Makalah Metodologi study Islam



Mukoddimah

            Puji syukur Alhamdulillah senantiasa aku panjatkan sebagai manifestasi syukur dan terima kasih kepada dzat yang maha pengasih yang selalu welas asih. Karena berkat kasih sayangnya aku dapat menulis makalah yang diberikan oleh dosen sebagai pelatihan dalam dunia jurnalistk dan berkarya ilmiyah.
            Sholawat dan Salam tak henti-henti aku persembahkan kepada Nabi tercinta yang telah berkorban jiwa dan raga demi terbentuknya masyarakat madani (civil society) yang hidup dalam ketentraman dan berdampingan tanpa ada perbedaan apalagi permusuhan. Dialah makhluk yang paling sempurna yang diutus  kepada seluruh alam sebagai akhir dari para utusan-utusan yang terdahulu.
            Kami merupakn pemula dalam membuat tentamen-tentamen di awal bangku kuliyah, yang jelas dan tentu banyak kekurangan dan kekeliruan dalam pembuatan tentamen yang berupa makalah ini. Oleh karena itu bimbingan dan arahan selalu aku harapkan kepada semua dosen khususnya Bapak Zainuddin syarif M.Ag sebagai dosen dari mata kuliyah MSI (Methodology Study Islam) III. Sehingga  dengan bimbingan dan arahan tersebut diharapkan kami dapat menghasilkan makalah  yang dapat dikatakan sebagai makalah ilmiyah yang berpijakan pada dasar- dasar ilmiyah yang dapat diuji kebenarannya baik secara ilmiyah atau secara realitas.
            Dan aku ucapkan banyak terima kasih kepada semua dekan mahasiswa yang telah banyak memberikan sumbangsih  wawasan dalam penyusunan makalah ini, sehingga kami dapat mengumpulkan data-data tentang model-model penelitian hadits, baik penelitian kontemporer atau klasik. Juga yang yang tak kalah penting kami ucapkan terima kasih kepada dosen yang telah memberikan bimbingan dan arahannya sehingga terbentuklah makalah sederhana yang masih jauh untuk dikatakan sempurna. Dan semoga makalah ini bermanfaat bagi perkembangan penelitiah hadits dan eksistensi kesohehan hadits itu sendiri.







BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian Hadits
            Pada garis besarnya pengertian hadits dapat ditinjau dari dua aspek pendekatan, yaitu pendekatan kebahasaan (linguistik) dan pendekatan secara istilah (terminology).
            Dilihat dari pendekatan linguistic, hadits berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata hadatsa, yahdudutsu, hadtsan, haditzan dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut berarti sesuatu yang baru. Selanjutnya, kata hadatsa dapat pula berarti yang dekat atau waktu yang dekat. Kemudian kata hadits juga berarti al-khabar yaitu sesuatu yang berarti sesuatu yang diperbincangkan.
            Sedangkan hadits ditinjau dari segi Istilah dijumpai pendapat yang berbeda-beda. Para Ulama’ ahli hadits misalnya berpendapat bahwa hadits adalah ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad SAW. Sementara Al-Thiby berpendapat bahwa hadits bukan hanya perkataan, pebuatan dan ketetapan Rasulullah SAW., akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan dan ketetapan para Sahabat dan Tabi’in. Dalam pada itu Ulama’ ahli ushul fiqh berpendapat bahwa hadits adalah prkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi SAW. yang berkaitan dengan hukum. Sementara ahli fiqh mengidentifikasikan hadits sebagai sunnah, yatu sesuatu yang yang taklifi. Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak mendapat siksa.
B. Methodology Penelitian Hadits      
            Ada banyak cara yang dilakuakn para ulama’ dalam meneliti hadits yaitu diantaranya meneliti kehidupan seorang perawi, baik berupa keadaan khusus atau keadaan yang bersifat umum, segi kecermatan, segi daya hafal, yakni dengan meneliti bagaimana si perawi memperoleh hadits dari gurunya. Atau dengan menilai hadits tersebut dari berbagai cara yang akan kami rangkum sebagai berikut;
1. Tahammul (bagaimana seorang perawi membawa hadits)    
            Salah satu cara yang dilakukan oleh seseorang dalam menentukan status hadits adalah meneliti bagaimana perawi menerima hadits, dalam masalah dapat dikelompokkkan sebagai berikut;
  1. sima’, yaitu seorang guru mengimlakkan hadits kepada muridnya
  2. munawalah, (menyerahkan dengan disertai ijazah), yakni seorang guru mmberikan catatan asli atau salinan kepada muridnya seraya berkata “saya ijazahkan kepadamu dan kamu boleh meriwayakan”
  3. ijazah tanpa munawalah, yakni seorang guru membolehkan muridnya untuk meriwayatkan hadits dari gurunya
  4. munawalah tanpa ijazah, yakni seorang guru menyerahkan kitab pada muridnya seraya berkata, “ ini hadits yang saya dengar” tanpa menyuruh meriwayatkan.
