MAKALAH ISLAM TENTANG JANAZAH

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Syariat Islam mengajarkan bahwa manusia pasti akan mati, namun tidak akan pernah diketahui kapan kematian itu tiba. Karena manusia adalah makhluk sebaik-baik ciptaan Allah swt dan ditempatkan pada derajat yang tinggi, Islam sangat memperhatikan dan menghormati orang-orang yang meninggal dunia.[ ]
Orang yang meninggal dunia perlu dihormati karena orang yang meninggal adalah makhluk Allah swt yang sangat mulia. Oleh sebab itu, menjelang menghadap ke haribaan Allah swt, orang meninggal perlu mendapat perhatian khusus dari yang masih hidup.
Pengurus jenazah termasuk syariat Islam yang perlu diketahui oleh seluruh umat Islam. Hal itu dimaksudkan agar dalam penyelenggaraan atau pengurusan jenazah sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Akan tetapi masih banyak masyarakat islam yang masih belum mengerti tentang apa-apa yang harus dilakukan ketika ada ada saudara kita yang muslim meninggal dunia. kewajiban atas orang-orang muslim yang masih hidup untuk menyelenggarakan empat perkara. Ke empat perkara itu adalah memandikan, mengafani, menyolatkan, dan menguburkan. Oleh karena itu penting sekali mengetahui tentang pelenggaraan jenazah.
Allah berfirman yang berbunyi:
كُلُّ نَفْسٍ دَائِقَةُ الْمَوْتِ
Artinya: setiap yang bernyawa pasti akan mati.
B.     Rumusan Masalah

   Berdasarkan dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka pokok permasalahannya adalah:
1.    Bagaimana tata cara memandikan jenazah?
2.    Bagaimana tata cara mengkafani jenazah?
3.    Bagaimana tata cara menshalatkan jenazah?
4.    Bagaimana tata cara menguburkan jenazah?
5.     Bagaimanakah hukum tahlilan dalam pandangan agama islam?

C.    Tujuan
        Berdasarkan pokok masalah yang telah dirumuskan di atas, maka makalah ini bertujuan untuk:
1.    Mengetahui tata cara memandikan jenazah.
2.    Mengetahui tata cara mengkafani jenazah.
3.    Mengetauhi tata cara menshalatkan jenazah
4.    Mengetahui tata cara enguburkan jenazah
5.    Mengetahui hukum tahlilan dalam pandangan agama islam


D. PENEGASAN JUDUL
1.    Tata cara = aturan. Kaidah.
2.    Jenazah = orang yang meninggal.
3.    Perspektif = pandangan. tinjauan.
4.    Agama = keyakinan dan kepercayaan kepada tuhan.
E. MANFA’AT PENULISAN
1.    Agar penulis bisa mengambil manfa’at dengan apa yang telah dipaparkan dalam makalah ini dan dapat bisa dibuat acuan dikemudian hari.
2.    Agar pembaca umumnya dapat termutifasi yang baik.
3.    Dengan adanya makalah ini masyarakat dapat mengambil manfa’at dan cara-cara yang baik untuk membangun masyarakat yang agamis.








BAB II
PEMBAHASAN

Dengan adanya seorang Muslim yang meninggal dunia,maka timbul kewajiban bagi umat islam untuk merawat jenazah.Dalam islam hukum merawat jenazah adalah fardhu kifayah. [1]
Adapun fardhu kifayah yang berkaitan dengan kematian seorang muslim adalah memandikan,mengkafani,menyalatkan,dan menguburkannya.Dibawah ini akan dijelaskan tentang hal-hal tersebut :
1. MEMANDIKAN JENAZAH

Memandikan mayat dalam Islam merupakan suatu ibadah yang mutawatir,baik dalam bentuk ungkapannya maupun dalam bentuk prakteknya. Nabi Shalallohu alaihi wa salam yang telah suci dan disucikan juga dimandikan.
Syarat wajib mandi:
1.    Mayat orang Islam
2.    Ada tubuhnya walaupun sedikit
3.    Mayat itu bukan mati syahid [2]

