Makalah hukum menggunakan gambar dan film kartun sebagai sarana dakwah


Oleh : Moh. Hafidurrahman
BAB I
A. HUKUM GAMBAR
Kalau kita membaca komik, melihat kartun, atau berbagai animasi atau ilustrasi di berbagai media, rasanya gatal untuk kembali corat-coret. Apalagi ketika melihat komik-komik zaman sekarang yang tidak jauh beda dengan film porno—blue film—kalau kata orang-orang. Entah, apakah UU Pornografi berhasil menghentikan peredaran komik-komik tersebut atau tidak. Yang pasti, rasa prihatin seolah membuncah ingin berkarya di bidang ini agar dakwah dan pendidikan pun mampu digemari seperti Naruto, Conan, dan lainnya digandrungi orang-orang. Tak hanya itu, ingin rasanya membuat sebuah game edukasi dan dakwah yang digandrungi seperti Sims, Final Destination, dan berbagai permainan baik online maupun tidak.
Menurut fatwa Yusuf Qaradhawi dalam buku Fatwa-Fatwa Kontemporer Jilid 3 yang diterbitkan Gema Insani Press cetakan pertama (2002) Menurut beliau, yang mendukung pendapat para ulama klasik (salaf) berdasarkan dalil-dalil syara’, gambar-gambar yang diharamkan adalah gambar yang mempunyai bayangan dan mempunyai bentuk, atau yang disebut patung. Seperti dalam sebuah hadists (tidak diberitahukan siapa yang merawikannya): “Siapakah yang lebih zalim dari orang yang menciptakan sesuatu seperti ciptaan-Ku?”
Hanya lukisan yang berbentuk yang bisa dibayangkan akan ditiupkan ruh ke dalamnya pada hari kiamat. Padahal sang pelukis selamanya tidak akan mampu melakukannya. Patung dibolehkan untuk mainan anak-anak, misal boneka. Alasannya, karena mainan merupakan kebutuhan anak-anak, tidak ada unsur penyakralan dari patung atau gambar-gambar tersebut.
B. TUJUAN PENULISAN
  1. Apa efek Gambar dan film kartun terhadap anak didi?
  2. Gambar dan kartun apa saja yang boleh kita gunakan sebagai saranan dakwah?
  3. Bagaimana hokumnya menggunakan gambar dan film kartun dalam sarana dakwah?









