KONSEP TASAWWUF MENURUT ROBI’AH AL-ADAWIYAH


Oleh : MOH. HAFIDURRAHMAN 
STAI AL-KHAIRAT PAMEKASAN
Semester III.B      NIM : 2043

            Secara bahasa Al-Mahabbah diartikan  mayl al-thob ila al-syay al-ladzdz atau suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang melezatkan atau mengenakkan. Menurut al-qusayiri al-mahabbah atau al-hubb diambil dari kata habab (gelembung air) yang selalu diatas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung diatas air ketika hujan turun. Diatas cinta ini hati merasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar keriduannya untuk bertemu kekasihnya.
            Pembahasan tentang cinta kepada Allah SWT. cenderung mengaitkan Robi’ah Al-‘Adawiyah, seorang perempuan suci abad II H./VIII M. dia yang pertama kali membuat bahasa cinta menjadi pokok kosa kata rohani dan bersaham besar dalam memperkenalkan cinta kepada Allah SWT. dalam mistisme Islam, serta mengajarkan al-hubb dengan isi dan pengertian yang khas tasawwuf. Margaret Smith menilai Robi’ah Al-‘Adawiyah sebagai pelopor doktrin ini dan mengkombinasikan dengan kasyf, terbukanya hijab pada akhir tujuan. Sang kekasih, oleh pencintanya dan Annemarie Schimmel menyatakan bahwa dia adalah wanita yang penyendiri dalam keterasingan suci diterima oleh lelaki sebagai mariam tanpa Noda yang kedua .. dan memberikan warna mistik sejati.
                        Konsekwensi logis setelah ikrar syahadah oleh seseorang, akan menimbulkan kewajiban. Konsepsi kewajiban ini lantas membawa paham balasan. Artinya, bila seorang mu’min  menjalankan kewajiban dan patuh, niscaya akan mendapat balasan dari Allah dan sebaliknya. Berkaitan dengan kewajiban ini, ada hadits Nabi Muhammad SAW. tentang tiga pokok ajaran agama Islam yang terpadu (terintegrasi), yaitu iman, Islam, Ihsan.
            Untuk kesinambungan pengamalan Islam dan Ihsan, seorang mu’min selalu dituntut untuk menjaga iman dan meningkatkan kualitas ketaqwaannya  terhadap Allah. Dalam lika liku menuju Allah, ada beberapa jalan yang wajib dilalui, sesuai dengan pendidikn agama yang dialaminya, latar belakang social budayanya dan kemampuan daya tangkap akalnya serta pilihan kepentingan pribadinya dan kemantapan hatinya.    Dan jika orang-orang yang mendekati agama Islam itu diamati, maka dengan sederhana bisa dikualifikasikan pada tiga cara. Pertama, secara naqli (tradisional), kedua secara aqli (rasional), dan ketiga secara kasyfi (mistis). Ketiga pendekatan ini bisa ada pada seseorang, tapi pasti ada titik tekannya yang lebih. Kadang ada pendekatan yang menonjol, lantas surut dan digantikan oleh pendekatan lainnya dengan kasyfi, satu diantaranya melalui penjauhan diri dari kemewahan hidup materil dan pemilihan hidup sederhana. Secara spesifik A. Rivai Sirgar menerangkan tentang keragaman aliran Tasawwuf, yang berawal dari perbedaan dasar  pengklasifikasiannya, yaitu : 1. perbedaan objek dan sasaran tasawwuf. 2. perbedaan kedekatan atau jarak antara manusia dengan tuhan. 3. perbedaabn geografis, dengan melihat daerah munculnya tasawwuf.
            Rabi’ah Al-Adawiyah sering jadi rujukan lewat konsepsi mahabbahnya, sebagai masa transisi dari konsepsi sebelumnya (khauf, takut, dan roja’, harapan). Prosesnya via purgative (penyucian hati) ke via kontemplativa (perenungan dengan berdzikir) lantas via illuminativa (tersingkapnya tabir penyekat alam ghaib), sebagai tempat dia diberkahi cinta dan kearifan, yang akan diakhiri dengan union mistika. Terlalu tingginya kecintaan Robi’ah terhadap Allah mengesankan ada pengabaian atas janji, surga dan ancaman neraka, sebagai motivasi pengabdi. Cinta tanpa pamrih ini, tak pelak menimbulakan revolusi roahaniyah pada masa sesudahnya. Dan masih jarang tulisan yang mencoba untuk mengkritisi dengan penalaran yang jernih untuk kembali ke mahabbah aqliyah dari ‘athifiyah.
            Tulisan ini ingin berusaha membuat deskripsi analisis, tentang gagasan cinta yang dilontarkan oleh Robi’ah, dengan penggunaan metode sosio-historis, sebagai suatu metode pemahaman terhadap suatu keepercayaan, ajaran atau kejadian dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan  lingkungan dimana kepercayaan, ajaran dan kejadian itu muncul. Disamping itu, pada keterangan tertentu, hendak digunakan pendekatan sejarah, sebagai upaya penulusuran asal usul dan pertumbuhan pemikiran serta lembaga keagamaan, melalui periode perkembangan sejarah tertentu.
                         
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==