Yang berhak memandikan mayat
         Mayat laki-laki dimandikan oleh orang laki-laki. Utamanya untuk memandikan.Mayat dengan memilih orang yang terpecaya dan mengerti hukum-hukum dan tata cara memandikan mayat,karena memandikan mayat memiliki hukum syar’i dan sifat(tata cara) yang khusus sesuai syariat.
        Diutamakan dalam memandikan mayat adalah orang yang disebutkan dalam wasiatnya jika mayat telah berwasiat agar dimandikan oleh orang tertentu, hal itu dikarenakan Anas Radhiallohu anhu berwasiat agar jasadnya dimandikan oleh Muhammad bin Sirin.
       Setelah wasiat berkenaan orang yang harus memandikan mayat, berikutnya adalah ayah mayat. Dia adalah orang yang paling utama untuk memandikan anaknya karena dia memiliki hal yang khusus dalam menyayangi dan belas kasih (lembut) kepada anaknya.
       Kemudian berikutnya adalah kakeknya, karena ia sama dengan seorang ayah dalam hal-hal tersebut.
       Disusul kemudian oleh orang yang lebih dekat dari kerabatnya yang menerima ashabah dalam warisan, barulah kemudian orang asing dari selain kerabatnya.
       Urutan dalam prioritas ini adalah jika mereka semua pandai dalam perkara memandikan mayat dan telah banyak mempelajarinya.Jika tidak demikian, maka diutamakan orang mengerti hukum-hukum dalam memandikan mayat dari pada orang yang tidak mengerti perkara itu.
Adapun jika mayat itu perempuan, maka ia dimandikan oleh perempuan pula; tidak boleh laki-laki memandikan perempuan begitupun sebaliknya, kecuali bila mereka adalah sepasang suami istri, Abu Bakar Radhiallohu anhu berwasiat agar jasadnya dimandikan oleh istrinya, Asma’ bintu Umais, begitu juga Ali Radhiallohu Anhu memandikan Fathimah.
Pria maupun wanita boleh memandikan mayat anak dibawah umur tujuh tahun,baik mayat laki-laki maupun perempuan,sebaimana ibrahim putra Nabi Shalallohu Alaihi Wasalam dimandikan oleh para wanita. Ibnul Mundzir berkata, “Seluruh ahli ilmu yang kami ketahui sepakat bahwa wanita boleh memandikan mayat anak kecil” Dikarenakan anak kecil itu belum memiliki aurat dalam hidupnya dan demikian pula setelah kematiannya. Dengan demikian, wanita tidak boleh memandikan mayat laki-laki yang telah berumur diatas tujuh tahun, pria juga tidak boleh memandikan mayat perempuan yang telah berumur di atas tujuh tahun. [3]