BAB II
PEMBAHASAN

A. EFEK-EFEK GAMBAR DAN FILM KARTUN
Berbicara tentang efek media massa, ada satu saat ketika media massa dipandang sangat berpengaruh, tetapi ada saat lain ketika media massa dianggap sedikit, bahkan hampir tidak ada pengaruhnya. Perbedaan pandangan ini tidak saja disebabkan karena perbedaan latar belakang teoritis, tetapi juga karena perbedaan mengartikan kata “efek”. Seperti yang dinyatakan Donald K. Robert, bahwa ada yang beranggapan bahwa efek hanyalah “perubahan perilaku manusia setelah diterpa pesan media massa”. Karena fokusnya pesan, maka efek haruslah berkaitan dengan pesan yang disampaikan media massa. Namun demikian, membatasi efek hanya selama berkaitan dengan pesan media, akan mengesampingkan pengaruh media massa itu sendiri. Menurut Steven M. Chaffee, pendekatan pertama adalah melihat efek media massa, baik yang berkaitan dengan pesan maupun media itu sendiri. Pendekatan kedua adalah melihat melihat jenis perubahan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa seperti penerimaan informasi, perubahan perasaan atau sikap, dan perubahan perilaku atau dalam istilah lain perubahan kognitif, afektif dan behavioral. Pendekatan ketiga meninjau satuan observasi yang dikenai efek komunikasi massa yaitu individu, kelompok, organisasi, masyarakat atau bangsa.
Pada umumnya seseorang ingin tahu bukan untuk apa ia membaca surat kabar atau menonton televisi, tetapi bagaimana surat kabar dan televisi menambah pengetahuan dan sikap, atau menggerakkan perilaku seseorang. Inilah yang disebut sebagai efek komunikasi massa. Efek komunikasi massa terbagi menjadi tiga, yaitu :
a. Efek Kognitif
Wilbur Scrhramm mendefinisikan informasi sebagai segala sesuatu yang mengurangi ketidakpastian atau mengurangi jumlah kemungkinan alternatif dalam situasi. Sedangkan pengurangan ketidakpastian tersebut melalui citra. Citra merupakan peta tentang dunia. Citra adalah dunia dalam persepsi kita dan merupakan gambaran tentang realitas walaupun tidak harus selalu sesuai dengan realitas. Singkatnya citra terbentuk berdasarkan informasi yang telah diterima.
Lebih jauh, ketika surat kabar, radio dan televisi menyampaikan informasi atau nilai-nilai yang berguna bagi khalayak maka hal inilah yang biasa disebut sebagai efek prososial kognitif. Lebih dari itu, siaran pendidikan televisi yang menggabungkan unsur hiburan dengan informasi pada dasarnya telah berhasil menanamkan pengetahuan, pengertian dan ketrampilan. Dari sini jelas bahwa sarana teknologi komunikasilah dalam hal ini televisi yang mampu mengubah dan membentuk pengetahuan kita tentang dunia. Semisal, televisi menyebabkan audien lebih mengerti tentang bahasa Indonesia yang baik dan benar, artinya televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. Singkatnya dapat dikatakan bahwa efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi oleh khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi.

