihkan kebohongan-kebohongan yang dilontarkan pada Rasulullah saw.
Dan untuk ini, imam al-Bukhari mencari karya-karya pada masanya dan sebelumnya guna memilah dan memilih hadis yanng sahih penyandarannya kepada Rasulullah saw.

C.  Metodologi  Dan Sistematika Penulisan Kitab Shahih Bukhari
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imām Aḥmād, Imām Muslīm, Abū Dāwud, Tirmīżi, An-Nasai, dan Ibnu Mājah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
Dengan usaha kerasnya dalam mengumpulkan dan meneliti hadits guna memastikan keshahihannya, akhirnya tersusunlah sebua kitab hadits sebagaimana yang dikenal pada saat ini. Usaha kerasnya ini tergambar dalam sebua pernyataan Imam Bukhari sendiri, “Aku menyesun kitab Al-Jami’ al-Musnad as-Shahih ini selama 16 tahun. Ia merupakan hasil seleksi dari 600.000 buah hadits.
Untuk memastikan keshahihan sebua hadits dalam menyusun kitab ini, Imam bukhari tidak hanya berusah secara fisik, tetapi juga melibatkan nonfisik. Salah seorang muridnya yang bernama al-Firbari menyatakan bahwa ia pernah mendengar Imam Bukhari berkata, “Aku menyusun al-Jami’ al-Musnad as-Shahih ini di Masjidil Haram. Aku tidak memasukkan sebua hadits pun kedalam kitab itu sebelum aku shalat istikhara dua rakaat. Setelah itu, aku baru betul-betul merasa yakin bahwa hadits tersebut adalah hadits shahih.
Kitab hadits karya Imam Bukhari disusun dengan pembagian beberapa judul. Judul-judul tersebut dikenal dengan istilah “Kitāb”. Jumlah judul (kitab) yang terdapat di dalamnya adalah 97 kitab. Setiap kitab dibagi menjadi beberapa subjudul yang dikenal dengan istilah “bab”. Jumlah total babnya adalah 4550 bab, yang dimulai dengan kitab bad’u al-waḥy, dan disusul dengan kitāb al-Imān, kitāb al-‘Ilm, kitāb al-Wadu’, dan sterunya.
Ibnu Ṣalāḥ dalam mukaddimahnya menyebutkan bahwa jumlah hadits dalam Shahih al-Bukhari sebanyak dalam muqaddimah-nya menyebutkan bahwa jumlah hadits dalam Shahih al-Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutkan secarah berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Muḥyiddīn an-Nawawi dalam kitabnya at-Taqrīb.
Selain pendapat diatas, Ibnu Hajar dalam muqaddimah-nya Fatḥul Bārī, syaraḥ Ṣaḥīh al-Bukhāri, menjelaskan bahwa jumlah hadists Shahih dalam Shahih al-Bukhari yang sanadnya bersambung (mauṣūl) adalah 2.602 hadits tanpa pengulangan. Adapun jumlah hadits yang sanadnya tidak diwasalkan (tidak disebutkan secarah bersambung) adalah 159 hadits. Semua hadits dalam Shahih al-Bukhari, termasuk hadits yang disebut secara berulang, adalah sebanyak 7.397 hadits. Jumlah ini diluar hadits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dan tabiin dan ulama-ulama sesudahnya.
Berikut ini kami sajikan kitab-kitab (judul-judul) yang terkandung dalam Ṣhaḥiḥ al-Bukhārī.
1.        Kitab tentang permulaan turunnya wahyu
2.        Kiyab tentang iman
3.        Kitab tentang ilmu
4.        Kitab tentang wudhu
5.        Kitab tentang mandi
6.        Kitab tentang haid
7.        Kitab tentang tayammum
8.        Kitab tentang shalat
9.        Kitab tentang waktu-waktu shalat
10.    Kitab tentang azan
11.    Kitab tentang shalat jumat
12.    Kitab tentang jenazah
13.    Kitab tentang zakat
14.    Kitab tentang haji
15.    Kitab tentang puasa
16.    Kitab tentang shalat tarwih
17.    Kitab tentang i’tikaf
18.    Kitab tentang jual beli
19.    Kitab tentang akad pesanan (salam)
20.    Kitab Syuf’ah (hak membeli terlebih dahulu)
21.    Kitab tentang sewa-menyewa
22.    Kitab tentang pengalihan utang
23.    Kitab tentang perwakilan
24.    Kiab tentang perkongsian dalam pertanian
25.    Kitab tentang perkongsian dalam penyiraman tanaman (al-Musāqah)
26.    Kitab tentang utang-piutang
27.    Kitab tentang perselisishan
28.    Kitab tentang barang temuan
29.    Kitab tentang kezaliman dan gasab
30.    Kitab tentang kongsi
31.    Kitab tentang gadai
32.    Kitab tentang memerdekakan budak
33.    Kitab tentang hibah
34.    Kitab tentang persaksian