Persiapan
1. Menyediakan air yang suci dan mensucikan secukupnya, diutamakan air yang dingin, terkecuali jika diperlukan untuk menghilangkan suatu kotoran dari tubuh mayat atau dalam keadaan dingin, maka tidak mengapa airnya dihangatkan.
2. Mempersiapkan perlengkapan mandi, seperti handuk, sabun, wangi-wangian, kapur barus, dan lain-lain.
3. Mengusahakan tempat yang tertutup dari pandangan untuk memandikan mayat sehingga hanya orang-orang yang berkepentingan saja yang ada di situ.
4. Menyediakan kain kafan secukupnya.
Tata cara memandikan jenazah
1.  Menutup bagian tubuhnya antara pusar hingga kedua lututnya
2. Melepaskan semua pakaiannya serta perhiasan dan gigi palsunya bila memungkinkan
3.  Orang yang memandikan mengangkat kepala mayat ke dekat tempat duduknya, lalu mengurut perutnya dan menekannya dengan lembut dan pelan untuk mengeluarkan kotoran yang masih ada dalam perutnya dan hendaknya memperbanyak siraman air untuk membersihkan kotoran-kotoran yang keluar.
4. Bagi yang memandikan jenazah hendaklah mengenakan lipatan kain pada tangannya atau sarung tangan untuk membersihkan jasad si mayit (membersihkan qubul dan dubur si mayit) tanpa harus melihat atau menyentuh langsung auratnya, jika si mayit berusia tujuh tahun ke atas.
5. Apabila kuku-kuku jenazah itu panjang, maka dipotongi. Demikian pula bulu ketiaknya. Adapun bulu kelamin, maka jangan mendekatinya, karena itu merupakan aurat besar
6.  Mewudhukan jenazah
Berniat dalam (dalam hati) untuk memandikan jenazah serta membaca basmalah. Lalu mewudhukannya sebagaimana wudhu untuk shalatنَوَيْتُ الْوُضُوْءَ الْمَسْنُوْنَ   لِهَذَالْمَيِّتِ(هَذِهِ الْمَيِّتَةِ) ِللهِ تَعَالَى, (kecuali dalam hal kumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung, cukup dengan menggosok gigi dan kedua lubang hidung dengan dua jarinya yang telah dibasahi atau dengan kain yang telah dibasahi.
Selanjutnya, dianjurkan  mencuci rambut dan jenggotnya dengan busa perasan daun bidara atau sabun dan sisa perasan daun bidara tersebut digunakan untuk membasuh sekujur jasad si mayit.
7.  Membasuh atau memandikan tubuh jenazah
Kemudian membasuh atau mencuci bagian kanan badannya, yakni: dari leher, pundak, tangan kanan, dadanya bagian kanan, perut bagian kanan, paha kanan betis kanan, dan kaki kanan. Lalu memiringkannya bertumpu di atas sisi kirinya dan mulai mencuci punggungnya yang sebelah kanan dan sisi kirinya sekalius. [4] Kemudian dengan cara yang sama membasuh anggota tubuh mayat yang sebelah kiri, lalu membalikkannya hingga miring ke sebelah kanan dan membasuh punggung yang sebelah kiri.

Yang wajib dalam memandikan mayat adalah sekali saja jika telah tercapai tingkat kebersihan, sedangkan memandikan tiga kali adalah sunnah. [5]
Imam Syafi’i berkata: Anas bin Malik berkata: “Memandikan jenazah tidak memiliki batas akhir, akan tetapi harus dimandikan sampai bersih.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin, dari Ummu Athiyah, bahwa Rasululloh Shalalloh alaihi wasalam berkata pada para wanita yang memandikan jenazah putrinya:
“ Mandikanlah tiga kali, lima kali atau lebih dari itu apabila kalian menganggap hal itu baik dengan air dan daun pohon bidara, dan akhirilah dengan kapur barus atau sesuatu dari kapur barus.” [6]
Disunnahkan pada pemandiannya kali terakhir dengan menggunakan kapur barus, karena berkhasiat memadatkan, menjadikan wangi dan mendinginkan badan mayat.
8. Kemudian mayat dikeringkan dengan kain atau lainnya. Kumisnya dipendekkan. Kukunya dipotong jika panjang. Bulu ketiaknya dicabut. [7]
Apabila jenazah adalah seorang wanita, maka rambut keplanya dibuat menjadi tiga ikatan; dua bagian berada pada tepi kepalanya dan yang satu pada bagian ubun-ubun, kemudian meletakkannya ke bagian belakang tubuhnya. [8]
9.  Obat pengawet dan kapur barus diletakkan di atas kapas, kemudian diletakkan pada kedua lubang hidungnya, mulut, kedua telinga dan duburnya. Apabila si mayat mempunyai luka yang berlubang, maka diletakkan juga pada lubang yang luka itu. [9]

