Tip Untuk Orang Tua dalam mendidik anak tentang sex


Ada Beberapa tip berikut bisa membantu Anda berbicara dengan anak-anak Anda tentang kata “s”
tersebut.
Tip #1: Mulailah Sejak Dini
Idealnya pendidikan seks tidak diberikan kepada anak-anak sebagai suatu reaksi atas pertanyaan
mereka. Sebaliknya, pendidikan seks diberikan sejak awal secara tidak langsung.
Hal ini berarti sang anak harus memiliki keyakinan yang kuat akan identitas dirinya serta pemahaman
akan nilai-nilai yang dimilikinya.
"Orang tua harus duduk bersama dan menjelaskan nilai-nilai mereka kepada anakanaknya.
Dan hal tersebut perlu dimulai sejak anak-anak masih muda, sebelum
masyarakat mempengaruhi mereka," ucap Marilyn Morris, seorang Kristiani, yang
merupakan presiden dan pendiri Aim for Success. Organisasi tersebut mempromosikan
abstinensi sex melalui penyuluhan dan presentasi kepada siswa-siswa kelas enam SD
hingga SMA. Kelompok tersebut adalah salah satu penyelenggara pendidikan
abstinensi terbesar di Amerika.
Merilyn juga mengatakan penting untuk menjelaskan kepada anak-anak mengapa Anda memegang
nilai-nilai tersebut. Sebagai contoh, mengapa Anda tidak menyetujui hubungan seks di luar
pernikahan, baik karena alasan agama dan/atau kesehatan.
Berbicara Tentang Seks Kepada Anak-anak
Tip #2: Berikan Pendidikan Seks
Sesuai dengan Usia Anak
Mulai mengajarkan topik yang berbeda pada usia yang tepat juga penting.
Sebagai contoh, seorang anak yang berusia delapan tahun mungkin melihat bahwa
ibunya tidak sholat selama beberapa hari dalam sebulan dan bertanya mengapa. Saat
itulah, secara sederhana dapat kita sampaikan bahwa saat itu Allah mengijinkan
kaum perempuan untuk tidak sholat. Saat anak berusia 12 atau 13 tahun, orangtua
dapat memperkenalkan topik tentang menstruasi, dan pada saat itu, barulah dia
mampu melihat hubungannya.
Cara lain untuk memperkenalkan topik tentang seks adalah pada saat anak mulai mengaji/membaca
Al-Qur’an. Ketika anak membaca ayat-ayat tentang hubungan seks, menstruasi, atau homoseksual
sebagai contoh, hal tersebut dapat dijelaskan dengan sebenarnya.
Seks dapat juga dibahas dalam konteks kebersihan menurut ajaran Islam pada usia tertentu.
Contohnya, ketika anak berusia enam atau tujuh tahun, dia harus tahu bagaimana membersihkan
dirinya setelah menggunakan toilet.
Kemudian ketika berusia sebelas atau dua belas tahun, masalah tentang Mandi Wajib bisa diangkat
dan bila diperlukan (misalnya setelah berhubungan suami-istri, setelah selesai menstruasi, dll.)
Orang tua juga sebaiknya mendatangi anak-anaknya secara perorangan, bukan berkumpul semua
dalam menjelaskan berbagai topik yang berhubungan dengan seks sesuai usia anak.
Beberapa topik yang bisa dibahas mencakup kerendahan hati, kesopanan, sikap dan perilaku.
Tetapi hal-hal tersebut sebaiknya tidak disampaikan sebagai sejumlah peraturan yang harus dipatuhi.
Melainkan kebajikan yang mendasarinya, sebagai contoh, tata cara berpakaian menurut Islam dan
tidak menatap lawan jenis terlalu lama, perlu dijelaskan dengan alasan/kebajikan yang mendasarinya.
Tip #3: Orangtua Sebaiknya Menciptakan
Hubungan yang Baik dengan Anak
Pendidikan seksual yang benar hanya dapat diberikan jika pesan yang benar disampaikan oleh
orangtua secara terbuka dan tersirat.
Harus ada keterbukaan, bukan suasana kaku dan dogmatik di rumah.
"Saya berbicara tentang hubungan cinta kasih antar kedua orang tua di rumah," ucap
Khadija Haffajee, seorang aktivis Islam dan mantan guru dari Ottawa-Carleton,
Canada. Dia telah menghabiskan sekitar 30 tahun bekerja dalam sistem pendidikan
sekolah. "Bahwa ada cinta diantara orangtua, ada kasih sayang. Mereka (anak-anak)
bisa melihat hal tersebut, bagaimana mereka saling berbicara, mempunyai rasa hormat
yang ada."
Tip #4: Jadilah Contoh/Suri Tauladan
Hal ini sejalan dengan menjadi ‘role model’(contoh peran), yang merupakan cara terbaik untuk
mengajarkan dan menyampaikan nilai-nilai kepada anak-anak.
Hal tersebut berarti bahwa anak tidak hanya perlu mengetahui tentang hubungan pria-perempuan
yang sehat ketika mereka melihat orangtuanya, tetapi orangtua juga tidak terlibat dalam kegiatan yang
merendahkan pandangan mereka terhadap seksualitas.
