Hukuman yang Sesuai dengan Syariat Islam untuk Para Pelaku Homoseksual

Ketika membahas tentang ketentuan pelaksanaan hukuman rajam bagi orang yang sudah menikah—kemudian—berzina, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta’ala menyinggung juga tentang hukuman untuk para pelaku homoseksual. Kata beliau,
Apakah homoseksual seperti zina [hukumannya]? Jawabannya, ya. Seperti zina. Bahkan, lebih buruk lagi. Sebab homoseksual tidak disyaratkan bahwa pelaku atau pasangan homonya telah menikah. Syaratnya hanya telah baligh dan berakal. Jika mereka berdua telah baligh dan berakal, ditegakkan kepada mereka hukuman.
Dan hukumannya, ahli-ahli fikih mazhab Hanbali mengatakan bahwa hukumannya seperti hukuman untuk zina. Jadi, pelaku yang telah menikah dirajam dan yang belum menikah dicambuk seratus kali serta diasingkan selama setahun.
Akan tetapi, pendapat itu perlu dalil dan tidak ada dalil untuk itu, kecuali argumen yang ganjil. Yaitu, bahwa homoseksual adalah memasukkan kemaluan di dalam kemaluan yang diharamkan, sehingga yang wajib padanya adalah apa yang diwajibkan pada zina.
Namun ada yang mengatakan bahwa itu adalah kias yang tidak tepat. Sebab kekejian homoseksual lebih besar daripada kekejian pada zina.
Sebagian ulama mengatakan, “Sebaliknya, pelaku dan pasangan homonya cukup diberi sanksi.” Dan pendapat ini tidaklah benar karena apa yang akan datang penyebutan dalilnya oleh ulama yang berpendapat wajibnya dibunuh pelaku homoseksual di setiap keadaan.
Termasuk hal-hal yang ganjik, saya pernah mendapati nukilan-nukilan dari sebagian ulama yang berpendapat, “Tidak diapa-apakan mereka berdua [yang melakukan homoseksual itu]. Cukup dengan pencegahan secara psikologis. Mereka berkata, ‘Sebab jiwa-jiwa manusia tidak mungkin menerima yang seperti itu’. Maksudnya, seorang laki-laki berhubungan badan dengan laki-laki lainnya. Karena itu, cukup pencegahannya secara psikologis daripada diberikan hukuman. Mereka berkata, ‘Yang demikian, seperti halnya seseorang makan kotoran. Yang seperti itu tidak dihukum. Jika ia meminum minuman keras, maka ia diberi hukuman’.”
Akan tetapi, pendapat itu salah besar di mata syariat. Dan kias yang digunakan adalah [kias] batil. Sebab kita tidak bisa sepakat bahwa yang memakan kotoran tidak diberi hukuman. Sebaliknya, kita beri hukuman, karena hal itu maksiat. Dan memberikan sanksi adalah wajib pada setiap maksiat yang tidak ada ketentuan hukuman dan dendanya.
Saya sebutkan pendapat-pendapat tersebut semata-mata untuk menerangkan bahwa itu semua batil yang tidak boleh disebar-luaskan kecuali bagi siapa saja yang hendak menerangkan kebatilannya. Seperti hadits dha’if. Tidak boleh menyebutkannya, kecuali bagi siapa saja yang hendak menerangkan bahwa hadits tersebut dha’if.
Dan pendapat yang benar tentang homoseksual adalah bahwa pelaku dan pasangan homonya wajib dihukum mati, apapun keadaannya. Sebab ini virus di tengah masyarakat. Jika berkembang dan menyebar, maka akan merusak seluruh masyarakat. Dan bagaimana mungkin seorang laki-laki yang menjadi pasangan homo diterima masyarakat, sementara dirinya tidak lebih dari seorang wanita yang menjadi pasangan zina? Sebab, ia telah dibunuh karakternya dan kelelakiannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah sepakat tentang dihukum matinya pelaku homo dan pasangan homonya. Dan telah datang hadits tentang itu,
مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْاْ الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُوْلَ بِهِ
‘Siapa yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth, maka hendaklah kalian bunuh pelaku dan pasangannya’.” [HR. Ahmad (1/300), Abu Dawud (no. 4462), At Tirmidzi (no. 1456), dan Ibnu Majah(no. 2561)]
Syaikhul Islam [kembali] mengatakan,
“Akan tetapi, para sahabat berbeda pendapat tentang bagaimana menghukum mati pelaku homo dan pasangan homonya. Ada yang mengatakan, ‘Mereka berdua dibakar. Pendapat ini diriwayatkan dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Dan itu karena jeleknya perbuatan mereka berdua, sehingga mereka berdua dihukum dengan hukuman yang paling buruk. Yaitu, dibakar. Dan juga karena membakar mereka berdua lebih dapat mencegah untuk selain mereka berdua’. Sebagian sahabat Rasulullah berpendapat, ‘Pelaku homo dan pasangan homonya dirajam, sebagaimana dirajamnya pelaku zina yang sudah menikah’. Sebagian sahabat yang lain berpendapat, ‘Mereka berdua dibawa ke tempat yang paling tinggi di negeri mereka. Kemudian, mereka dijatuhkan dan dilempari dengan bebatuan—berdasarkan pada apa yang ditimpakan oleh Allah ta’ala kepada kaum Nabi Luth’.”
Dan yang paling penting bagi kita adalah bahwa pelaku homo dan pasangan homonya harus dihukum mati, apapun caranya, jika mereka berdua telah baligh dan berakal. Sebab perbuatan mereka itu adalah penyakit yang parah. Tidak mungkin untuk menghindar darinya.
Karena itu, misalnya, jika engkau melihat seorang laki-laki dengan seorang perempuan dan engkau diminta untuk mengingkarinya, maka engkau bisa berkata, “Siapa perempuan ini?”. Sebaliknya, seorang laki-laki dengan seorang laki-laki tidak mungkin [untuk mengetahui dan mengingkarinya]. Sebab, setiap laki-laki berbaur satu sama lainnya.
Jadi, pelaku zina yang telah menikah [dan pelaku homoseksual] halal darahnya. Akan tetapi, jika memang darahnya halal, apakah setiap individu bisa menegakkan hukuman mati untuknya? Jawabannya, tidak. Tidak bisa setiap individu menegakkan hukuman mati kepada pelaku tersebut, kecuali pemerintah atau orang yang mewakilinya karena sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
أُغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا
“Pergilah, wahai Unais, kepada perempuan itu. Jika ia mengaku, maka rajamlah.” [HR. Al Bukhari (no. 2724) dan Muslim (no. 25 & 16697)]
Jika kita katakan bahwa seseorang boleh menghukum mati pezina tersebut karena darahnya tidak terjamin lagi, niscaya akan terjadi kekacauan dan keburukan yang tidaklah ada yang tahu kecuali Allah ‘azza wa jalla. Karena itu, para ulama mengatakan, “Tidak boleh melakukan hukuman mati dan berbagai hukuman lainnya, kecuali pemerintah atau orang yang mewakilinya.”
Sumber: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Syarh Al Arba’in An Nawawiyyah. Riyadh: Dar Ats Tsurayya. 1423H/2003M, halaman 169-170.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==