b. Efek Afektif
1.      Dalam hubungannya dengan pembentukan dan perubahan sikap, pengaruh media massa dapat disimpulkan pada lima prinsip umum : Pengaruh komunikasi massa diantarai oleh faktor-faktor seperti predisposisi personal, proses selektif, keanggotaan kelompok.
2.      Karena faktor-faktor ini, komunikasi massa biasanya berfungsi memperkokoh sikap dan pendapat yang ada, walaupun kadang-kadang berfungsi sebagai media pengubah (agent of change
3.      Bila komunikasi massa menimbulkan perubahan sikap, perubahan kecil pada intensitas sikap lebih umum terjadi daripada “konversi” (perubahan seluruh sikap) dari satu sisi masalah ke sisi yang lain.
4.      Komunikasi massa cukup efektif dalam mengubah sikap pada bidang-bidang di mana pendapat orang lemah, misalnya pada iklan komersial.
5.      Komunikasi massa cukup efektif dalam menciptakan pendapat tentang masalah-masalah baru bila tidak ada predisposisi yang harus diperteguh.
Lebih jauh Asch menjelaskan bahwa semua sikap bersumber pada organisasi kognitif pada informasi dan pengetahuan yang dimiliki. Sikap selalu diarahkan pada objek, kelompok, atau orang. Hubungan individu dengan individu lainnya pada dasarnya dilandasi pada informasi yang diperoleh tentang sifat-sifat individu tersebut. Dengan kata lain, sikap pada seseorang atau seseuatu bergantung pada citra tentang atau objek tersebut. Secara singkat, sikap ditentukan oleh citra. Pada gilirannya, citra ditentukan oleh sumber-sumber informasi. Diantara sumber informasi yang paling penting dalam kehidupan modern adalah media massa. Media massa tidak mengubah sikap secara langsung melainkan mengubah dulu citra, dan citra mendasari sikap. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci oleh khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai. Dalam kajian tentang media, efek afektif komunikasi massa dalam hal ini televisi juga dapat berfungsi menanamkan ideologi. Apabila yang disajikan televisi itu ternyata cocok dengan apa yang disaksikan permirsanya pada lingkungannya, maka daya penanaman ideologi dari televisi makin kuat. Misalnya, semakin sering seseorang menonton televisi, semaikin mirip persepsinya tentang realitas sosial dengan apa yang disajikan oleh televisi. Usaha untuk menganalisa akibat-akibat penanaman ideologi ini disebut cultivation analysis seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya.
Fiske merupakan salah satu tokoh yang mencoba menjelaskan bagaimana audien televisi menonton televisi dan bagaimana mereka menikmati kesenangan dari aktivitas mereka tersebut. Artinya ia lebih membatasi perhatiannya pada makna yang mengelilingi teks media. Makna ini berputar-putar di sekitar persoalan antara dimensi ideologis dari teks media serta bagaimana makna itu diolah kembali dan ditantang oleh audiennya. Sebagai contoh tayangan opera sabun melakukan penguatan terhadap ideologi ibu rumah tangga. Fiske menjelaskan bahwa baginya teks televisi dipahami dalam hubungannya dengan ideologi. Ia membangun analisanya berdasarkan hipotesis bahwa teks adalah tempat terjadinya konflik antara kekuatan produksi dan model penerimaan.
C. Efek Behavioral
Salah satu perilaku prososial ialah memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Keterampilan seperti ini biasanya diperoleh dari saluran-saluran interpersonal seperti orangtua, teman, pelatih, atau guru. Pada dunia modern, sebagian tugas pendidik telah juga dilakukan oleh media massa. Hal ini biasa disebut efek prososial media massa. Untuk menjelaskan efek prososial tersebut maka perlu menggunakan teori belajar sosial dari Bandura. Menurut Bandura, seseorang belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tetapi dari peniruan atau peneladanan (modeling). Menurutnya proses belajar sosial dalam empat tahapan proses : proses perhatian, proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris, dan proses motivasional.
Selanjutnya Bandura menjelaskan bahwa agar suatu peristiwa yang dilihat dapat diteladani, maka tidak hanya harus merekamnya dalam memori tetapi juga harus mampu membayangkan secara mental bagaimana agar dapat menjalankan tindakan teladan tersebut. Akhirnya tindakan teladan akan dilakukan dengan sendirinya bila dari dalam diri mendorong tindakan itu. Dorongan dari diri sendiri itu timbul dari perasaan puas, senang atau dipenuhi citra diri yang ideal. Edward Thorndike, tokoh behaviorisme yang lain berpendapat bahwa perilaku manusia mengikuti hukum sebab-akibat yang dapat dikontrol dan diciptakan oleh lingkungan.
Berangkat dari penjelasan tersebut, jelas bahwa dimensi behavioral ini merupakan salah satu dimensi yang dimasuki oleh televisi untuk mempengaruhi perilaku khalayak khususnya anak-anak yang cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Pada titik ini, disatu sisi televisi menjadi orangtua kedua bagi anak-anak, guru bagi penontonnya, dan pemimpin spritual yang dengan halus menyampaikan nilai-nilai dan mitos-mitos tentang lingkungan. Namun disisi yang lain sikap dan pendidikan anak, baik pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal di keluarga seperti pendidikan religius pada anak tidak sertamerta ada sejak ia dilahirkan melainkan melalui orangtuanya, wali, atau melalui pendidikan lingkungan sekitar, bukan berbentuk pengajaran, melainkan melalui keteladanan dan peragaan hidup secara riil.  Tak terlepas dari hal itu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berprilaku. Namun demikian, kebiasaan berprilaku dan bertindak tidak sertamerta langsung tergerak segera setelah menonton suatu tayangan. Ambil contoh tayangan bencana kelaparan di Ethiopia. Walaupun Keith Tester seorang pegiat kajian media merasa sangat tergugah dan sedih karena tayangan tersebut, namun pada kenyataannya ia tidak melakukan apa-apa.
Ignatieff dalam tulisannya tentang “The Ethic of Television” menjelaskan bahwa gambar yang kita lihat di televisi, pada dirinya sendiri, tidak mampu menegaskan apapun. Pada dirinya tidak ada pesan moral, kecuali pesan moral yang dipilih untuk dilihat dan diambil darinya. Ignatieff dan Fiske berpendapat bahwa sebuah program televisi hanya bisa menjadi teks yang mempunyai makna ketika ia dibaca oleh audien. Inilah inti persoalan kenapa tayangan gambar bencana kelaparan yang menyedihkan akhirnya menggiring Keith tester untuk tidak melakukan apa-apa kecuali kembali duduk dan bertambah gemuk.
Terlepas dari hal itu, berkaitan dengan pengaruh tayangan media terhadap anak, Pieget dalam penelitiannya mengenai perkembangan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak dibagi menjadi tiga yaitu : perkembangan kognitif, psikomotorik dan afektif. Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, artinya tingkah laku-tingkah laku yang mengakibatkan seseorang memperoleh pengetahuan. Psikomotorik adalah keterampilan untuk menggunakan organ-organ tubuh seperti otot, syarat dan kelenjar. Sedangkan afeksi adalah perasaan senang, kasih sayang, cinta, atau bisa dikatakan satu kelas yang luas dari proses-proses mental, termasuk perasaan emosi, suasana hati dan tempramen. Definisi lain dari afeksi adalah kemampuan mengolah kepekaan rasa dan emosi. Adegan atau gambar dalam komunikasi massa khususnya film kartun dapat memberikan pengaruh positif bagi perkembangan afektif anak.
Secara singkat dapat disimpulakan bahwa efek pesan media massa meliputi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek behavioral. Efek kognitif terjadi apabila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsi oleh khalayak. Efek ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan, atau informasi. Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci oleh khalayak. Efek ini ada hubungannya dengan emosi, sikap, atau nilai. Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati yang meliputi pola-pola tindakan, kegiatan, atau kebiasaan berprilaku.






