Makalah tentang Sejarah theology



SEJARAH DAN KONSEP-KONSEP TEOLOGI ASY’ARIYAH
Oleh: Bukhori  Muslim Mursit
A.  Pendahuluan.
      Asal-mula Timbulnya Asy’ariyah
Pada permulaan abad ketiga Hijriyah atau bersamaan dengan abad ke tujuh Masehi Aliran Mu’tazilah mulai timbul dan berkembang di dunia Islam. Aliran yang dibawa oleh Washil Ibn ‘Atha’ itu sudah mulai banyak mempengaruhi Masyarakat Islam yang dimulai dari tahun 100 H. atau tahun 718 M. Dan Aliran ini mencapai masa keemasannya dalam mempengaruhi Masyarakat Islam pada masa Khlifah-khalifah Abbasiyah, yaitu pada masa Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim dan Al-Wasi’. Bertambah lagi setelah mendapat dukungan berat dari pemerintah dengan dijadikannya Mu’tazilah sebagai Madzhab resmi Negara pada masa Al-Ma’mun.
 Dalam menyebarkan ajaran-ajarannya, para pemuka mu’tazilah mengunakan kekerasan bahkan sampai pada penganiyayaan, seperti yang terjadi pada Imam Ahmad Ibn Hambal yang dikenal dengan peristiwa Mihnah atau Inquisition, yaitu semacam ujian Aqidah
Pada masa itu ajaran yang ditonjolkan oleh kaum Mu’tazilah adalah bahwa Al-Quran tidak Qodim dan diciprtakan.Bagi yang tidak mengakui ke-Hadistan Al-Quran tersebut, bagi nereka adalah Syirik, karena masih ada yang Qadim selain Allah AWT.
Selanjutnya, karena Faham-faham Mu’tazilah banyak yang mengedepankan rasio dari pada wahyu dan kebanyakan faham-faham mereka tidak berpatokan pada Al-Sunah, sedangkan pada saat itu yang cukup berpengaruh adalah para Fuqaha dan para Ahli Hadist ditambah lagi sikap Imam Ahmad Ibn hambal yang dengan keberaniannya bersikukuh pada keyakinannya sehingga banyak yang simpati dan tertarik pada Beliau, akhirnya terhadap ajaran-ajaran Mu’tazilah banyak reaksi dari masyarakat bawah yang tidak sefaham dengan mereka
Setelah wafatnya Al-Mu’tashim dam Al-Wasi’, datanglah Al-Mutawakkil sebagai Khalifah berikutnya. Selanjutnya Al-Mutawakkil membatalkan Mu’tazilah sebagai madzhab resmi Negara karena ingin mengambil simpati dari masyarakat yang mayoritas tidak sefaham dengan Mu’tazilah
Dan pada awal abad ketiga, muncullah Aliran Teologi baru dalam Islam, yaitu Aliran Asy’ariyah atau Aliran Asya’irah yang dibawa oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Aliran ini diberi nama Asy’ariyah atau Asya’irah karena dinisbatka pada pendiri pertama, yaitu Imam Asy’ari. Namun akhirnya Aliran ini lebih dikenal dengan nama Aliran Ahli al-Sunah wal Jama’ah atau Sunni, karena Aliran ini banyak berpegang teguh terhadap al-Sunah atau Hadist.
Abu al-Hasan al-Asy’ari lahi di Basrah pada tahun 260 H. Pada mulanya Beliau juga adalah salah satu pengikut Mu’tazilah, sebab Beliau adalah murid dari al-Juba’I, salah satu tokoh Mu’tazilah. Bahkan karena bakat dan keahliannya Biliau menggantikan gurunya dalam perdebatan-perdebatan mengenai Mu’tazilah. Beliau menjadi Pengikut Mu’tazilah selama kurang lebih 40 tahun
Ada beberapa versi tentang kenapa Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah dan membentuk Aliran baru. Ada yang mengatakan bahwa Beliau bermimpi Nabi Muhamad SAW. Dalam mimpi itu Nabi mengatakan bahwa Madzhab Ahli Hadistlah yang benar dan Madzhab Mu’tazilah salah. Menurut versi yang lain, Beliau keluar dari Mu’tazilah karena Beliau berdebat dengan gurunya, al-Juba’I, dan dalam perdebatan itu, al-Juba’i tidak menjawab pertanyaan al-Asy’ari. Salah satu petikan dari perdebatan itu adalah sebagai berikut:
Al-Asy’ari  :”Bagaimana kedudukan ketiga orang berikut: Mukmin, Kafir dan  anak kecil di Akhirat?”