2. MENGAFANI JENAZAH
        Setelah selesai memandikan dan mengeringkan mayit,disyariatkan mengafani mayit. Dipersyaratkan mengafani agar bisa menutupi. Disunahkan agar bisa berwarna putih dan bersih baik baru (itu yang afdhal) atau yang baru dicuci.Batasan/ukuran kafan yang wajib adalah kain yang mentupi seluruh badan mayit.
       Disunahkan mengafani mayit laki-laki dengan tiga lapisan kain dan mengafani mayit perempuan dengan lima lembar kain yang terdiri dari: sarung,kerudung,dan dua lembar pembungkus.Mayit anak kecil dikafani dengan satu lapis kain dan boleh dikafani dengan tiga lapis kain.Sedangkan mayit anak kecil wanita dikafani dengan satu baju dan dua lapis kain.Disunahkan mengharumkan dengan dupa yang dibakar setelah kain kafan itu diperciki dengan air mawar atau yang lainnya agar baunya harum dan tetap lengket dengan kain kafan itu.
Cara mengkafani mayit laki-laki :
       Dengan memberi tiga lapis kain secara ditumpuk,lalu mayit itu diletakkan dengan wajib ditutup dengan kain atau semisalnya,lalu diletakkan di atas lapis-lapis kafan dengan terlentang.Berikutnya diberi wewangian yang diletakkan pada kapas untuk diletakkan diantara kedua bokong mayit yang diikat dengan sepotong kain.Kemudian sisa kapas yang diberi wewangian untuk kedua mata,kedua lubang hidung,mulut,kedua lubang telinga,dan di anggota sujudnya: dahi,hidung kedua tangan,kedua lutut dan ujung kedua kakinya.
       Demikian pula pada lipatan-lipatan tubuh: kedua ketiak,kedua lipatan belakang lutut,dan pusar.Wewangian diberikan pada kain kafan  dan kepala mayit.Ujung kain kafan lembaran yang paling atas bagian kiri ditutupkan ke bagian kanan mayit,lalu ujung kain kafan sebelah kanan ditutupkan ke bagian kiri badan mayit.Demikian pula lembaran kedua dan ketiga.Sisa ujung kain kafan diatas kepala lebih banyak dari pada sisa ujung kain kafan dibawah kedua kakinya.
     Ujung kain kafan diatas kepala dikumpulkan dan diarahkan kewajahnya,sedangkan sisa kain kafan bagian bawah kaki dikumpulkan dan diarahkan keatas kedua kakinya.Semua lapisan itu diikat dengan pengikat agar tidak pudar dan terlepas didalam kubur.
Cara mengafani mayit perempuan :
       Untuk mayit perempuan dikafani dengan lima lembar kain: sarung untuk menyarunginya,dipakaikan baju,dipakaikan kerudung diatas kepalanya,lalu dibalut dengan dua lembar kain kafan. [10]