BAB III
PENUTUP
G. KESIMPULAN
Kerja Ada hubungan antara antara intensitas menonton tayangan serial kartun Upin & Ipin dengan tingkat religiusitas anak di dusun Papringan desa Caturtunggal kecamatan Depok kabupaten Sleman Yogyakarta
a.       Makin sering anak menonton film kartun Upin & Ipin maka makin tinggi tingkat religiusitasnya.
b.      Makin sering anak menonton film kartun Upin & Ipin maka makin tinggi frekuensinya dalam menjalankan ibadah agama. (Dimensi peribadatan)
c.       Makin sering anak menonton film kartun Upin & Ipin maka makin meningkat pengetahuannya tentang ajaran agama Islam. (Dimensi pengetahuan)
d.      Makin sering anak menonton film kartun Upin & Ipin maka makin tinggi tingkat pengamalan ajaran agama Islam. (Dimensi pengamalan)
e.       Berdasarkan hala-hal positif diatas maka hokum menggunakan gambar dan kartun film boleh asalkan tidak mengandur unsure-unsur pengkaburan aqidah, seperti Krisna kecil dll.
Adapun gambar dan film kartun, hukumnya boleh. Adapun hal tambahan yang meringankan hukum dalam masalah ini adalah:
  1. Gambar dan film kartun, bukanlah gambar yang sempurna, yang tidak berbentuk sebagaimana patung.
  2. Gambar tersebut digunakan sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Sedangkan anak-anak sangat menggemari dan bisa terpengaruh karenanya.
  3. Sejak dulu, umat lain sudah memanfaatkan sarana ini untuk menyerang kita dengan gencar melalui berbagai saluran televisi.


Makalah-makalah yang berkaitan :
1. Tahun baru hijriyah dan Masehi antara kesucian dan Propganda
2. Kehidupan remaja sekarang
3. Sejarah Theology Islam
4. Makalah perkembangan pemikiran islam tentang nasinalisme dalam islam
5. Pembuatan Kalender Hijriyah Oleh Umar bin Khottob
6. Tafsir Konsep dalam pemikiran Islam
7. The law of teacher's salary
8. Makalah Peradan Islam


close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==