35.    Kitab tentang perdamaian
36.    Kitab tentang syarat-syarat
37.    Kitab tentang wasiat
38.    Kitab tentang jihad
39.    Kitab tentang mendapat bagian seperlima
40.    Kitab tentang jizyah (pajak)
41.    Kitab tentang permulaan pencipaan mahkluk
42.    Kitab tentang para nabi
43.    Kitab tentang manakib (biografi)
44.    Kitab tentang peperangan
45.    Kitab tentang tafsir al-Quran
46.    Kitab tentang keutamaan al-Quran
47.    Kitab tentang pernikahan
48.    Kitab tentang perceraian
49.    Kitab tentang nafkah
50.    Kitab tentang makanan
51.    Kitab tentang akikah
52.    Kitab tentang sembelihan dan perburuan hewan
53.    Kitab tentang kurban
54.    Kita tentang minuman
55.    Kitab tentang orang sakit
56.    Kitab tentang pengobatan
57.    Kitab tentang busana
58.    Kitab tentang adab
59.    Kitab tentang meminta izin
60.    Kitab tentang doa-doa
61.    Kitab ar-Riqāq (pelbagai hal yang melembutkan hati)
62.    Kitab tentang takdir
63.    Kitab tentang sumpah dan nazar
64.    Kitab tentang tebusan sumpah
65.    Kitab tentang waris
66.    Kitab tentang hudud
67.    Kitab tentan denda
68.    Kitab tentang taubat orang-orang yang murtad dan membangkan
69.    Kitab tentang pemaksaan
70.    Kitab tentang ḥilah (rekayasa hukum)
71.    Kitab tentang mimpi
72.    Kitab tentang fitnah
73.    Kitab tentang hukum-hukum
74.    Kitab tentang at-Tamannī (harapan)
75.    Kitab tentang khabar dari satu perawi
76.    Kitab tentang berpegang teguh pada al-Quran dan sunnah
77.    Kitab tentang tauhid
            Perlu diketahui bahwa dalam kitab Shahih al-Bukhari ada sejulah hadits yang tidak dimuat dalam bab. Ada juga sejumlah bab yang berisi banyak hadits, tetapi ada pula yang hanya berisi segelintir hadits. Di tempat terpisah, ada pula bab yang hanya berisi ayat-ayat al-Quran tanpa disertai hadits, bahkan ada pula yang kosong tanpa isi hadits.
Imam al-Bukhari tidak menjelaskan kriteria kritik hadisnya, tetapi para ulama melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang ada di dalam kitab shahih dan menyimpulkan bahwa kriteria yang digunakannya sangat ketat.  Imam al-Bukhari menggunakan kriteria kesahihan hadis seperti ittishal sanad, ‘adalah, ḍabit, terhindar dari syāż dan ‘illāt. Tetapi, untuk ittishal sanad imam Bukhari menggunakan kriteria dapat dipastikan liqa’ dan mu’asharah. Di samping itu, rawi-rawi dari kalangan murid al-Zhuhri yang digunakan adalah rawi-rawi yang fāqih, artinya rawi-rawi yang memiliki ‘adalah dan dhabit dan lama menyertai Imam al-Zhuhri.
Metode dan sistematika penulisannya adalah :
1.        Mengulangi Hadis jika diperlukan dan memasukkan ayat-ayat Al-Quran;
2.        Memasukkan fatwa sahabat dan tabi’in sebagai penjelas terhadap Hadis yang 
        ia kemukakan;
3.        Menta’liqkan (menghilangkan sanad) pada Hadis yang diulang karena pada
        tempat lain sudah ada sanadnya yang bersambung;
4.        Menerapkan prinsip-prinsip al-jarḥ wa at-ta’dīl;
5.        Mempergunakan berbagai sigat tahammul;
6.        Disusun berdasar tertib fiqih.

 Adapun teknik penulisan yang digunakan adalah:
1.        Memulainya dengan menerangkan wahyu, karena ia adalah dasar segala syari’at;
2.        Kitabnya tersusun dari berbagai tema;
3.        Setiap tema berisi topik-topik ;
4.        Pengulangan Hadis disesuaikan dengan topik yang dikehendaki tatkala
        mengistinbatkan hukum.

D.   Kitab-kitab Syarah Sahih Bukhari
            Sejumlah ulama telah menulis kitab-kitab syarah terhadap kitab-kitab Hadis standard, termasuk kitab syarah terhadap Sahih al-Bukhari.  Al-‘Azami menyebutkan bahwa ratusan kitab syarah telah ditulis, bahkan ada di antaranya yang mencapai lebih dari 25 jilid.
Diantara kitab syarah dari Sahih Bukhari  ini, maka yang terbaik menurut Al-‘Azami adalah:
1.    Kitāb Fatḥ  al-Bāriy  fī  Syarh  Ṣahīh al-Bukhāri, oleh Ibnu Hajār al-Asqalānī (773-852 H).  Kitab ini terdiri dari 13 jilid ditambah satu jilid Muqaddimah-nya;