  5. I’lam, yakni seorang guru berkata kepada muridnya, “ kitab ini yang saya dengar” tanpa memberikan izin untuk meriwayatkannya.
  6. Wasiat, yakni seorang guru ketika bepergian atau menjelang meninggal berwasiat dengan sebuah kitab kepada seorang muridnya.
  7. Wijadah, yakni muhaddits menemukan hadits atau kitab yang ditulis ulama’ lain yang dikenal kedhobitannya. Kemudian dia berkata saya temukan tulisan seseorang begini.
2. Mencari sanad-sanad terbaik
            Sebagian ahli hadits menamakan sanad-sanad terbaik dalam segi masuk Islamnya, segi kecermatan analisisnya dan dalam segi kemampuannya dan tidak membatasi pada sahabat atau Negeri. Sebagian ahli hadits menyebutkan sanad-sanad terbaik sebagai berikut:
  1. Sanad terbaik dari Abubakar ialah Isma’il bin Abi Khalid dari bin Abi Hazin dari Abu Bakar.
  2. Sanad terbaik dari Ali bin Abi Thalib diantaranya Muhammad bin Sirin dari Ubaidah Al-Salmani dari Ali
  3. Sanad terbaik dari ‘Aisyah diantaranya Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah.
  4. Sanad terbaik dari Sa’ad bin Abi Waqash ialah Ali Bin Al-Husain bin Ali dari Sa’id bin Al-Musayyab dari Sa’ad bin Abi Waqash.
Dan masih banyak lagi sanad-sanad terbaik yang perlu dianalisis secara mendalam yang dapat mengetahui kedudukan dari hadits-hadits tersebut.
3. Jarh Watta’dil
            Analisis Jarh Watta’dil merupakan penelitian tentang kecekatan (kedhabitan) seorang perawi. Dalam permasalahn ini, kami akan memberikan gambaran sejelas-jelasnya kepada pembaca sekalian tentang apa yang dimaksud dengan Jarah watta’dil itu.?
  1. Jarh ( sifat tidak terpuji)
Yang dimaksud Al-Jarh adalah memeriksa keadaan perawi yang dinilai lemah kedabitannya dan megeritiknya sebelum Sunnah dibukukan sampai dengan tahun 300 H. jelas bahwa pemeriksaan terhadap keadaan perawi hadits itu dilakukan sebelum Sunnah dibukukan. Pembukuan ini diawali dengan pengeritikan perawi, pembuatan standar (tolok ukur) ke-dhabitan yang kemudian dihimpun dalam sebuah kitab, Karena itu, kita tidak dapat melakukan pengeritikan terhadap perawi-perawi terdahulu. Dan kita hanya memberi penilaian terhadap hasil karya Jarh Watta’dil yang terdapat didalam kitab-kitab mereka.
  1. At-ta’dil (sifat terpuji)
Yang dimaksud dengan ta’dil adalah menilai tingginya kedhabitan (kecekatan hafalan) seorang perawi. Dalam ta’dil ini ada tingkatan-tingkatan kedhabitan perawi. Diantaranya seorang perawi punya tingkat tertinggi seperti punya sebutan, “Autsaqunnas” atau “atsbatuhum” yang berarti orang yang paling cermat. Selain tingkatan cekatan tertinggi masih ada tingkatan-tingkatan yang tidak mengurangi nilai kedhabiatn seorang perawi. Hal ini dijabarkan secara mendetail dalam buku berjudul “Methodology Menetapkan Kesohehan Hadits” ( Dr. Mahmud Ali Fayyad ).