3. MENYALATKAN JENAZAH

Shalat Jenazah merupakan salah satu praktek ibadah shalat yang dilakukan umat Muslim jika ada Muslim lainnya yang meninggal dunia. Hukum melakukan shalat jenazah ini adalah fardhu kifayah. Artinya jika dalam suatu wilayah tak ada seorang pun yang menyelenggarakan shalat jenazah,maka seluruh penduduk wilayah itu akan menanggung dosa. Akan tetapi jika ada beberapa orang saja yang menyelenggarakannya, maka penduduk yang lain bebas akan kewajiban tersebut.
        Jenazah yang boleh di shalati adalah jenazah  orang islam yang bukan  mati syahid (yaitu mati dalam keadaan melawan orang kafir atau orang musyrik). Sedangkan orang yang mati syahid dan bayi yang gugur dalam kandungan (atau sejak dilahirkan, sebelum mati,belum dapat bersuara atau menangis) tidak boleh di sholati, juga tidak boleh dimandikan. Shalat jenazah ini boleh dikerjakan di setiap waktu, karena shalat ini termasuk shalat yang mempunyai sebab. Shalat jenazah boleh dikerjakan kaum wanita. Beberapa jenazah boleh di shalati secara bersama-sama.  [11]
A.     Syarat-syarat shalat jenazah
1.    Suci dari hadast besar atau kecil, badan, pakaian atau tempat suci dari najis, menghadap kiblat, serta menutup aurat.
2.    Shalat jenazah baru didirikan jika jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani.
3.    Jenazah diletakkan  disebelah kiblat orang yang menshalatkan. [12]
B.  Rukun shalat jenazah
1.      Niat اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ (هَذِهِ الْمَيِّتَةِ)اَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ لِلهِ تَعاَلى     [13]
2.      Berdiri bagi yang mampu
3.      Empat kali (termasuk takbiratul ikhram)
4.      Membaca surat Al-fatihah setelah takbir yang pertama (takbiratul ikhram)
5.     Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, setelah takbir kedua  [14]
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍكَمَاصَلَّيْتَ عَلىَ سَيِّدِنَااِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ أَلِ سَيّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍوَعَلىَ أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍكَمَابَارَكْتَ عَلىَ سَيِّدِنَااِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ أَلِ سَيِّدِناَاِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَا لَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ  
6.    Membaca do’a untuk jenazah setelah takbir yang ketiga,  [15]
اَللَّهُمَّ اغْفِرْلَهُ (هَا)وَارْحَمْهُ(هَا)وَعَافِيْهِ(هَا)وَاعْفُ عَنْهُ(هَا)  
7.      Membaca do’a untuk jenazah dan orang yang menyhalatinya setelah takbir yang keempat
 اَللَّهُمَّ لاَتَحْرِمْنَااَجْرَهُ(هَا)وَلاَتَفْتِنَّابَعْدَهُ(هَا)وَاغْفِرْلَنَاوَلَهُ(هَا)وَلِإِخْوَانِنَالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَابِالْإِيْمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلَّالِلَّذِيْنَ اَمَنُوْرَبَنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ
8.  Membaca salam ke kanan dan ke kiri
C.  Sunah shalat jenazah
1.    Mengangkat kedua tangan saat bertakbir
2.    Merendahkan suara pada setiap bacaan (israr)
3.    Membaca isu’adzah (A’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajlim)
4.     Disamping itu, posisi imam hendaknya didekat kepala jenazah laki-laki atau didekat pinggul jenazah perempuan
5.     Shaf hendaknya dijadikan 3 shaf atau lebih. Satu shaf sekurang-kurangnya 2 orang.
D.     Cara Melaksanakan Shalat Jenazah  [16]
1.    Berdiri tegak menghadap kiblat, kedua belah tangan berada disamping sejajar dengan pinggul,menghadap kiblat, sedangkan kepala agak tunduk ke sajadah. Hati dan fikiran berkonsentrasi,lalu membaca lafal shalat jenazah.
2.    Setelah selesai membaca lafal niat tersebut, kedua belah tangan diangkat, sejajar dengan kedua bahu sambil mengucap “ALLAHU AKBAR”. Pada saat tangan diangkat dan mulut mengucapkan kalimat takbir ini,dihati mengatakan: “aku niat shalat atas  jenazah ini,4 takbir,  fardhu kifayah mengikuti imam, karena Allah Ta’ala.
3.    Setelah takbir pertama membaca surat Al-fatihah
4.    Setelah takbir kedua membaca shalawat kepada Nabi SAW
5.    Selesai membaca shalawat, dilanjutkan dengan bertakbir yang ketiga, dan membaca do’a yang ditujukan untuk jenazah
6.    Setelah membaca do’a untuk jenazah, dilanjutkan dengan takbir yang keempat sambil mengangkat kedua tangan,tanpa ruku’.
7.    Setelah itu dilanjutkan dengan membaca salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri:
4. MENGUBURKAN JENAZAH