2.    Kitāb ‘Umdat al-Qāri, oleh Badr al-Dīn Maḥmūd Ibn Aḥmād Ibn Mūsā al-Qahiri al-‘Aini al-Ḥanafi (762-885 H).
3.    Kitāb Irsyād al-Sair, oleh Qasṭallanī (w. 923 H).

E.  Penilaian Ulama terhadap Sahih Bukhari
Telah menjadi kesepakatan ulama dan umat Islam bahwa kitab Sahih al-Bukhari adalah kitab yang paling otentik dan menduduki tempat terhormat setelah Alquran. Diantara para ulama yang  mengemukakan demikian adalah Ibnu Ṣalāḥ, beliau mengemukakan, kitab yang paling otentik sesudah Al-Quran adalah Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Akan tetapi sebahagian kecil dari ulama, seperti Abū ‘Ali al-Naisaburi, Abū Muḥammād ibn Hazm al-Zahiri dan sebahagian ulama Maghribi mengunggulkan Sahih Muslim daripada Sahih Bukhari, yaitu alasan keunggulan Sahih Bukhari dari Sahih Muslim adalah pada keunggulan pribadi Imam Bukhari dari Imam Muslim, dan ketaatan Bukhari dalam memilih perawi dari pada muslim. Sementara alasan keunggulan Sahih Muslim daripada Sahih Bukhari lebih difokuskan kepada metode dan sistematika penyusunannya, dimana Sahih Muslim lebih baik dan lebih teratur sistematikanya dibandingkan Sahih Bukhari.
Meskipun dinilai paling otentik setelah Alqur’an dan menduduki tempat terhormat, kitab Sahih Bukhari tetaplah buah karya manusia yang tidak pernah luput dari kritik. Sahih Bukhari mendapat kritik, baik dari segi sanad maupun matannya, baik dikalangan ulama sendiri maupun orang non Muslim.
Daruqutni dan Abū ‘Ali al-Gassāni dari ulama masa lalu, menilai bahwa sebagian Hadis-hadis Bukhari adalah da’if  karena adanya sanad yang terputus dan dinilai dari segi ilmu Hadis sangat lunak. Daruquthni dalam kitabnya Al-Istidarakat mengkritik ada 200 buah Hadis dalam Sahih  Bukhari dan Sahih Muslim. Menurut Imam Nawawi kritikan itu barawal dari tuduhan bahwa dalam Hadis-hadis tersebut Bukhari tidak menepati dan memenuhi persyaratan yang ia tetapkan. Kritik Daruqutni berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sejumlah ahli Hadis yang justru dinilai dari segi ilmu Hadis sangat lunak, karena berlawanan dengan kriteria jumhur ulama. Sementara Daruqutni menyoroti sanad dalam arti rangkaian perawi Hadis, para ahli lain menyoroti pribadi perawinya. Dari kajian tentang sanad, Daruqutni mendapatkan adanya sanad yang terputus, karenanya Hadis itu dinilai da’if. Namun, Setelah diteliti ternyata Hadis yang dituduh Mursal itu terdapat diriwayat lain, sementara riwayat yang terdapat dalam Sahih  Bukhari tidak terputus. Pencantuman sanad yang mursal itu dimaksudkan sebagai pembuktian bahwa Hadis tersebut diriwayatkan pula oleh penulis Hadis lain dengan sanad yang lain juga. Periwayatan semacam ini dalam ilmu Hadis disebut Ḥadīṣ syahīd atau Ḥadīṣ muttabi’.
Sebagian ahli Hadis lain berpendapat ada beberapa perawi dalam Sahih ini tidak memenuhi syarat untuk diterima Hadisnya. Ibn Hajar membantah pendapat ini, tidak dapat diterima kecuali perawi-perawi itu terbukti jelas mempunyai sifat-sifat atau hal-hal yang yang menyebabkan Hadisnya ditolak. Setelah diteliti ternyata tidak ada satu perawi pun yang mempunyai sifat-sifat dan perbuatan seperti itu. Syeikh Aḥmād Syakir berkomentar, seluruh Hadis Bukhari adalah sahih. Kritik Daruqutni dan lainnya hanya karena beberapa Hadis yang ada tidak memenuhi persyaratan mereka. Namun, apabila Hadis-hadis itu dikembalikan kepada persyaratan ahli Hadis pada umumnya, semuanya sahih.
Selain pendapat tersebut di atas, kaum orientalis, seperti Ignaz Goldziher, A.J. Wensik dan Maurice Bucaille, turut juga mengajukan kritik, yang kemudian dikenal dengan kritik matan Hadis. Menurut mereka, para ahli Hadis terdahulu hanya mengkritik Hadis dari sanad atau perawi saja, sehingga banyak Hadis yang terdapat dalam sahih Bukhari yang kemudian hari ternyata tidak sahih ditinjau dari segi sosial, politik, sains dan lain-lain. Di antara Hadis yang dikritik itu adalah Hadis yang berasal dari al-Zuhri, bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “ tidak diperintahkan pergi kecuali menuju tiga mesjid, yaitu Mesjid al-Haram, Mesjid Rasul, dan Mesjid al-Aqsa”. Hadis ini menurut Goldziher adalah Hadis palsu yang sengaja dibuat al-Zuhri untuk kepentingan politik semata. Sedangkan Hadis tentang “lalat masuk air minum”, “demam berasal dari neraka”, dan “perkembangan embrio” dikritik Maurice Bucaille karena isinya bertentangan dengan sains.
