FUNGSI PERPUSTAKAAN BAGI SEKOLAH

KATA PENGANTAR

            Puji syukur alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat kasih sayangnya kami dituntun menulis karya tulis ilmiyah ini.  dalam keadaan sehat wal’afiyah.

            Sholawat serta Salam tak lupa kami persembahkan kepada Nabi tercinta yang telah berkorban jiwa dan raga demi terbentuknya peradaban manusia penuh dengan keilmiyahan. Dialah makhluk yang paling sempurna yang diutus  kepada seluruh alam sebagai akhir dari para utusan-utusan yang terdahulu.

            Transformsi keilmuan lewat tulis menulis mutlak diperlukan bagi semua lapisan orang berpendidikan, lebih-lebih bagi mahasiswa yang merupakan agent of social change. Dan tentunya skill ini sangat dibutuhkan dalam pembuatan skripsi nanti. Oleh karena itu saya sangat tertarik sekali untuk ikut berkompetisi  dalam karya tulis ilmiyah yang dipelopori oleh komunitas SMART ini sebagai ghiroh Hari Pendidikan Nasional, dan juga sebagai bahan untuk instrokpeksi diri sejauh mana kemampuan kami dalam berkarya tulis.

Dalam memperingati hari pendidikan nasional ini, tentu pengaktualisasian pendidikan dituntut lebih baik dan lebih meningkat yang tentunya peningktan mutu dan kualitas pendidikan harus didukung oleh sarana prasaran pendidikan yang lengkap sperti perpustakaan. Jika saja perpusatakan itu berfunsi sebagaimana mestinya maka tujuan pendidikan akan pasti tercapai.

Kami sebagai penulis yang berstatus manusia mohon saran dan kritik yang onstruktif. Karena mungkin ada kesalahan penulisan dan sebagainya yang perlu kami benahi, seperti kata pepatah kita tidak dapat menilai sebuah gambar jika kita sendiri yang ada dalam bingkai itu. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi tercapainya tujuan pendidikan. Amin

           Penulis

Moh. Hafidurrahman

A. Pendahuluan

Dalam pasal undang-undang Sisdiknas no.2 tahun 1989, ditegaskan bahwa perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang sangat penting. Sebagai sumber belajar maka keberadaan perpustakaan di sekolah sangatlah vital. Karena tercapainya tujuan pendidikan sangat ditentukan dengan adanya sarana dan prasaran yang lengkap yang salah satunya adalah tersedianya perpustakaan sekolah yang memadai. Perpustakaan sekolah mutlak dibutuhkan oleh sebuah lembaga pendidikan seperti sekolah atau kampus, sebab didalam perpustakaan itulah para siswa atau mahasiswa akan menemukan banyak pengetahuan dan informasi, sehingga para peserta didik memiliki wawasan yang luas dalam mengembangkan imajinasi dan skill keilmuanya.

Namun kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan harapan dan fungsi perpustakaan. Kendati sekolah atau kampus sudah menyediakan perpustakaan tapi para peserta didik atau mahasiswa enggan untuk pergi ke perpustakaan, walaupun ada tapi kebanyakan hanya sebatas ngobrol atau basa-basi saja tanpa membaca buku yang tersedia di perpustakaan. Sehingga perpustakaan bukan lagi ajang memperluas cakrawala keilmuan tapi hanya sebuah tempat yang enak untuk nyantai atau berinteraksi dengan teman-teman.

Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, maka sudah merupakan kewajiban bagi setiap sekolah untuk mengusahakan perpustakaan yang ideal dan peraturan tentang kepustakaan untuk kepentingan kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik maupun guru. Sehingga perpustakaan bisa berjalan sesuai dengan fungsinya dan dapat memberikan banyak informasi yang merupakan sumber pengetahuan dan inspirasi bagi semua yang mau memanfaatkannya, sehingga tujuan pendidikan akan segera terwujud.