Al-Juba’i    :”Yang Mukmin mendapat tingkat baik dalam surga, yang kafir masuk neraka dan yang kecil lepas dari neraka”.
Al-Asy’ari  :”Kalau yang kecil ingin memperoleh tempat yang lebih tinggi di surga, mungkinkah itu?”
Al-Juba’i    :”Tidak, yang mungkin mendapat tempat yang baik itu, karena kepatuhannya kepada Tuhan. Yang kecil belum mempuyai kepatuhan yang seperti itu”.
Al-Asy’ari  :”Kalau anak itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukanlah salahku. Jika sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik seperti yang dilakukan orang Mukmin itu.”
Al-Juba’i    :”Allah akan menjawab: Aku tahu bahwa jika engkau terus hidup engkau akan berbuat dosa dan oleh karena itu akan kena hokum. Maka untuk kepentinganmu Aku cabut nyawamusebelum engkau sampai pada umur tanggung jawab.”
Al-Asy’ari  :”Sekiranya yang kafir mengatakan: Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa anak kecil itu. Apa sebabnya Engkau tidak jaga kepentinganku?” Sampai di sini al-Juba’i terpaksa diam.
Adapun awal mula Beliau keluar dari Mu’tazilah, adalah bahwa Beliau mengasingkan diri di rumahnya selama 15 hari, kemudian setelah itu pada hari Jumat Beliau mengumpulkan beberapa orang di Masjid dan Beliau naik ke Mimbar dan Berkata;


“Hadirin sekalian, selama ini saya mengasingkan diri untuk berfikir tentang keteranganketerangan dan Dalil-dalil yang diberikan masing-masing golongan. Dalil-dalil yang diajukan, dalam penelitian saya, sama kuatnya. Oleh karena itu saya mohon petunjuk pada Allah dan Dia memberi petunjuk pada saya tentang keyakinan yang tuliskan dalam kitab ini, dan saya lepaskan keyakinan-keyakinan yang saya anut selama ini seperti saya melepas baju ini”

Kemudian Beliau melepaskan baju yang Beliau pakai dan memberikan kitab yang beliau tulis pada orang-orang yang hadir saat itu.
Adapun Ajaran-ajaran Beliau, Beliau tuliskan dalam kitabnya yang diberi nama “الإبانة B. Sejarah Perkembanagn dan Tokoh-tokoh Aliran Asy’ariyah
Dalam perkembangannya, Aliran Asy’ariyah cukup cepat, karena Aliran muncul pada saat dibatalkannya Mu’tazilah sebagai madzhab resmi Negara oleh al-Mutawakkil. Sehingga dalam mempengaruhi masyarakat, Aliran ini sangat mudah dan dapat disimpulkan bahwa factor faktor yang cukup dominan dalam perkebangan Asy’ariyah sebagai berikut:
1.                  Aliran Mu’tazilah baru dibatalkan oleh al-Mutawakkil sebagai Madzhab resmi Negara, sehingga Ast’ariyah mempunyai peluang yang cukup luas dalam menyebarkan ajarannya.