4. Tajrih (kritik)
            Permasalahan tajrih sangat erat hubungannya dengan Jarh Watta’dil, sehingga Imam Ibnu Hajar mencoba mengkaji factor-faktor yang mendorong tajrih dalam beberapa  factor, diantaranya:
  1. Tajrih (dinilai cacat) karena penganut bid’ah.
  2. Tajrih (dinilai cacat) karena menyalahi perawi yang lebih tepercaya.
  3. Tajrih (dinilai cacat) karena kekeliruan.
  4. Tajrih (dinilai cacat) karena tidak diketahui identitasnya.
  5. Tajrih (dinilai cacat) karena terputus sanad-sanadnya.
Saya yakin bahwa Al-‘Allamah Ibnu Hajar tidak bermaksud membatasi lima factor yang mendorong tajrih yang tidak luput dari perbedaan ulama’ kritik. Ada masalah-masalah pribadi seorang yang berkaitan dengan orang lain, kehidupan seorang ini yang mempengaruhi akhlak, keadaan kehidupan, keadaan akal dan jiwanya. Hal ini, tidak berkaitan dengan salah satu dari lima factor yang mendorong tajrih, bahkan sebagiannya berkaitan dengan kekacauan.

BAB II
Model – Model Penelitian Hadits
Sebagimana halnya Al-qur’an, Al-hadits pun telah banyak diteliti oleh para ahli, bahkan dapat dikatakan penelitian terhadap Al-hadits lebih banyak kemungkinannya dibandingkan penelitian terhadap Al-qur’an. Hal ini antara lain dapat dilihat dari dari segi datangnya Al-qur’an dan hadits berbeda. Kedatangan (asbabulwurudl) atau turunnya (asbabunnuzul)nya Al-qur’an diyakini secara mutawatir berasal dari Allah. Tidak ada satu ayat  Al-qur’anpun yang diragukan sebagai yang bukan dari Allah SWT. Atas dasar ini, maka dianggap tidak perlu menganalisa apakah ayat-ayat al-quran itu berasal dari Allah atau bukan. Hal ini berbeda dengan Al-hadits dari segi datangnya (asababulwurud)nya tidak seluruhnya diyakini berasal dari Nabi. Hal ini selain disebabka sifat dari lafal-lafal hadits yang tidak bersifat mukjizat, juga disebabkan perhatian terhadap penulisan hadits dizaman Rasulullah agak kurang, bahkan beliau pernah melarangnya, dan juga karena sebab-sebab politis dan lainnya.  Keadaan inilah yang menyebabkan para ulama seperti Imam Muslim dan Imam Bukhori yang mnecurahkan segenap tenaga, pikiran, dan waktunya bertahun-tahun untuk meneliti hadits.
Demikianlah berbagai penilaian yang diberikan para ahli mengenai kelebihan dan kekurangan yang terdapat pada masing-masing kitab tersebut .Hal ini hendaknya semakin menyadarkan kepada kita, bahwa betapapun hebatnya penelitian tesebut tetap memiliki kelemahan, disamping kelebihanya masing-masing. Yang jelas mereka adalah peneliti-peneliti awal dibidang hadits. Peneliti hadist berikutnya dapat diikuti pada uraian berikut ini.

1. Model H.M.quraish Sihab
Penelitian yang dilakukan Quraish Shihab terhadap hadits menunjukkan Jumlahnya tidak lebih banyak jika dibandingkan dengan penelitian terhadap Al qur’an. Dalam bukunya berjudul Membumikan Al-Qur An, Quraish Shihab. Hanya meneliti dua sisi dari keberadaan hadits, yaitu mengenai hubungan Hadits dan Al-Qur’an serta fungsi dan posisi Sunnah dalam Tafsir. Bahan-bahan penelitian yang beliau gunakan adalah bahan kepustakaan atau bahan bacaan, yaitu sejumlah buku yang ditulis para pakar dibidang hadits termasuk pula Al-qur an. Sedangkan sifat penelitiannya adalah deskritif analitis, dan bukan uji hepotesis.
Hasil penelititan Quraish Shihab tentang fungsi hadits terhadap Al- qur an,
menyatakan bahwa Al-qur'an menekankan bahwa Rosul SAW. Berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah ( QS 16 :44) penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan  sekian banyak ulama beranika ragam bentuk dan sifat, serta fungsinya.