B. Tujuan penulisan

    Mengetahui fungsi dan sebagai saran penunjang tujuan pendidikan
    Mencari pokok masalah untuk tugas-tugas perpustakaan
    Mengetahui peran perpustakaan dalam kaitannya dengan kurikulum.

C. Manfaat penulisan

B. Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar

Kita melihat kemajuan dunia yang berputar semakin pesat, teknologi

semakin maju dan pembangunan yang hebat telah dikerjakan oleh sementara orang.

Dalam hal ini manusia bukan sekedar sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai subjek pembangunan. Untuk itu melalui profesi perpustakaan kita ikut ambil bagian dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pembanguan adalah masalah teknologi. Dan teknologi adalah informasi. Sedangkan informasi adalah masalah perpustakaan. Demikianlah urutan yang dapat kami simpulkan. Tidak mungkin kita memiliki teknologi canggih kalau kita tidak memiliki informasinya. Semakin maju teknologi, semakin banyak informasi yang kita perlukan. Informasi dari berbagi teknologi yang kita perlukan dalam pembangunan tersebut harus menyertainya, kalau tidak teknologi tersebut akan cacat. Dan jika demikian pembangunan akan gagal. Kita mamiliki sebuah televise yang canggih, tetapi tidak ada informasi yang menyertainya, kemungkinan kita akan memperoleh kesulitan kalau ingin mengganti sparepart, atau ingin memainkan video, karena buku petunjuknya tidak ada. Karena itu informasi harus menyertai sebuah teknologi. Kadang-kadang kita enggan menyimpan informasi demi informasi, sebab kalau kita kumpulkan semakin banyak semakin menjadi beban. Sebaiknya berbagi informasi itu dikumpulkan di sebuah tampat yang disebut sebagi perpustakaan. Sumber informasi di perpustakaan diolah dan diatur sehingga mudah menemukan kembali untuk dipakai, walaupun perpustakaan masih kecil sumber informasinya tetap kita olah sesuai dengan standar, dan akhirnya jika perpustakaan menjadi besar, layanan akan tetap baik dan lancar. Dalam hal ini kita sorot keberadaan perpustakaan sekolah, sebagai suatu lembaga yang akan memberikan dasar dari segala dasar. Perpustakaan sekolah diharapkan dapat menemukan kembali mutu pendidikan dasar, menjadi dasar bagi pendidikan berikutnya atau menjadi bekal utama dalam menempuh kehidupan. Kita sering mendengar mutu guru yang demikian merosot. Mutu tersebut dapat kita naikkan jika kita mau menengok ke perpustakaan, disana ada harapan. Dari perpustakaan sekolah ini diharapkan guru mau belajar lagi membaca apa yang berhubungan dengan masalah belajar mengajar. Berbagi metode mengajar yang paling efektif untuk masa kini. Di perpustakaan sekolah anak dapat mengembangkan minat mereka, mencari bacaan yang memperkaya pengalaman melalui bacaaan yang tersedia. Melalui perpustakaan sekolah diharapkan anak dapat mengembangkan ketrampilan untuk mencari informasi guna keperluan mereka secara mandiri. Mereka kita berikan wawasan mengenai “era informasi”, “era globalisasi”. Kita berikan cara mengatasi hidup di dalam kedua era tersebut.dan dalam hal ini perpustakaan menjawab kedua tantangan tersebut.

C. Tugas dan Fungsi Perpustakaan Sekolah dan Proses Belajar Mengajar

Secara garis besar tugas dan fungsi perpustakaan sekolah adalah sebagi berikut :

    Sebagai pusat belajar mengajar. Perustakaan sekolah berfungsi membantu program pendidikan pada umumnya sesuai dengan tujuan kurikulum masing-masing. Mengembangkan kemampuan anak mengembangkan sumber informasi. Bagi guru, perpustakaan sekolah merupakan tempat untuk membantu guru mengajar dan memperkaya pengetahuan.
    Membantu anak didik memperjelas dan memperluas pengtahuannya tentang suatu pelajaran di kelas.
    Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca yang menuju ke kebiasaan belajar mandiri.
    Membantu anak untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemarannya.
    Membiasakan anak untuk mencari informasi di perpusakaan akan menolongnya kelak dalam pelajaran selanjutnya.
    Perustakaan sekolah merupakan tempat memperoleh bahan rekreasi sehat, melalui buku-buku bacaan fiksi.
    Perpustakaan sekolah memperluas kesempatan belajar bagi anak didik.