2.                  Ajaran-ajarannya tetap berpatokan pada al-Sunah atau al-Hadist. Dan pada saat itu yang sangat berpengaruh pada masyarakat adalah para Ahli Hadist dan para Fuqaha, sehingga tidak heran pengikut-pengikut dari Aliran ini banyak dari kalangan Ahli Hadist dan Fuqaha, seperti Imam Malik, Syafi’I dan Imam Ahmad. Dalam kitabnya, Maqalat al-Islamiyin, Imam Asy’ari menyebutkan Alirannya itu dengan nama “Ahlu al-Hadist wa al-Sunah”. Karena pendapatnya selalu berpijak pada al-Sunah.
3.                  Cara pandang Aliran Asy’ariyah yang sederhana dan tidak mengandalkan rasio yang terlalu dalam seperti Mu’tazilah, sehingga ajaran-ajarannya mudah dijangkau oleh masyarakat luas.
Dalam penyebaran Aliran Asy’ariyah, ada beberapa tokoh yang sangat berperan di dalamnya yang menyebarkan ajaran-ajaran asy’ariyah ke berbagai daerrah. Di antara tokoh-tokoh itu, sepertio Abu Bakar Muhamad al-Baqillani, Beliau berguru pada dua murid dari Imam al-Asy’ari, Mujahid dan Abu al-Hasan al Bahili. Beliau ( al-Baqillani) menyebarkan Aliran Asy’ariyah di belahan timur .namun walaupun Beliau beraliran Asy’ariyah, ada beberapa pendapat Beliau yang tidak sama dengan Asy’ariyah. Selain al-Baqillani yang pendapatnya ada yang tidak sejalan dengan Asy’ariyah namun masih pengikut Asy’ariyah adalah al-Juwaini atau lebih dikenal dengan Imam al-Haramain, Beliau adalah guru dari Imam al-Ghazali. Adapun yang menyebarkan Aliran Asy’ariyah di Afrika dan Andelusia, Beliau adalah Ibn Tumart dan Beliau juga mendirikan kerajaan Muwahhid di Afrika Utara dan Spanyol.
Namun yang paling penting dalam menyebarkan Aliran Asy’ariyah dan paling besar pengaruhnya pada Umat Islam adalah Abu Hamid al-Ghazali, Hujjatu al-Islam (w. 505 H). Namun menurut sebagian sumber Imam Ghazali bukanlah pengikut Asy’ariyah, akan tetapi Beliau mempunyai pemikiran sendiri yang sama dengan Faham-faham yang ada dalam Asy’ariyah
Dalam Perjalanannya, Asy’ariyah pernah mengalami kemunduran, yaitu pada masa tumbangnya Khalifah al-Mutawakkil yang diganti oleh Dinasti Buwaihi dengan Perdana Mentri al-Sahahib Ibn ‘Abbad dari Sultan Fakhruddaulah. Sebetulnya Dinasti Buwaihi adalah orang syi’ah, namun dalam teologinya Syi’ah mempunyai dasar-dasar yang sama dengan Mu’tazilah. Begitu pula pada masa Perdana Mentri selanjutnya, Tughri dari Dinasti Saljuk pada tahun 1055, Asy’ariyah masih berada di bawah Mu’tazilah. Dan setelah jatuhnya Perdana Mentri ini dan diganti oleh Nidzam al-Mulk, Asy’ariyah kembali muncul ke permukaan, karena Nidzam al-Mulk masih dari golongan Asy’ariyah. Bahkan pada masa ini (masa Nidzaml-Mulk) didirikan sekolah-sekolah yang diberi nama al-Nidzamiyah. Dan pada masa ini pula Asy’ariyah mulai menyebar ke pnjuru Dunia Islam. Di Mesir Aliran Asy’ariyah disebarkan oleh Shalahuddin al-Ayubi. Di dunia Islam bagian timur Ajaran Asy’ariyah disebarkan oleh Mahmud al-Ghaznawi (999-1030) sampai ke India.

C. Konsep-konsep Teologi Asy’ariyah
Dalam konsep teologisnya, Aliran Asy’ariyah selalu berada di tengah-tengah antara Mu’tazilah dan Aliran-aliran yang lain. Dan seperti disebutkan di depan, ajaran Asy’ariyah selalu berpatokan pada al-Sunnah. Dalam hal ini penulis perlu menuliskan beberapa konsep teologi yang ada dalam Aliran Asy’ariyah.