Ulama kontemporer, seperti Aḥmād Amin dan Muḥammād al-Ghazali, juga mengajukan kritik terhadap Hadis Bukhari. Aḥmād Amin mengatakan, meskipun Bukhari tinggi reputasinya dan cermat pemikirannya, tetapi dia masih menetapkan Hadis-hadis yang tidak sahih ditinjau dari segi perkembangan zaman dan penemuan ilmiah, karena penelitiannya terbatas pada kritik sanad saja. Di antara Hadis yang dikritiknya adalah tentang “ seratus tahun lagi tidak ada orang yang masih hidup di atas bumi”. Dan “ Barang siapa makan tujuh kurma ajwah setiap hari, ia akan selamat dari racun maupun sihir pada hari itu sampai malam”.
Muḥammad al-Ghazali menyatakan apabila suatu Hadis bertentangan dengan sains, Hadis itu harus ditolak meskipun ia terdapat dalam sahih Bukhari, sebab menurutnya, Imam Bukhari itu bukan seorang yang ma’sum. Seperti Hadis tentang “Seandainya tidak ada Bani Israil, makanan dan daging tidak akan busuk” adalah Hadis da’if karena tidak sesuai dengan sains.
Kritik-kritik dari kaum orientalis dan ulama kontemporer tersebut telah mendorong lahirnya para pembela Imam Bukhari untuk menyanggah kritik-kritikan tersebut seperti Muḥammad Mustafa ‘Azami dan Mustafa al-Siba’i dengan sanggahan itu membuat semakin menambah kualitas Sahih al-Bukhari dan mendorong munculnya ulama  Hadis sesudah al-Bukhari untuk membuat syarah maupun ikhtisar kitab Sahih ini, dan membuat jawaban yang lebih luas dan mendalam terhadap kritik-kritik ini.

F.   Kelebihan Dan Kekurangan Kitab Shahih Bukhari
Kitab Shahih Bukhori adalah kitab hadis yang paling shahih,pendapat ini disetujui oleh mayoritas ulama’hadis.Meskipun termasuk kitab hadis yang paling shahih, kitab ini tidak luput dari kekurangan.Tapi kelemahan ini bisa ditutupi oleh kelebihannya.Dibawah ini akan dikemukakan kelebihan dsan kekurangan dari kitab shahih bukhari.
1.    Kelebihan Shahih Bukhari
Banyak Sekali kelebihan dari kitab Shahih Bukhari,diantaranya:
a.       Terdapat pengambila hukum fiqih
b.      Perawinya lebih terpecaya
c.       Memuat beberapa hikmah
d.      Banyak memberikan faedah,manfaat dan pengetahuan
e.       Hadis-hadis dalam Shahih Bukhori terjamin keshahihannya karena Imam Bukhari mensyaratkan perowi haruslah sejaman dan mendengar langsung dari rawi yang diambil hadis darinya.
Difahamkan dalam perkataannya Al-Musnad bahwa Al-Bukhari tidak memasukkan kedalam kitabnya selain dari pada hadis-hadis yang bersambung-sambung sanadnya melalui para sahabat sampai kepada Rasul, baik perkataan, perbuatan, ataupun taqrir. Al-Bukhari tidak saja mengharuskan perawi semasa dengan Marwi ‘Anhu (orang yang diriwayatkan hadis dari padanya) bahkan Al-Bukhari mengharuskan ad perjumpaan antara kedua mereka walaupun sekali. Karena inilah para ulama mengatakan bahwa Al-Bukhari mempunyai dua syarat: Syarat mu’asarah: semasa dan syarat liqa’ : ada perjumpaan.
Maka dengan berkumpul syarat-syarat ini, para imam hadis menilai shahih Al-Bukhari dengan kitab yang paling shahih dalam bidang hadis. Bahkan dia dipandang kitab yang paling shahih sesudah Al-Quran dan dipandang bahwa segala haids yang muttassil lagi marfu’, yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, shahih adanya.
2.    Kelemahan Shahih Bukhari
Kitab Shahih Bukhari memuat hadis Aisyah mengenai kasus tersihirnya Nabi yang dilakukan oleh Labib bin A’syam. Menerima hadis tentang tersihirnya Nabi jelas membahayakan prinsip kemaksuman Nabi. Selain itu, dengan menerima hadis tersebut berarti kita ikut membenarkan tuduhan orang-orang kafir bahwa beliau adalah seorang Nabi yang terkena pengaruh sihir, padahal tuduhan tersebut telah disanggah oleh Allah swt.
Adapun kekurangan yang lain dari kitab shahih bukhari yaitu bahwa kitab Shahih Bukhori tidak memuat semua hadis shahih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhori.
6. Contoh Kitab yang Berhubungan dengan Cabang-cabang Ulumul Hadis.
a.       Ilmu Rijal al-Hadis
    1.      Kitab yang disusun berdasarkan generasi (thabaqot)
    -         Kitab Al-Thabaqot al-Kubra, karya Abu abdillah ibn Sa`ad Katib al-Waqidi (168-230 H)
    -         Thobaqot al-Riwayat, karya Khalifah ibn Khayyath al-`Ushfuri (w. 240 H)
    -         Kitab Tadzkirat al-Huffazh, karya Muhammad ibn Ahmad al-Dzahabi (w. 746 H/1348 M).
    2.      Kitab yang disusun secara umum berdasarkan huruf abjad agar mudah menggunakannya, seperti  Al-Tarikh al-Kabir, karya Al-Imam Muhammad ibn Isma`il al-Bukhari (194-256 H).
