6 PRINSIP YANG HARUS MENJADI ACUAN PEGANGAN SEORANG MUSLIM DALAM BERKOMUNIKASI DENGAN SESAMA MUSLIM

Oleh : KH. Musleh Adnan
Ketika kondisi emosional seseorang tidak stabil sdh bisa dipastikan dia akan mudah tersinggug, ketidakstabilan ini bisa saja timbul karena prinsip yg dia yakini kebenarannya dimentahkan org lain atau bahkan disalahkan. Jika ini terjadi pastilah gesekan tdk bisa dielakkan lagi. Langkah bijak bagi kita adalah menghindari bahasa2 yg akan menyinggung perasaan orang lain karena setiap manusia pasti ingin dihargai.
Alqur'an kitab suci yg kita bela mengajarkan ttg kesantunan bahasa ;
ada enam acuan yang seyogianya dijadikan pegangan saat seorang muslim berkomunikasi dengan sesamanya. Enam prinsip tersebut sebagai berikut.
Pertama, qaulan sadida (Q.S. 4 an-Nisa: 9), yaitu berkomunikasi, baik yang menyangkut substansi maupun medium bahasa yang digunakannya dengan benar. Kedua, qaulan ma'rufa, (Q.S.4 An-Nisa: 8), yaitu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang menyedapkan hati, tidak menyinggung atau menyakiti perasaan mitra tutur, sesuai dengan kriteria kebenaran, kejujuran, tidak mengandung kebohongan, dan tidak berpura-pura.
Ketiga, qaulan baligha, (Q.S. 4 An-Nisa: 63), yaitu berkomunikasi dengan menggunakan ungkapan yang mengena, mencapai sasaran dan tujuan, atau membekas, bicaranya jelas, terang, tepat, atau efektif.Keempat, qaulan maysura, (Q.S.17 Al-Isra: 28), yaitu berkomunikasi dengan baik dan pantas, agar orang tidak kecewa.
Kelima, qaulan karima, (Q.S. 17 Al-Isra: 23), yaitu berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata mulia yang menyiratkan kata yang isi, pesan, cara serta tujuannya selalu baik, terpuji, penuh hormat, mencerminkan akhlak terpuji dan mulia. Kemudian keenam, qaulan layyina, (Q.S. 20 Thaha: 44), yaitu berkomunikasi dengan sikap yang lemah-lembut.
Enam prinsip yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran di atas, selain menunjukkan keagungan ajaran Allah, juga merupakan acuan untuk mengetahui bagaimana kita seharusnya melakukan komunikasi dengan orang lain. Jika enam prinsip berbahasa tersebut diterapkan secara konsisten, insya Allah setiap komunikasi antar manusia di mana saja dan kapan saja akan senantiasa berjalan dengan baik, serta pada gilirannya akan membuahkan ketentraman. Hal itu sesuai dengan apa yang diisyaratkan Nabi lewat ungkapannya, "Muslim yang baik adalah jika Muslim lain merasa tenteram dari perkataan dan perbuatannya" (As-Suyuti, 1983). Dan jika ternyata kita belum (tidak?) mampu menggunakan bahasa yang semacam itu, bersikap diam itu jauh lebih baik. Demikian kata sebuah hadist Nabi pula