            1. Masalah Sifat-sifat Tuhan
Dalam masalah sifat-sifat Allah, Asy’ariyah berada di tengah-tengah antara Mu’tazilah dan Mujassimah. Menurut Mu’tazilah; Allah tidak mempunyai Sifat-sifat seperti yang ada dalam al-Quran. Mereka hanya mengakui empat sifat saja bagi Allah, yaitu Wujud, Qidam, Baqa’ dan Wahdaniyat.Mereka meniadakan sifat-sifat yang lain, saperti Sama’, Bashar, Kalam dan Sifat-sifat yang lain. Adapun yang ada dalam al-Quran, menurut mereka bukan sifat akan tetapi Asma Allah seperti halnya Rahman, Rahim Asma-asma Allah yang lain. Adapun Mujassimah, mereka berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat-sifat seperti halnya sifat-sifat yang dimiliki Hawadist (selain Allah). Namun Asy’ariyah berada di tengah-tengah dari kedua pendapat ini. Menurut mereka (Asy’ariyah) Allah mempunyai Sifat-sifat namun sifat tersebut tidak sama dengan sifat yang dimiliki oleh Hawadist. Jadi sifat Mahamendengar-nya Allah tidak sama dengan mendengarnya manusia atau makhluq yang lain. Begitu pula sifat-sifat Allah yang lain.
2. Masalah Qudratullah & Perbuatan Manusia
Dalam hal ini Asy’ariyah berada di antara Jabariyah dan Mu’tazilah. Menurut Jabariyah manusia sama sekali tidak mempunyai kemampuan untuk menciptakan sesuatu (إحداث شيئ )dan tidak mampu untuk berusaha terhadap sesuatu (كسب شيئ ) akan tetapi manusia hanyalah begaikan daun yang ditiup angina. Menurut Mu’tazilah, manusia mempunyai kekuatan penuh untuk menciptakan perbuatan mereka dengan kemampuan yang dititipkan oleh Allah padanya. Adapun Asy’ariyah mengambil jalan tengah. Mereka mengatakan bahwa manusia tidak mampu untuk menciptakan sesuatu (إحداث شيئ ) namun dia mempunyai kemampuan untuk berusaha dan berikhtiyar.
3. Masalah Melihat Allah di Akhirat
Adapun dalam hal ini, Asy’ariyah berada di antara Mu’tazilah dan Musyabbihah. Menurut Mu’tazilah Allah tetap tidak bisa dilihat, dan nereka men-Ta’wil ayat yang menjelasakan hal tersebut. Adapun menurut Musyabbihah, Allah dapat dilihat dengan bentuk-bentuk tertentu dan terbatas (Nukayyaf dan Mahdud). Dan menurut Asy’ariyah Allah dapat dilihat namun namun bukan dengan bentuk-bentuk tertentu atau terbatas.
4. Tentang Ayat-ayat Yang Ada Keserupaan
Tentang ayat-ayat yang ada penyerupaan Allah dengan makhluq-Nya, Mu’tazilah men-Ta’wil ayat-ayat tersebut, seperti  dalam Lafadz يدالله , mereka men-Ta’wil nya dengan kerajaan Allah (سلطان الله ). Menurut Hasywiyah yang dimaksud lafadz tersebut adalah Tangan Allah sama dengan tangan kita, manusia. Adapun Asy’ariyah berpendapat bahwa yang dimaksud يدالله adalah tangan Allah namun bukan seperti tangan kita akan tetapi tangan sifat, sama seperti halnya sifat-sifat yang lain seperti mendengar, melihat atau yang lain.