    3.      Kitab yang membahas biografi para sahabat Nabi, seperti:
    -         Al-Isti`ab fi Ma`rifat al-Ashab, karya Ibn `Abdil Barr (w. 463 H/1071 M). yang memuat biografi tidak kurang dari 3500 orang sahabat.
    -         Usud al-Ghabah fi Ma`rifat al-Shahabah, karya `Izzuddin ibnul Atsir (w. 630 H/1232 M). yang memuat biografi sebanyak 7554 orang sahabat.
    4.      Kitab yang membicarakan para periwayat enam kitab (Shahih al-Bukhori, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan al-Turmudzi, Sunan al-Nasa`I, Sunan Ibn Majah) antara lain, Al-Kamal fi Asma al-Rijal, karya `Abdul Ghani al-Maqdisi (w. 600 H/1202 M).
b.      Ilmu al-Jarh wa al-Ta`dil
Kitab-kitab yang disusun mengenai  Jarh dan Ta`dil, ada beberapa macam yaitu:
    1.      Kitab yang melengkapi orang-orang kepercayaan dan orang-orang lemah, seperti Kitab Thobaqot Muhammad ibn Sa`ad Az Zuhry Al Bashory (230 H).
    2.      Kitab yang menerangkan orang-orang yang dapat di percaya saja, seperti Kitab Ats Tsiqot, karangan Al `Ajaly (261 H) dan kitab Ats Tsiqot, karangan Abu Hatim ibn Hibban Al Busty.
    3.      Kitab yang menerangkan tingkatan penghafal-penghafal Hadis, seperti kitab karangan Ibnu Hajar Al `Asqolany dan As Sayuthy.
    4.      Kitab yang menerangkan orang-orang yang lemah-lemah saja, seperti Kitab Adl Dlu`afa karangan Al Bukhary dan Kitab Adl Dlu`afa karangan Ibnul Jauzy (597 H).
c.       Ilmu Fannil Mubhamat
    -         Kitab susunan Al Khatib Al Baghdady, yang kemudian kitab tersebut diringkas dan di bersihkan oleh An Nawawy dalam Kitab Al Isyarat ila bayani Asmail Mubhamat.
d.      Ilmu Mukhtalif al-Hadis
    -         Kitab Ikhtilaf al-Hadits, karangan Imam al-Syafi`i (150-204 H).
    -         Kitab Ta`wil Mukhtalif al-Hadits, karangan `Abdullah ibn Muslim ibn Qutaibah al-Danuri (213-276 H).
    -         Kitab Musykilul Atsar, karangan Al-Imam Abu Ja`far ibn Muhammad al-Thahawi (239-321 H).
    -         Kitab Musykil al-Hadits wa Bayanuhu, karangan Al-Imam Abu Bakr Muhammad ibn al-Hasan (w. 406 H).
e.       Ilmu `Ilalil Hadits
    -         Kitab Ilalil Hadits karangan Ibnu al-Madani (234 H), Imam Muslim (261 H), Ibn Abu Hatim (237 H), Ali bin Umar Daruquthni (375 H), Muhammad bin Abdullah al-Hakim (405 H), dan Ibn al-Jauzi (597 H).
f.        Ilmu Gharibul-Hadits
    -         Kitab Al-Fa`iq fi Ghorib al-Hadits, karangan Zamakhsari.
    -         Kitab Al-Nihayat fi Ghorib al-Hadits wal-Atsar, karangan Ibn al-Atsir (606 H).
    -         Kitab Al-Dar al-Natsir, Talkhis Nihayah Ibnal Atsir, karangan As-Suyuthi.
g.       Ilmu Nasikh dan Mansukh Hadis
    -         Kitab Nasikh wal Mansukh , karangan Ahmad bin Ishak ad-Dinari (318 H), Muhamad bin Bahr al-Ashbahani (322 H), Wahbatullah bin Salamah (410 H).
    -         Kitab Al-I`tibar fi al nasikh wa al-Mansukh min al-Atsar, karangan Abu Bakr Muhammad ibn Musa al-Hazimi al-Hamdzani (584 H).
h.       Ilmu Asbab Wurud al-Hadits
    -  $3B       Kitab karangan Abu Hafsh al-Akbari (380-456 H).
    -         Kitab Al-Bayan wa al-Ta`rif fi Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif, karangan Ibn Hamzahal Husaini al-Dimasyqi (1054-1120 H).
i.         Ilmu Mushthalah Ahli Hadits
    -         Kitab Taujihun Nadhar fi Ushulil Atsar, karangan asy Syaikh Thahir Al Jaza-iry.
    -         Kitab Qawa`idul Tahdiets, karangan Allamah Jamaluddien Al Qasimy.
7. Pembagian Hadits Ghairu Masyhur
Sebagaimana dipaparkan dalam pendahuluan, bahwa hadits ghairu masyhur terbagi menjadi dua; hadits ‘aziz dan hadits gharib.