Semua keterangan di atas dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tanpa perpustakaan tidak mungkin proses belajar mengajar berjalan lancar. Bahan bacaan

yang paling murah adalah yang disediakan oleh perpustakaan, tidak disediakan masing-masing siswa. Dengan adanya perpustakaan sekolah, anak belajar hidup bersama, bekerja sama dengan teman mereka dengan bimbingan dari guru. Mereka akan bisa menghargai milik orang lain, yaitu harta milik perpustakaan. Dengan perpustakaan, gru dapat meningkatkan pengajaran dengan bahan yang ada di perpustakaan.

D. Peranan Perpustakaan Sekolah Dalam Menunjang Kurikulum

Tugas dan fungsi perpustakaan sekolah tidak boleh menyimpang dari tugas dan fungsi di mana perpustakaan itu bernaung. Pada jaman dahulu tugas utama dari sekolah adalah melatih kemahiran dalam mata pelajaran tertentu. Untuk tiap-tiap mata pelajaran disediakan buku-buku pelajaran. Seluruh program dan organisasi sekolah serta metode mengajar dan alat-alat pelajaran ditujukan untuk mencapai taraf kemahiran yang telah ditentukan. Buku-buku pelajaran memainkan peran penting dalam system ini. Buku dan sumber pengetahuan lain tiadak dirasa perlu, sebab buku pelajaran sudah dianggap cukup mencakup segala sesuatu yang perlu diketahui anak. Mengajar adalah menguasai kepada anak untuk mempelajari halaman demi halaman buku pelajaran itu. Dan tidak jarang guru menyuruh untuk menghafal bagian tertentu dari buku pelajaran tersebut. Perpustakaan yang berisikan berbagai jenis sumber pengetahuan dan diatur dalam ruang khusus, tidak dirasa perlu; kalaupun ada buku-buku gunanya hanya sekedar persediaan untuk bacaan berupa hiburan. Jenis dan ruang lingkup buku tidak ditentukan dengan seksama. Para pelajar diperbolehkan meminjam buku-buku, tetapi tidak diatur dan diharuskan memakai buku-buku untuk menambah pengetahuan mereka. Cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang dewasa ini membuat manusia sadar, bahwa tugas sekolah tidak cukup melatih ingatan dan kemahiran dalam beberapa mata pelajaan saja. Isi pelajaran tidak bisa lagi dibatasi kepada isi buku pelajaran dan metode mengajar tidak cukup berdasarkan hafalan dan ingatan, pendidikan bukan hanya menyampaikan dari mutu dan buku pelajaran kepada anak didik, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak didik untuk ikut aktif dalam usaha membuka pikirannya dan membiasakan dia memperkaya pengetahuan dengan usaha sendiri. Pendidikan di jaman sekarang menginginkan agar semata-mata pelajaran sebanyak mungkin diintegrasikan. Batas antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain makin kabur, dan terkadang hilang. Kurikulum tidak lagi dianggap sebagai seri mata-mata pelajaran yang mempunyai batas isi antara yang satu dengan yang lain. Isi pelajaran haruslah lebih mendekati pengalaman-pengalaman hidup yang sebenarnya agar tiap-tiap anak lebih mampu lagi mampersiapkan diri untuk hari kemudian. Pelajaran harus mengikuti arah perkembangan anak didik dan pendidikan modern lebih banyak memperhatikan bakat individual anak-anak. Tetapi ada beberapa bidang pengetahuan dan kemahiran yang dianggap wajib dikuasai oleh tiap-tiap anak dan sekolah-sekolah harus mengajarkan mata pelajaran inti kepada tiap anak. Setelah para pelajar makin tinggi kelasnya masing-masing sebaiknya sudah mampu memupuk bakat-bakat tertentu yang mereka miliki dan memperluas pengetahuan di bidang yang sesuai dengan bakat-bakat masing-masing. Kurikulum yang sudah hidup dan dinamis, serta proses belajar yang berdasarkan integrasi dan koordinasi ini memerlukan sumber-sumber pengetahuan yang luas dan beraneka ragam : buku pelajaran, buku bacaan, berkala, pamphlet, gambar, peta, guntingan surat kabar dan bahan audio visual. Perpustakaan sekolah diadakan bukan lagi sekedar melayani selera pelajar untuk membaca buku-buku pelipur lara perpustakaan itu harus mampu membantu pelajar mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, dan melahirkan kecekatan. Perpustakaan itu harus mampu mendorong anak-anak dalam aktifitas kulikuler dan ekstrakulikuler. Dengan kata lain perpustakaan sekolah merupakan satu kesatuan integral dengan alat-alat pendidikan yang lain. Koleksi yang lengkap serta variasi subjek yang cukup, memperluas kesempatan pada pemakainya untuk menambah cakrawala pengetahuannya. Sebuah perpustakaan yang baik, dapat memberikan latihan kepada pelajar cara-cara mencari dan menemukan informasi dalam perpustakaan yang walau bagai mana besarnya. Mereka akan mendapatkan ketrampilan menemukan, menjaring dan menilai informasi. Kemampuan mereka menarik kesimpulan yang tepat akan terbina. Ketrampilan-ketrampilan ini sangat berguna bagi anak didik di hari kemudian. Kebiasaan belajar sendiri memakai buku, majalah dan bahan pustaka yang lain akan membawa manfaat besar dalam hidupnya. Dunia yang cepat maju menginginkan agar orang jangan berhenti belajar setelah meninggalkan bangku sekolah. Penemuan-penemuan baru setiap tahun menambah pengetahuan manusia dan ikut merubah hidupnya dan kita mau tidak mau harus berusaha mendapatkannya, bukan hanya mengikuti perubahan-perubahan itu, tetapi juga ikut membneri sumbangan terhadap kemajuan manusia.