Abdul Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam bukunya Al-Sunnah fi Mankatiha wa fi tarikhiha, sebagaimana dikutip H.M. Quraish Shihab, menulis bahwa Sunnah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan Al-Qur’an dan fungsi yang berhubungan dengan pembinaan hukum syara’. Dengan  menunjuk kepada pendapat Imam Syafi’i dalam Al-Risalah, Abdul Halim menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan Al-qur’an ada fungsi Al-Sunnah yang tidak diperslisihkan, yaitu apa yang diistilahkan oleh semantara ulama’ dengan  bayan ta’kid dan bayan tafsir. Yang pertama sekedar menguatkan dan menggaris bawahi kembali apa yang terdapat didalam Al-qur’an.  Ulama lain menyebutnya sebagai menetapkan dan memperkuat hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Al-qur’an. Dalam keadaan demikian, Al-Qur’an dan Al-Sunnah kedua-duanya bersama-sama menjadi sumber hukum.  Untuk contoh  fungsi Al-Sunnah yang pertama ini dapat diambil hadits yang berbunyi sebagai berikut.
الاأنبئكم بأكبر الكبائر؟ قلوا بلى . قا ل
الا شرا ك با لله وعقوق الوالدين وكا ن متكئا
وجلس وقا ل ألا وقول الزور
Artinya :
Tidaklah kamu sekalian ingin aku jelaskan tentang dosa yang paling besar?
Suhut kami (para sahabat): Yang Rosulullah. Beliau meneruskan sabdanya:
(1) Manyakutkan Allah; (2) Berbuat  durhaka kepada kedua orang tua (saat itu Rosullah sedang bersandar, tiba-tiba duduk seraya bersabda lagi: Awas ingat pula ) yaitu (2) bersaksi palsu .
( HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits tersebut adalah sabagai  menetapkan dan menggaris bawahi ayat Al-qur’an yang berbunyi :
واجتنبوا قول الزور ( الحج :  30  )
Dan Jauhilah perkataan dusta. (QS al-Hajj, ayat: 30)
Adapun fungsi yang kedua dari Al-Sunnah adalah memperjelas, merinci,
bahkan membatasi. pengertian lahir dari ayat-ayat Al-qur’an, yaitu memberikan perincian dan penafsiran ayat-ayat Al-qur’an yang masih mujmal, memberikan taqyid ( Persyaratan) ayat-ayat Alqur’an yang mutlaq dan meberikan takhsish (penentuan khusus) ayat-ayat Al-qu’an yang masih  umum. Misalnya printah mengerjakan sembahyang, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji. Didalam Al-qur’an tidak dijelaskan jumlah rakaat dan bagaimana cara-cara melaksanakannya. Tidak diprincikan nisab-nisab zakat, dan juga tidak dipaparkan cara-cara melakukan ibadah haji, tetapi semuanya itu telah ditafshil (diterangkan secara terperinci) dan ditafsirkan sejelas-jelasnya oleh Al-Hadits. Misalnya hadits  yang artinya ” Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Adapun dua macam bangkai itu adalah bangkai ikan dan bangkai belalang. Sedangkan dua macam darah itu ialah hati dan dan limpa” ( HR. Ibn Majah dan Al-Hakim). Hadis ini merupakan pengecuali terhadap ayat Al-qur’an yang sifatnya umum sebagai berikut: Diharamkan bagimu
( memakan ) bangkai, darah dan daging babi. (QS Al-Maidah, 5:3). Selanjutnya, dijumpai pula hadis yang artinya: “Seorang Muslim tidak boleh mewarisi harta sikafir dan sikafir pun tidak boleh mewarisi harta si Muslim”.(HR Al-jama’ah). Dan hadits yang artinya : ” Sipembunuh tidak boleh mewarisi harta orang yang dibunuh sedikitpun” (HR. Nasa’iy). Kedua hadits tersebut merupakan pembatas terhadap ayat yang sifatnya mutlaq, yaitu ayat yang artinya: “Allah telah mewasiatkan kepadamu tentang bagian anak-anakmu, yakni untuk laki-laki sama dengan dua bagian anak permpuan”. ( QS Al-Nisa,4: 11).
            Selain itu Al- Hadits juga dapat dijadikan hujjah dalam untuk menetapkan hukum atau aturan yang tidak didapati didalam Al-qur’an. Dalam hubungan ini kita misalnya membaca hadits yang artinya: “Tidak boleh seseorang mengumpulkan (memadu) seorang wanita dengan ‘ammah (saudari bapak) nya dan seorang wanita dengan khalab (saudari ibu)nya”. (HR Bukhari Muslim), dan hadits yang artinya: “Sungguh Allah telah mengharamkan mengawini seseorang karena sepesusuan, sebagaimana hal Allah telah mengharamkannya karena senasa”. (HR. Bukhari dan Muslim). Materi hukum yang ditetapkan keharamannya oleh kedua hadits tersebut sepanjang penelitian nabi Muhammad SAW. Mengambil inisiatif untuk mengharamkannya.