5. Tentang al-Quran.
Menurut Mu’tazilah al-Quran adalah Hadist dan diciptakan oleh Allah. Menurut Hasywiyah al-Quran adalah Huru-huruf yang terpotong-potong dan Jism yang tertulis serta warna yang dituliskan. Asy’ariyah mengambil jalan tengah dengan mengatakan bajwa al-Quran adalah Kalamullah yang tidak mungkin berubah dan tidak pula siciptakan serta tidak Hadist. Adapun Huruf-huruf, Jism dan suara-suaranya adalah Makhluq.
Sebagai Aliran yang keluar dari Mu’tazilah, Asy’aryah dalam konsep-konsepnya selalu bertentangan dengan Mu’tazilah, seperti dalam masalah keadilan Tuhan harus menyiksa orang-orang yang tidak iman dengan memasukkan ke neraka dan memasukkan orang mukmin ke sorga, masalah al-Manzil Bain al-Manzilatain, dan tentang orang yang melakukan dosa besar. Menurut Asy’ariyah Tuhan mempunyai hak Mutlak terhadap orang yang beriman dan yang tidak. Apakah mau dimasukkan ke sorga atau ke neraka. Seandainya Tuhan berkehendak memasukkan semua manusia (baik yang iman atau yang tidak) ke neraka, maka bukan berarti Tuhan dzalim, karena keharusan bagi Tuhan untuk menyiksa orang yang tidak beriman atau memberi pahala pada orang yang Mukmin. Dan juga Asy’ariyah tidak mengakui tentang adanya al-Manzil Bain al-Manzilataini. Dan mereka mengatakan bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin namun dia Fasiq. Dan masih banyak konsep-konsep teologi Asy’ariyah yang tidak sejalan dengan Mu’tazilah.

D. Penutup
Kesimpulan dari yan telah dipaparkan dari depan, bahwa Asy’ariyah adalah golongan yang timbul karena adanya reaksi terhadap faham-faham Mu’tazilah. Pencetus pertamanya adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy ‘ari yang kemudian nama aliran ini dinisbatka pada pencetusnya. Kemudian Aliaran ini dilanjutkan oleh pengikut-pengikut  Asy’ariyah, seperti al-Baqillani, al-Juwaini, Ibn Tumart dan al-Ghazali. Secara keseluruhan ajaran Asy’ariyah berbrda dengan Mu’tazilah, karena Imam al-Asy’ari adalah pengikut Mu’tazilah namun Beliau keluar, seperti masalah sifat Tuhan, al-Quran, keadilaan Tuhan dan lain sebagainya.



















Daftar Pengambilan
  1. Zahrah Abu, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah, Dar al-Fikr ‘Arabi
  2. Nasution Harun, Teologi Islam, Aliran-aliran Sejarah Analisis Perbandingan, UIP 2007, cet. 5, Jakarta
  3. Ensiklopedi Islam, Vol. I





























HISTORIS DAN KONSEP-KONSEP ALIRAN ASY’ARIYAH
a. Asal-mula dan Berkembangnya Asy’ariyah
            Asy’ariyah atau juga dikenal dengan Asya’irah adalah sebuah Aliran teologi dalam Islam. Aliran ini dipelopori oleh seorang Imam yang pada awalnya Beliau adalah termasuk salah satu pengikut Mu’tazilah. Beliau adalah Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Beliau lahir di Bashrah pada tahun 260 H. Sejak awal Beliau menganut faham Mu’tazilah sampai Beliau berusia + 40 tahun. Beliau berguru pada salah seorang tokoh Mu’tazilah, al-Juba’i. karena kecerdasan dan kefashihannya, Beliau sering diperintahkan gurunya untuk menggantikan gurunya tersebut dalam perdebatan.