E. Guru Pustakawan dan Tugasnya

Guru pustakawan hendaknya mampu menyebarluaskan isi dan pencapaian tugas perpustakaan, membina dan mengembangkan minat baca anak. Sekolah merupakan alat untuk meletakkan dasar-dasar dan citra yang sebenarnya mengenai perpustakaan. Sekolah juga merupakan tempat pesemaian minat dan kebiasaan membaca yang sangat potensial bagi anak-anak. Guru pustakawan hendaknya terampil dan mempunyai kemauan untuk membantu orang lain. Guru senior atau wakil kepala sekolah kiranya sangat tepat untuk koordinator ini.  Besar kecilnya hasil yang dicapai oleh perpustakaan terganung sifap-sifap guru pada sekolah tersebut. Perpustakaan dapat memberi kesan hidup bila petugasnya mencintai pekerjaannya, tahu seluk beluknya, mengerti perannya dalam pendidikan modern, dapat menyelami jiwa anak-anak, dapat membuat warga sekolah merasa bahwa perpustakaan itu ada di sekolah untuk melayani keperluan intelektual, moral dan kultural mereka. Perpustakaan ini dapat cepat tumbuh, bila kepala sekolah dan guru serta murid-murid merasa bahwa persoalan perpustakaan itu adalah tanggung jawab bersama. Peran guru haruslah pandai membawakan peranan perpustakaan itu agar betul-betul menjadi darah daging system pendidikan dan pengajaran,, dan bukan bagian yang terpisah berdiri sendiri. Organisasi, rencana dan aktifitas perpustakaan itu haruslah tertuju kepada maksud ini. Guru pustakawan seharusnya mengetahui rencana pelajaran sekolah agar ia dapat membantu guru-guru dan pelajar-pelajar. Ia harus menanamkan kebiasaan membaca buku-buku ilmiah dan juga buku hiburan. Ia juga harus pandai menciptakan suasana ruang atau tempat perpustakaan yang menyenangkan, sehingga para pemakai merasa betah membaca dan belajar di perpustakaan. Dengan kebijaksanaan, petugas perpustakaan haruslah pandai menanamkan tanggung jawab kepada anak-anak agar mereka ikut bekerja sama menjaga agar aturan tata tertib perpustakaan jangan dilanggar. Disiplin dalam perpustakaan baiknya datang dari hati sanubari anak-anak sendiri, jangan karena tekanan dan teguran atau hukuman. Bakat-bakat dengan pengetahuan perlu sekali, tetapi agar perpustakaan efektif dapat dipakai, jangan sampai kacau dan jangan sampai hilang buku-bukunya. Diperlukan teknik pengendalian perpustakaan, pengetahuan teknik yang seksama perlu sekali jika jumlah buku-buku sudah mencapai jumlah ribuan. Koleksi perpustakaan di bawah seribu dapat memakai system sederhana.