A. HADITS ‘AZIZ
1. Definisi Hadits ‘Aziz
Secara bahasa, kata ‘aziz adalah bentuk derivasi (tashrif) dari ‘azza ya’izzu yang berarti sedikit atau jarang. Atau juga bisa diambil dari kata ‘azza ya’azzu yang berarti kuat atau sangat. Disebut hadits ‘aziz bisa jadi karena jumlah hadits ini yang cukup sedikit dan jarang, atau karena hadits tersebut bisa menjadi kuat dengan diriwayatkan minimal oleh dua orang periwayat saja.
Secara definitif, hadits ‘aziz adalah:
أَنْ لَا يَقِلَّ رُوَاتُهُ عَنِ اثْنَيْنِ فِيْ جَمِيْعِ طَبَقَاتِ السَّنَدِ
Hadits yang pada semua thabaqah sanadnya tidak kurang dari dua orang perawi.
Definisi diatas menunjukkan bahwa pada tiap tingkatan sanad hadits ‘aziz tidak kurang dari dua orang periwayat. Karena itu, jika pada salah satu tingkatan sanadnya terdapat tiga orang periwayat atau lebih, maka tetap dinamakan hadits ‘aziz.
Menurut Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, hadits ‘aziz adalah:
وَهُوَ مَا اِنْفَرَدَ بِرِوَايَتِهِ عَنْ رَاوِيْهِ اثْنَانِ فَلَا يَرْوِيْهِ أَقَلُّ مِنَ اثْنَيْنِ عَنِ اثْنَيْنِ
Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang periwayat sehingga tidak diriwayatkan oleh kurang dari dua orang periwayat dari dua orang periwayat.
Dalam pendefinisian yang lain disebutkan:
الْخَبَرُ الَّذِيْ يَرْوِيْهِ جَمَاعَةٌ عَنْ جَمَاعَةٍ غَيْرَ أَنَّ عَدَدَهَا فِيْ بَعْضِ الطَّبَقَاتِ يَكُوْنُ اثْنَيْنِ فَقَطْ
Hadits yang diriwayatkan oleh segolongan rawi dari segolongan rawi yang terdiri atas dua orang saja.
Dengan memperhatikan definisi di atas yang disebut hadits ‘aziz itu bukan saja hadits yang hanya diriwayatkan oleh dua orang rawi pada setiap thabaqah-nya, tetapi selama pada salah satu thabaqah didapati dua orang rawi, hadits tersebut juga dinamakan hadits ‘aziz. Oleh karena itu, Ibn Hibban beranggapan bahwa periwayatan oleh dua orang dari dua orang – dari awal hingga akhir sanad – sama sekali tidak dapat kita jumpai.
2. Beberapa Contoh Hadits ‘Aziz
Berikut ini adalah contoh hadits ‘aziz:
•    Hadits ‘aziz pada thabaqah pertama:
نَحْنُ الْأٰخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Kami adalah orang-orang terakhir di dunia, dan terdahulu pada hari kiamat.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh dua orang sahabat, yakni Hudzaifah bin al-Yaman dan Abu Hurairah (thabaqah pertama). Hadits tersebut pada thabaqah kedua sudah menjadi masyhur sebab melalui periwayatan Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan oleh tujuh orang, yaitu Abu Salamah, Abu Hazim, Thawus, al-‘Araj, Abu Shalih, Humam, dan Abdurrahman.
•    Hadits ‘aziz pada thabaqah kedua:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتّٰى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
Tidak beriman salah seorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tua, anaknya, dan manusia semuanya.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh dua orang sahabat, yaitu Anas dan Abu Hurairah (thabaqah pertama), dari Anas diriwayatkan oleh dua orang, yaitu Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib (thabaqah kedua), dari Shuhaib diriwayatkan dua orang, yaitu Isma’il bin Ulaiyah dan Abdul Warits bin Sa’id (thabaqah ketiga), dan dari masing-masing diriwayatkan oleh jama’ah. Sanad hadits di atas dapat digambarkan dalam bagan berikut:

3. Hukum Hadits ‘Aziz
Hukum hadits ‘aziz adakalanya shahih, hasan, dan dha’if tergantung persyaratan yang terpenuhi, apakah memenuhi seluruh kriteria persyaratan hadits shahih atau tidak. Jika memenuhi segala persyaratannya berarti berkualitas shahih, dan jika tidak memenuhi sebagian atau seluruh persyaratannya, maka tergolong hadits hasan atau dha’if.
Para ulama belum ada yang menulis kitab yang secara spesifik membahas atau menghimpun hadits-hadits ‘aziz, hal ini lebih disebabkan karena sangat sedikitnya jumlah hadits yang masuk dalam kategori ini.
B. HADITS GHARIB
1. Definisi Hadits Gharib
Kata gharib adalah bentuk sifat musyabbihah yang secara harfiah berarti menyendiri atau jauh dari kerabat.
Di samping kata gharib dikenal pula kata fard yang menurut sebagian ulama hadits keduanya sinonim seperti kata: تَفَرَّدَ بِهِ فُلَانٌ تَارَةً (kadang-kadang si fulan sendirian dalam suatu ketika) dan أَغْرَبَ بِهِ فُلَانٌ تَارَةً أُخْرٰى (si fulan menyendiri dalam suatu saat yang lain). Mahmud at-Thahhan menyatakan bahwa di kalangan ulama, hadits gharib disebut juga hadits fard karena keduanya sinonim. Akan tetapi, ada pula ulama yang membedakan antara keduanya.