Pada usia + 40 tahun, tepatnya pada awal abad ketiga Hijriyah, Imam Asy’ari keluar dari Mu’tazilah dan membentuk Aliran teologi baru yang diberi nama “Asy’ariyah” atau “Asya’irah”. Nama aliran ini diambilkan dari nama pencetus pertamanya, yaitu Imam Asy’ari sendiri. Namun pada akhirnya aliran ini lebih dikenal dengan nama “Ahli al-Sunah wa al-Jama’ah”
            Adapun penyebab Beliau keluar dari Mu’tazilah dan membentuk aliran baru, menurut sebuah versi, karena Beliau pernah berdebat dengan gurunya, al-Juba’I, tentang orang mukmin, orang kafir dan anak kecil nanti di Akhirat, Apakah masuk neraka, sorga atau yang lain. Karena gurunya tidak dapat menjawab pertanyaannya, Imam Asy’ari mengasingkan diri di rumahnya selama 15 hari. Dan pada hari ke-15 Beliau liau mengumpulkan beberapa orang di masjid pada hari Jumat dan bweliau naik ke Mimbar dan menyatakan diri lepas dari Mu’tazilah sebagaimana Beliau melepas bajunya, dan pada saat itu pula melepas baju yang Beliau pakai. Dan beliau “membuat” aliran baru yang beliau tuliskan pada kitab beliau.
            Karena pada saat itu bersamaan dengan runtuhnya Mu’tazilah dan bersamaan pula dengan banyaknya reaksi masyarakat bewah terhadap Faham-faham Mu’tazilah, Aliran Asy;ariyah mudah untuk menyebarkan faham-fahamnya  pada masyarakat, sehingga aliran ini cepat meluas di dunia Islam, ditambah lagi para penyebar-penyebar dan beberapa pengikutnya adalah tokoh-tokoh yang cukup berpengaruh pada saat kitu, seperti al-Baqillani, al-Juwaini atau lebih dikenal dengan Imam al-haramain, al-Ghazali dan pengikut-pengikut yang lain, seperti Imam Malik, Syafi’i dan Imam Ahmad Ibn Hambal. Sehingga aliran ini banyak peminatnya dan cepat meluas sampai ke Afrika, dan dunia Islam Bagian timur, seperti India, Irak dan Negara-negara lain.

b. Konsep-konsep Ajaran Mu’tazilah
            Karena Imam Asy’ri adalah pemgikut yang keluar dari Mu’tazilah, Ajaran-ajarannya banyak atau bahkan keseluruhan bertentangan dengan ajaran yang ada dalam Mu’tazilah. Seperti dalam masalah sifat Tuhan, yang menurut Mu’tazilah tuhan tidak mempunyai sifat kecuali empat sifat Dzati, yaitu Wujud, Qidam, Baqa’ dan Wahdaniyat, menurut Asy’ariyah selain mempunyai sifat yang empat Tuhan juga mempunyai Sifat-sifat yang lain, seperti Sama’, Bashar, Kalam dan sifat-sifat yang lain yang ada dalam al-Quran dan Hadist. Dan Tuhan Mendengar, Melihat, mengetahui dengan sifat itu sendiri. Namun sifat tidak mungkin terlepas dari Dzat. Begitu juga dalam masalah keadilan (kewajiban) Tuhan menyiksa orang-orang yang beriman atau memberi pahala pada mereka yang beriman, Asy’ariyah berseberangan dengan Mu’tazilah. Bagi mereka Tuhan tidak wajib untuk menyiksa atau memberi pahala pada orang yang beriman atau yang tidak. Karena Tuhan, menurut mereka mempunyai Hak Mutlak apakah mau mnyiksa atau memberi pahala pada siapa saja yang dikehendaki Tuhan.
Begitu pula pada masalah Qadim atau Hadist-nya al-Quran yang menurut Mu’tazilah Hadist menurut Asy’ariyah Qadim. Dan juga tentang orang yang berbuat dosa besar, al-Manzil Bain al-Manzilatain, Qudratullah dan Perbuatan Manusia dan Lafadz-lafadz yang ada dalam al-Quran yang ada keserupaan Allah dan Makhluq-Nya, semua pendapat Asy’ariyah bertentangan dengan Mu’tazilah.

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==