Sebagai contoh, "dengan berhati-hati dalam menyaksikan acara televisi atau film apa
yang boleh mereka tonton, " itu sangat penting ucap Morris "karena itu merupakan
pengaruh buruk bagi kita semua. Dan jika anak-anak kita melihat kita melakukannya,
mengapa mereka tidak boleh melakukannya juga?"
Hal ini juga berarti memberikan contoh dalam segala aspek kehidupan dengan mematuhi
peraturan yang sama yang anda ingin mereka patuhi. Sebagai contoh, jika Anda terlambat, hubungi
anak-anak dan beritahu kepada mereka, tunjukkan rasa hormat yang sama sebagaimana Anda
harapkan dari mereka, demikian dijelaskan oleh Morris.
Tip #5: Bertemu dengan Orang Lain
yang Memiliki Nilai-nilai yang Sama
Anak-anak tidak hanya perlu melihat penerapan nilai-nilai Islam di rumah. Mereka
juga harus mengalaminya ketika berhubungan dengan anak-anak lain maupun keluarga
yang beragama Islam, ucap Haffajee.
Mereka harus melihat bahwa kehidupan berkeluarga secara Islami bukan hanya sesuatu yang
dipraktekkan di rumah mereka saja, tetapi juga dipraktekkan oleh orang lain.
Hal ini membuat anak merasa lebih “normal”, dimana dia mungkin memiliki teman sekolah atau
kenalan yang memiliki orangtua homoseksual (dua ibu atau dua ayah), orangtua yang melakukan seks
di luar pernikahan (kekasih si ibu, kekasih si ayah) atau jenis-jenis hubungan lain yang tidak dapat
diterima.
Tip #6: Libatkan Diri dengan
Sekolah dimana Anak Belajar
Tergantung jadwal orangtua, hal ini bisa berarti banyak. Seringkali sekolah mendorong orangtua
murid untuk aktif berpartisipasi melalui berbagai jalur seperti Persatuan Orangtua Murid dan Guru
(POMG) atau sebagai dewan sekolah yang ditunjuk.
Haffajee menjelaskan bahwa semakin banyak sekolah yang akan terdesentralisasi dan akan lebih
memiliki kekuatan di tingkat POMG, misalnya. Forum lain untuk terlibat yaitu mengadakan pemilihan
dewan sekolah. Dewan sekolah mengurus semua sekolah yang ada dalam satu kabupaten.
Tetapi jika ini terlalu banyak memerlukan komitmen Anda sebagai orangtua, paling tidak usahakan
untuk selalu berhubungan dengan guru yang mengajar anak Anda, dan beritahu guru tersebut bukan
hanya masalah, tetapi juga hal-hal baik yang telah dia ajarkan kepada anak Anda.
"Kita harus membuat kaitan ini, jangan merasa terpisah antara mereka dan kita,"
tambah Haffajee.
Menjadi relawan dan membantu sekolah juga salah satu pilihan. Hal ini berbeda di tiap sekolah.
Beberapa sekolah mungkin memiliki a lunchroom program dengan orangtua sebagai pemantau,
misalnya, yang hanya memakan waktu beberapa jam sekali sepekan.
Partisipasi teratur dalam organisasi maupun kegiatan sekolah seperti itu memberikan Anda
kesempatan untuk menyuarakan pandangan Anda selaku orangtua tentang apa yang terjadi dalam
system sekolah yang mempengaruhi anak Anda, serta anak-anak lainnya. Penting untuk ditambahkan
bahwa keterlibatan seperti ini sebaiknya tidak datang hanya ketika sekolah telah melakukan sesuatu
yang, menurut Anda selaku orangtua, melanggar kebutuhan anak Anda sebagai seorang Muslim, atau
ketika Anda menginginkan suatu hal khusus bagi anak Anda (misalnya izin untuk lebaran, Jum’atan,
dll.).
Dengan berpartisipasi dalam jangka waktu lama, suara Anda akan lebih mungkin didengar karena
Anda terlibat dalam membuat sekolah tersebut menjadi lebih baik secara umum, bukan hanya untuk
kepentingan anak Anda.
Ketika tiba saatnya untuk pendidikan seks, Anda bisa bergabung dengan orangtua murid lainnya,
Muslim dan non-Muslim, yang memiliki pandangan yang sama mengenai topik tersebut, dan
memungkinkan Anda untuk lebih didengar.
"Banyak orangtua murid non-Muslim yang khawatir akan masalah ini dan merasa
seakan tidak ada kendali," ucap Haffajee.
Tip #7: Tahu batas pendidikan seks
"Harus ada pembahasan tentang jenis informasi seperti apa yang mereka peroleh,
pendidikan pra-remaja," ucap Haffajee.
Mengadakan ceramah selama tiga jam yang menentang keburukan pendidikan seks sekolah tidak akan
membantu banyak bagi putra putri Anda untuk mengetahui apa yang salah dengannya. Inilah
sebabnya kita perlu mengetahui apa yang terkandung dalam kurikulum pendidikan seks.