        Telah disepakati kaum muslimin bahwa menguburkan jenazah merupakan fardhu kifayah. Adapun yang wajib dilakukan,paling sedikit dengan membaringkannnya dalam sebuah lubang lalu menutup kembali lubang tersebut dengan tanah,sehingga tidak terlihat lagi jasadnya,tidak tercium baunya,dan terhindar dari binatang buas dan sebagainya.Akan tetapi yang lebih sempurna ialah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Memperdalam lubang kuburan kira-kira 2 meter atau lebih dari permukaan tanah.
2.  Lubang untuk menguburkan mayit sebaiknya berbentuk lahad (lahad) , yaitu liang yang bagian bawahnya dikeruk sebelah ke kiblat,dan setelah jenazah dibaringkan disana,liang tersebut ditutupi dengan bilah-bilah papan yang di tegakkan,kemudian di timbun dengan tanah.Akan tetapi jika tanah kuburan itu kurang keras,dan dikhawatirkan dapat longsor boleh juga menguburkan jenazah dengan membaringkannya ditengah-tengah lubang kemudian menutupinya dengan papan,ranting dan dedaunan seperti di atas.
3. Ketika memasukkan mayit kedalam kubur,sebaiknya membaca Bismillah wa ‘ala millati Rasulillah atau Bismillah wa ‘alasunnati Rasulillah.Kemudian meletakannya dengan tubuhnya di miringkan ke sebelah kanan dan wajahnya menghadap kiblat.Disamping itu,para ulama menganjurkan agar kepala si mayit di letakkan diatas bantal dari tanah liat atau batu,kemudian ikatan-ikatan kafannya dilepaskan,dan bagian dari kafannya di pipinya dibuka sedikit agar pipinya itu menempel dengan tanah. Dianjurkan pula bagi yang menghadiri penguburan, menebarkan sedikit tanah kearah kepala si mayit setelah dibaringkan kedalam kuburannya sebanyak 3 kali,sambil mengucapkan bagian dari ayat al-qur’an, pada kali pertama : مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ (yang artinya: Dari tanah Kami menciptakanmu); pada yang kedua : وَفِيْهَانُعِدُكُمْ(artinya : dan kepada tanah Kami mengembalikanmu); dan pada yang ketiga:اُخْرَى  وَمِنْهَانُخْرِجُكُمْ تَارَةً (artinya :dan dari tanah pula Kami mengeluarkanmu lagi).
4. Selesai penguburannya, yaitu ketika lubang telah ditimbuni kembali dengan tanah,hendaknya mereka yang hadir mendo’akan bagi mayit tersebut dan memohon ampunan baginya dari Allah SWT.Sebagian ulama terutama dari kalangan madzhab Syafi’i, menganjurkan agar dibacakan talqin(do’a yang biasa di baca di atas kuburan guna menuntun si mayit untuk menjawab pertanyaan malaikat)  [17].
  
Berbagai Tata Cara Berkaitan Dengan Kuburan
1. Menurut Syafi’i dalam Al-Mukhtashar,sebaiknya tidak menggunakan tanah  tambahan untuk menimbuni kuburan,selain yang telah dikeluarkan ketika menggalinya.
2. Dibolehkan menaikkan kuburan kira-kira sejengkal lebih tinggi dari permukaan tanah,semata-mata agar diketahui bahwa itu adalah kuburan, sehingga tidak diinjak atau diduduki.
3. Dianjurkan memercikkan air serta meletakkan kerikil(batu-batu kecil) diatas kuburan Kemudian meletakkan sepotong batu atau kayu dan sebagainya diatas kuburan sebagai tanda agar diketahui oleh para peziarah.
4.Sebaiknya tidak membuat bangunan diatas kuburan ataupun memoles permukaannya dengan plester semen.,kapur dan sebagainya.Sebagian ulama mengharamkan hal itu,dan sebagiannnya lagi meski tidak mengharamkan namun menegaskan bahwa perbuatan seperti itu tidak disukai.  [18]

Ta’ziah (Pernyataan turut Berdukacita)
    Ucapan ta’ziah terutama dari para kerabat,kawan-kawan serta para tetangga yang ditunjukkan kepada keluarga yang kematian salah seorang diantara mereka adalah perbuatan yang dianjurkan dalam agama. Yaitu demi menghibur keluarga yang sedang berduka cita dan mendo’akan bagi si mayit.