Secara definitif, hadits gharib adalah:
مَا يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ رَاوٍ وَاحِدٌ
Hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi.
مَا اِنْفَرَدَ بِرِوَايَتِهِ شَخْصٌ فِيْ أَيِّ مَوْضِعٍ وَقَعَ التَّفَرُّدُ بِهِ مِنَ السَّنَدِ
Hadits yang terdapat penyendirian rawi dalam sanadnya dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.

Penyendirian rawi tersebut dapat terjadi:
mengenai personalianya, yaitu tidak ada orang lain yang meriwayatkan hadits tersebut, selain rawi itu sendiri.
mengenai sifat atau keadaan rawi, artinya sifat atau keadaan rawi itu berbeda dengan sifat dan keadaan rawi–rawi yang lain yang meriwayatkan hadits tersebut.
2. Pembagian Hadits Gharib
Berdasarkan bentuk penyendirian tersebut, hadits gharib terbagi menjadi dua macam:
3. Hadits Gharib Mutlaq, yaitu hadits yang terdapat penyendirian.
الْإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيْمَانِ
Iman itu bercabang-cabang menjadi 73 cabang. Malu itu salah satu cabang dari iman.
Hadits tersebut diterima oleh Abu Hurairah (sahabat), lalu hanya diterima oleh Abu Shalih (tabi’in), kemudian hanya diterima oleh ‘Abdullah ibn Dinar (tabi’it tabi’in), yang darinya hanya diriwayatkan oleh Sulaiman bin Bilal, dan kemudian diterima oleh Abu Amir. Setelah dari Abu Amir, hadits tersebut diriwayatkan oleh ‘Ubaidillah bin Sa’id dan ‘Abd bin Humaid yang dari keduanya, kemudian diterima oleh Muslim. Contoh lain hadits gharib mutlaq:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Keabsahan perbuatan itu tergantung niatnya.
Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Umar bin al-Khattab saja.
Hadits Gharib Nisbi, yaitu hadits yang terdapat penyendirian dalam sifat atau keadaan tertentu seorang rawi.
•    Penyendirian tentang sifat keadilan, kedhabitan, dan ketsiqqahan rawi. Contoh:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص. م. يَقْرَأُ فِي الْأَضْحٰى وَالْفِطْرِ بِق وَالْقرْاٰنِ الْمَجِيْدِ وَاقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
Rasulullah Saw. pada hari Raya Qurban dan hari Raya Fitri membaca surat Qaaf dan surat al-Qamar. (HR. Muslim)
•    Penyendirian tentang kota atau tempat tinggal tertentu, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh para rawi dari kota/daerah tertentu. Misalnya, Basrah, Kufah atau Madinah saja. Contoh:
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ ص. م. أَنْ نَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَمَا تَيَسَّرَ مِنْهُ
Rasulullah Saw. memerintahkan kita agar membaca al-Fatihah dan surat yang mudah dari al-Qur’an. (HR. Abu Dawud)
Hadits ini diterima oleh Abu Dawud dari Abu Walid at-Thayalisi dari Hamam dari Qatadah dari Abu Nasharah dan Sa’id yang kesemuanya berasal dari Basrah.
•    Penyendirian tentang meriwayatkannya dari rawi Contoh:
أَنَّ النَّبِيَّ ص. م. أَوْلَــمَ عَلٰى صَفِيَّةَ بِسَوْبِقٍ وَتَـمَرٍ
Sesungguhnya Nabi Saw. mengadakan walimah untuk Shafiyah dengan jamuan makanan yang terbuat dari tepung gandung dan kurma.
Dalam sanad hadits tersebut, terdapat seorang rawi bernama Wa’il yang meriwayatkan hadits tersebut dari anaknya (Bakar bin Wa’il), sedangkan perawi yang lain tidak meriwayatkan demikian.
 Jika ditinjau dari sanad dan matan, hadits gharib dibagi menjadi:
1.    Hadits gharib matan dan sanadnya, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi
2.    Hadits gharib sanadnya saja bukan matannya, yaitu hadits yang matannya (isi haditsnya) diriwayatkan oleh beberapa rawi dari sahabat, lalu ada seorang rawi yang seorang sahabat yang lain.
4.    Hukum Hadits Gharib
Hadits gharib ada yang shahih, hasan, atau dha’if dan ada pula yang maudhu’ (palsu) tergantung pada kualitas sanad dan matannya. Jika suatu hadits gharib memenuhi semua syarat hadits shahih, yaitu sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh periwayat yang tsiqqah, dan terlepas dari syadz dan ‘illat, maka hadits gharib itu shahih. Tetapi, jika syarat-syarat itu terpenuhi namun salah seorang periwayatnya ada yang kurang dhabith, maka hadits itu dinyatakan sebagai hasan. Demikian pula, jika suatu hadits gharib bertentangan dengan hadits dengan kualitas yang sama dan tidak mungkin dilakukan kompromi satu dengan yang lain, maka hadits gharib itu dinamakan hadits mudhtharib. Jika hadits gharib diriwayatkan oleh periwayat yang tsiqqah tetapi bertentangan dengan riwayat dari periwayat yang lebih tsiqqah, maka hadits itu dinamakan hadits syadz (janggal). Apabila periwayat pada hadits gharib itu dha’if dan bertentangan dengan hadits dari periwayat yang tsiqqah, maka hadits itu dinamakan hadits munkar.