"Mereka harus benar-benar mengetahui apa yang diajarkan oleh sekolah, bahkan
sampai duduk bersama pengajar dan mencari tahu nilai-nilai yang dimilikinya," ucap
Morris. "Ini merupakan isu yang sangat penting"
Tip #8: Mengetahui sudut pandang
Islam tentang seks
Ada banyak hal dalam pendidikan seks selain mengatakan kepada putra-putri Anda
"jangan melakukannya sampai kamu menikah ".
Topik-topik seperti menstruasi, perubahan seksual pada remaja, Kesucian diri menurut Islam setelah
terjadinya hal-hal yang berkaitan dengan seks juga harus dibahas.
Jika Anda tidak yakin, mintalah bantuan dari seorang Ulama, Serta panduan bagi orangtua (lihat
tinjauan buku Miracle Of Life.
Kita harus bisa memberikan referensi yang tepat dari Al-Qur’an, Sunnah dan pihak Islam yang
berwenang mengenai topik-topik yang relevan (misalnya pengaturan kelahiran, hubungan anak lelaki
dan anak perempuan, dll.).
Pada hal yang sama, jika dalam pembicaraan anak Anda menanyakan suatu hal dan Anda tidak yakin
apakah itu bersifat Islami atau tidak, CARI TAHU. Mengasumsikan bahwa suatu praktek budaya yang
berkaitan dengan seks atau hubungan antara anak lelaki dan perempuan secara otomatis bersifat Islam
adalah suatu kesalahan.
Tip #9: Katakan pada anak Anda bahwa Anda
siap berbicara tentang seks dengan mereka
Hal ini perlu, khususnya jika seks telah menjadi suatu hal yang tabu dalam keluarga untuk waktu
yang lama.
"Orangtua (sebaiknya) mengatakan kepada anak-anaknya "Saya ingin menjadi sumber
informasi utama mengenai seks," ucap Morris.
Hal ini memperjelas bahwa sementara anak Anda mungkin mendapat informasi tentang seks dari
sumber lain seperti televisi, film, sekolah dan teman-teman, akan tetapi Andalah “sumber yang
berwenang".
Hal ini berhasil dengan baik ketika anak masih berusia muda, daripada menunggu hingga berusia
sepuluh tahun ketika anak biasanya mulai memberontak dan tidak mau mendengarkan orangtua.
Tip #10: Tunjukkan kegugupan Anda
Akan sulit bagi banyak orangtua untuk berbicara tentang seks. Tetapi mereka sebaiknya tidak
menyembunyikan hal tersebut dari anak-anak.
Morris menyarankan orangtua untuk berkata, "Jika saya terdengar gugup atau tidak
nyaman biarkan saja," dalam pembicaraan mereka.
Hal ini menekankan keseriusan dan pentingnya hal yang akan Anda katakan. Kenyataannya walau ini
sangat sulit bagi Anda, namun Anda terus maju dengan menekankan kebutuhan anak untuk
mendengarkan
Tip #11: Menarik anak dari pendidikan
seks tetapi katakan alasannya
Ada beberapa sekolah yang memberikan pendidikan seks sebagai mata pelajaran pilihan, dan seorang
anak dibolehkan untuk tidak mengikutinya.
Haffajee mengatakan bahwa ada orangtua, baik Muslim maupun non-Muslim yang
memutuskan demikian daripada membiarkan anak mengikuti pendidikan seks di
sekolah.
Tetapi jika Anda memang memutuskan untuk melarang anak mengikuti pendidikan seks, Haffajee
menyarankan bahwa penting untuk menjelaskan kepada anak Anda mengapa hal itu dilakukan, dan
untuk memastikan bahwa dia mendapatkan pendidikan seks secara Islam di rumah.
Jika hal tersebut tidak dilakukan, anak Anda mungkin akan merasa sedang dikucilkan dari kegiatan
bersama teman-temannya.
Tip #12: Mintalah Bantuan Lainnya
Jika Anda merasa sangat tidak nyaman membicarakan hal ini, mintalah pertolongan seorang ahli dan
Ulama atau anggota masyarakat yang sama jenis kelaminnya dengan anak Anda, untuk menjelaskan
secara rinci dan memberikan bimbingan
Orang lainnya bisa seorang guru sekolah mingguan Islam, seorang pekerja sosial yang beragama
Islam, atau anggota keluarga yang dipercaya seperti bibi, paman atau sepupu.
Selain itu, carilah beberapa buku yang membahas seks dari sudut pandang Islam.
Miracle of Life atau buku karangan Ahmad Sakr The Adolescent Life adalah beberapa
contohnya.
Namun demikian, meminta seseorang untuk berbicara kepada mereka atau memberikan buku
bukanlah merupakan akhir cerita. Sebagai orangtua, Anda harus siap dan terbuka terhadap
pertanyaan Amir atau Jamilah tentang seks, sehingga Anda bisa mengarahkan mereka kepada orang
atau informasi yang tepat jika Anda merasa tidak nyaman untuk menjawabnya.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==