Waktu Berta’ziah
    Sebagian ulama membatasi waktu berta’ziah hanya selama tiga hari setelah kematian atau setelah mayit dikuburkan dengan maksud agar tidak memperbarui kenangan duka anggota keluarga yang ditinggalkan. Kecuali bagi orang yang tidak berada di kota pada waktu itu, dibolehkan mengucapkan ta’ziah ketika pulang walaupun setelah lewat tiga hari.

5. HUKUM TAHLILAN DALAM PANDANGAN AGAMA ISLAM DI BIDANG SOSIOLOGIS
Tahlilan adalah acara ritual (serimonial) memperingati hari kematian yang biasa dilakukan oleh umumnya masyarakat Indonesia. Acara tersebut diselenggarakan ketika salah seorang dari anggota keluarga telah meninggal dunia. Secara bersama-sama, setelah proses penguburan selesai dilakukan, seluruh keluarga, handai tau-lan, serta masyarakat sekitar berkumpul di rumah keluarga mayit hendak menye-lenggarakan acara pembacaan beberapa ayat al Qur’an, dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan untuk mayit di “alam sana” karena dari sekian materi bacaannya ter-dapat kalimat tahlil ( لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ) yang diulang-ulang (ratusan kali), maka acara tersebut biasa dikenal dengan istilah “Tahlilan”.
       Pada saat itu pula, keluarga mayit menghidangkan makanan serta minuman untuk menjamu orang-orang yang se-dang berkumpul di rumahnya tersebut. Biasanya acara seperti itu terus berlangsung setiap hari dari hari pertama hingga hari ketujuh, kemudian dilanjutkan pada hari ke-40, hari ke-100, hingga menginjak tempo setahun serta tiga tahun dari waktu kematian.
Di antara tujuan tahlilan bagi para undangan yang hadir dalam acara ini adalah:
1.    Menghibur keluarga almarhum/almarhumah
2.    Mengurangi beban keluarga almarhum/almarhumah
3.    Mengajak keluarga almarhum/almarhumah agar senantiasa bersabar atas musibah yang telah dihadapinya.

Adapun tujuan tahlilan bagi keluarga almarhum/almarhumah adalah:
1.    Dapat menyambung dan mempererat tali silaturahmi antara para undangan dengan keluarga almarhum/almarhumah.
2.    Meminta maaf atas kesalahan yang pernah diperbuat oleh almarhum/almarhumah semasa hidupnya kepada para undangan.
3.    Sebagai sarana penyelesaian terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajiban almarhum/almarhumah terhadap orang-orang yang masih hidup.
4.    Melakukan amal shaleh dan mengajak beramal shaleh dengan bersilaturahmi, membaca doa dan ayat-ayat al-Qur’an, berdzikir, dan bersedekah.
5.    Berdoa kepada Allah agar segala dosa-dosa almarhum/almarhumah diampuni, dihindarkan dari siksa neraka dan diberikan tempat terbaik di sisi Allah.
6.    Untuk mengingat akan kematian bagi para undangan dan keluarga almarhum serta dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Dalil pembolehan perjamuan tahli-lan
Orang yang membolehkan acara perjamuan tahlilan mempunyai dua argumen yaitu argumen naqli (nash) dan argumen ‘aqli (akal).
Adapun argumen naqli, mereka berdalilkan keterangan dari kitab Hasyiyah ‘ala Maraqy al Falah karangan Ahmad ibn Ismail Ath Thahawy, yaitu (yang artinya):
“Dimakruhkannya hukum penghidangan makanan oleh keluarga mayit, bertenta-ngan dengan keterangan yang diriwayat-kan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad  yang shahih dari Ashim bin Kulaib dari bapaknya dari laki-laki Anshar, ia berkata :
))خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ r فِي جَنَازَةٍ  فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَتِهِ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ وَ وَضَعَ الْقَوْمُ فَأَكَلُوا وَرَسُولَ اللهِ r يَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ ((رواه أبو داود و أحمد
“Kami bersama Rasulullah keluar menuju pemakaman janazah, sewaktu hendak pulang muncullah isterinya mayit, mengundang untuk singgah, kemudian ia menghidangkan makanan. Rasulullah pun mengambil makanan tersebut dan kemudian para shahabat turut mengambil pula dan mencicipinya dan pada mulut Rasulullah terdapat sekerat daging”.
Hadits tersebut menunjukkan bahwa diperbolehkan keluarga mayit menghi-dangkan makanan, berikut mengundang masyarakat terhadap hidangan tersebut”.
Tahlilan dalam pandangan Islam
       Acara perjamuan tahlilan merupakan hal yang diada-adakan di dalam agama. Hal ini berdasarkan dalil naqli dan ‘aqli.
Adapun dalil naqli adalah hadits mauquf (atsar) yang shohih dari shahabat Jarir bin Abdullah t beliau berkata :
))كُنَّا نَرَى الإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنْ النِّيَاحَةِ ((رواه ابن ماجه
“Kami (para shahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta menghidangkan makanan merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayat)” (R. Ibnu Majah)