F. Kesimpulan

Dengan terciptanya Undang-Undang No.2 tahun 1989, kita memasuki era pendidikan modern. Pada pendidikan yang modern, tidak mungkin sebuah sekolah sebagai penyelenggara pendidikan tanpa memiliki perpustakaan. Tanpa adanya perpustakaan, pendidikan tetap berjalan akan tetapi tidak akan mampu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yang merupakan tujuan pendidikan kita. Manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tangguang jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dengan adanya perpustakaan sekolah, diharapkan dapat menarik peserta didik untuk lebih banyak membaca, sehingga mereka dapat mengembangkan imajinasi dan memiliki wawasan luas karena di dalam perpustakaan mereka dapat menemukan banyak informasi dan pengetahuan. Dengan demikian tujuan pendidikan kita akan segera terwujud.

Biografi

 Penulis adalah anak ke lima dari pasangan Moh Muri dengan Juhriyah, lahir di Sampang 29 Juli 1987 desa Sejati kecamatan Camplong. Semua jenjang pendidikannya  ditempuh di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Mulai dari tingkat MI sampai Aliyah dan sekarang masih aktif kuliah di semester IV Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Khairat Pamekasan.

Tentang dunia jurnalistik sudah dia tekuni sejak bangku aliyah kelas tiga setelah mengikuti pelatihan diklat pers dan jurnalistik yang dilaksanakan oleh BEM Al-Khairat 2004 . Dia pernah menjabat sebagai Wapimred majalah Mutiara 2003-2004, perintis dan redaktur majalah Bright Bulletin 2005-2006, Pembina majalah Bright Bulletin mulai 2007 sampai sekarang. Adapun prestasi-prestasi yang telah dicapinya adalah, juara II baca kitab tingkat anak-anak 1999, bintang pelajar MI tahun 2000 dan   MA tahun 2004,  juara II penulisan resensi buku lomba kelas meeting 2005. juara III hias mushaf 2004, dan  juara III lomba presentasi 2005. 

DAFTAR PUSTAKA

    Ahmad Saleh, Ibnu, 1987, Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta, Hidakarya Agung.
     Depdikbud, 1996, Pedoman Teknis Penyelenggaraan Perpustakaan Lanjutan Tingkat Pertama, Jakarta, Depdikbud.
    Depdikbud Prop. Jateng, 2000, Organisasi Dan Tata Laksana Perpustakaan (Materi Pelatihan Perpustakaan), Jawa Tengah.
    Soeatminah, 1992, Perpustakaan Dan Pustakawan, Yogyakarta, Kanisius.
    Tim, 2003, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, PT. Kolan Klede Putra Timur.
    Tim Penyusun Kamus Pusat Jakarta, 2001, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ke Tiga, Jakarta, Balai Pustaka.