5.    Cara Menetapkan Keghariban Hadits
Untuk menetapkan suatu hadits itu gharib, harus diperiksa dahulu pada kitab-kitab hadits, apakah hadits tersebut mempunyai sanad lain yang menjadi mutabi’ dan atau matan lain yang menjadi syahid. Cara ini dinamakan i’tibar.
Dalam istilah ilmu hadits, mutabi’ ialah:
الْحَدِيْثُ الَّذِيْ قَدْ تَابَعَ رِوَايَةَ غَيْرِهِ عَنْ شَيْخِهِ أَوْ شَيْخِ شَيْخِهِ
Hadits yang mengikuti periwayatan orang lain sejak pada gurunya (yang terdekat) atau gurunya guru (yang terdekat itu).
Mutabi’ ada dua macam:
1.    Mutabi’ tam, ialah bila periwayatan mutabi’ itu mengikuti periwayatan guru (mutaba’) dari yang terdekat sampai guru yang terjauh.
2.    Mutabi’ qashir, ialah bila periwayatan mutabi’ itu mengikuti periwayatan guru yang terdekat saja, tidak sampai mengikuti gurunya guru yang terjauh.
Syahid ada dua macam:
1.    Syahid billafdzi, yaitu bila matan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat yang lain sesuai redaksi dan maknanya dengan hadits fard-nya.
2.    Syahid bilma’na, yaitu bila matan hadits yang diriwayatkan tidak oleh sahabat yang lain itu hanya sesuai dengan maknanya secara umum.
Apabila setelah dilakukan i’tibar ternyata tidak ditemukan ada mutabi’ (sanad lain) atau syahid (matan lain) dari suatu hadits, maka hadits tersebut adalah hadits gharib.
•    Beberapa Karya Ulama tentang Hadits Gharib
Ada beberapa kitab yang didalamnya banyak ditemukan hadits-hadits gharib antara lain kitab Musnad al-Bazzar, kitab al-Mu’jam al-Ausath karya at-Thabrani. Sedangkan kitab-kitab yang secara spesifik mengupas tentang hadits-hadits gharib antara lain kitab Ghara’ib Malik dan al-Afrad yang merupakan karya ad-Daruquthni, kitab as-Sunan Allati Tafarada Bikulli Sunnah Minha Ahl Baladah karya Abu Dawud as-Sujastani, kitab Athraf al-Gharaib wa al-Afrad karya Muhammad bin Thahir al-Maqdisi, kitab al-Ahadits as-Shihhah al-Gharaib karya Yusuf bin Abdurrahman al-Mizzi as-Syafi’i.






BAB III
Penutup

A.    Kesimpulan
Hadits yang bisa diketahui dari berbagai media pada zaman sekarang ini memiliki syarat-syarat diterima dan ditolak. Ini berfungsi untuk umat agar tidak salah dalam menjalankan kehidupan yang berpedoman dengan Al-Qur’an dan Hadits. Cukup lama untuk mengelompokkan hadits mana yang bisa diterima atau ditolak karena dari zaman rasul hingga sekarang telah terjadi berbagai peristiwa yang mana ada banyak sekali stakeholder yang ingin mengacaukan islam dalam segi hadits agar tersesat.

B.     Saran-Saran

Sungguh bahagianya kita yang hidup di zaman sekarang yang telah merasakan banyak kemajuan teknologi yang secara garis besar berbanding lurus dengan kemudahan kita untuk belajar tentang agama meskipun tetap ada juga oknum yang tak betanggung jawab ingin menyesatkan umat islam. Saran dari kelompok kami yang mana ingin memberikan pelajaran tanpa bermaksud untuk menggurui bahwa jika terdapat hadits dalam kehidupan ini agar bisa dicari kebenaran diterimanya agar kita sama-sama bisa menjalani kehidupan ini dengan efisien dan efektif.

Daftar Pustaka
•    Soetari, Edang Ilmu Hadits Kajian Riwayat & Dirayah (Bandung: CV. Mimbar Pustaka, 2008)
•    Solahuddin, M & Suyadi, Agus Ulumul Hadits (Bandung: Pustaka Setia, 2009)
•    Yuslem, Nawir Kitab Induk Hadis (Jakarta: Hijir Pustaka Utama, 2006)
•    Majid Khon, Abdul Ulumul Hadits (Jakarta: Amzah, 2010)
•    Azami, Studiesin Hadith Methodology and leterature, terj. Meth Kieraha, (Jakarta: Lentera, 2003)
•    Abu Syuhbah, Muhammad Fi  Rihab al Sunnah al-Kitab al-Sahih al-Sittah (Kairo: al-Buhus al-Islamiyah, T. Th.)

•    Dzulmani, Mengenal Kitab-Kitab Hadits (Yogyakarta: Insan Madani, 2008)
•    Adib Salih, Muhammad Lamhat fi Usul al-Hadis (Beirut: al-Maktab al-Islami, 1399 H)
•    Ash-Shiddieqy. Hasbi Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis Jilid I,



close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==