     Setelah kita perhatikan bersama, dari penjelasan di atas. Ternyata pendapat yang menolak/melarang acara perjamuan tahlilanlah yang memiliki argumen yang kuat ; baik dari segi naqli maupun ‘aqli. Dengan demikian kesimpulan mengenai hukum dari acara perjamuan tahlilan adalah merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disukai oleh agama. Rasulullah bersabda :
) كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ ( رواه النسائي
“Semua bid’ah adalah sesat dan semua kesesatan tempatnya di Neraka” (HR. An Nasa’ai)
Dan memang kesan dari acara perjamu-an tahlilan tersebut justru bertentangan dengan pesan Rasulullah :
) اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ شَغَلَهُمْ (رواه أبو داود
“Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyibukkan” (HR. Abu Daud)
Jadi bukan keluarga mayit yang seharusnya menghidangkan makanan, tetapi kitalah yang semestinya mengirim makanan kepada mereka, karena dengan demikian berarti kita telah menolong saudara kita yang sedang tertimpa musibah.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Syariat Islam mengajarkan bahwa manusia pasti akan mati, namun kita tidak akan pernah mengetahui kapan kematian itu tiba.Manusia adalah ciptaan Allah swt yang sempurna diantara ciptaan Allah swt yang lain. Allah swt akan memulihkan manusia yang beramal saleh dan memberi balasan atas apa yang dilakukan di dunia. Yang beramal saleh akan mendapat balasan dengan kebaikan dan barakah-Nya. Sementara itu, yang tidak beramal saleh akan menerima azab-Nya.
 Orang yang meninggal wajib dihormati karena ia adalah makhluk Allah swt yang mulia. Oleh sebab itu, sebelum jenazah meninggalkan dunia menuju alam baru (kubur) hendaklah dihormati dengan cara dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan.Hukum merawat jenazah dalam islam adalah fardhu kifayah.
B.    Saran
Sebagai seorang muslim apabila ada seseorang yang meninggal dunia maka disunahkan bagi kita untuk merawat jenazah tersebut mulai dari memandikannya,mengafani,menyalatkan dan menguburkannya. Oleh karena itu apabila kita tahu dan mampu maka janganlah ragu untuk melakukannya serta kita harus senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan selalu mengingat bahwa kematian itu dapat datang kapan dan dimana saja.

DAFTAR PUSTAKA
    Ahmad Shofiyullah.2007.Ma’sturoot Laayasa’ul Muslima Tarkuha.t,t.t,p.
    Bin Ali Nawawi, Abi Abdul Mu’thi Muhammad Bin Umar.t,th.Nihayatuzzain.surabaya:Al-hidayah.
    Kamal Pasha, B.Ed, Drs. Musthafa dkk.2003. Fiqih Islam sesuai dengan putusan majlis tarjih. Yogyakarta: Citra Karsa Mandiri.
    Muhdiyat,H.M.A.2008.Tuntunan Pengurusan Jenazah, Bandung: YPP Sumber Sari Bandung.
    Shalih,Syaikh.2008.Ringkasan Fiqih Lengkap.Jakarta:PT Darul Falah
________________________________________







close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==