2. Model Musthafa al-Sihaba’iy
Musthafa Al-Sihaba’iy yang dikenal sebagai tokoh itelektual Muslim dari
Mesir dan disebut-sebut sebagai pengikut gerakan Akhwanul Muslimin, selain banyak menulis (meneliti) tentang masalah-masalah social-ekonomi dari sudut pandang Islam, ia juga menulis buku-buku materi kajian agama Islam. Diantara bukunya yang berkenan dengan hadits adalah Al-Sunnah wakanatuha fi al-tasyri’i al-Islami yang diterjemahkan oleh Nurcholish Majid Sunnah dan peranannya dalam penatapan hukum Islam sebuah pembelaan kaum Sunni dan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus, Jakarta pada tahun 1991, cetakan pertama.
            Penelitian yang dilakukan Musthafa Al-Siba’iy dalam bukunya itu bercorak eksploratif dengan menggunakan pendekatan historis dan disajikan secara deskriptif analitis, yakni dalam system penyajiannya menggunakan pendekatan kronologi urutan waktu dalam sejarah. Ia berupaya mendapatkan bahan-bahan penelitian sebanyak-banyaknya dari berbagai literatur hadis sepanjang perjalanan kurun waktu yang tidak singkat. Penerjemah buku ini, Nurcholish Majid mengatakan, “ seperti kita dapat baca dari buku Musthafa Al-Siba’iy ini, proses pencatatan dan pengumpulan bahan  “laporan”  itu memakan waktu cukup panjang selama 200 tahun, sejak dari masa rintisan Syihab al-Din Al-Zuhri (wafat 124 H / 74M.) sampai penyelasaian Al-Nasa’iy ( wafat303H. / 916M.) salah seorang tokoh Al-Kuttab Al-Sittah”?
          Hasil penelitian yang dilakukan Musthafa Al-Syba’iy antara lain mengenai sejarah proses terjadi dan tersebarnya hadits mulai dari Rosulullah sampai terjadinya upaya pemalsuan hadits dan usaha para ulama’ untuk membendungnya, dengan melakukan percatatan Sunnah, dibukukannya ilmu Mustolah al- Hadits, ilmu Jarh dan al-Ta’dil, kitab-kitab tentang hadits-hadits palsu dan para pemalsu dan penyebarnya.
         Selanjutnya Al-Syiba’iy juga menyampaikan hasil penelitiannya mengenai pandangan kaum Khawarij, Syiah, Mu’tazilah, dan Mutakllimin, para penulis modern dan kaum muslimin pada umunya terhadap Al-Sunnah. Dilanjutkan dengan laporan tentang sejumlah klompok dimasa sekarang yang mengingkari kehujjaan Al-Sunnah disertai pembelaannya.
         Dengan melihat isi penelitian yang dikemukakan diatas, al-syiba’iy tampak tidak netral. Ia berupaya mengumpulkan bahan-bahan kajian sebanyak mungkin untuk selanjutnya diarahkan untuk melakukan pembelaan kaum Sunni terhadap Al-Sunnah.
Seharusnya ia menyajikan data apa adanya, sedangkan penilainnya diserahkan pada pembaca.

3. Model Muhammad Al-Ghazali
Muhammad Al-Ghazali yang menyajikan hasil penelitiannya tentag hadits
dalam bukunya berjudul Al-Sunnah Annabawiah baina al-Alfi. Wa al-Hadits adalah salah seorang ulama jebolan universitas Al-Azhar mesir yang disegani didunia Islam, khususnya Timur Tengah, dan salah seorang penulis arab yang sangat produktif. Menurut Quraisy Shihab, buku ini telah menimbulkan tanggapan yang berbeda, sehingga menjadi salah satu buku tertulis dengan lima kali naik cetak dalam waktu antara Januari, Oktober 1999.
            Dilihat  dari segi kandungan yang terdapat dalam buku tersebut, nampak bahwa penelitian hadits yang dilakukan Muhammad Al-Ghazali termasuk penilaian ekploratif, yaitu membahas, menjajaki dan menyelami sedalam-dalamnya berbagai persoalan actual yang muncul dimasyarakat untuk kemudian diberikan status hukumnya dengan berpijak konteks hadits tersebut. Dengan kata lain, Muhammad Al- Ghazali terlebih dahulu memahami hadits yang ditelitinya itu dengan melihat konteksnya kemudian baru dihubungkan dengan bermasalah actual yang muncul dimasyarakat. Corak penyajianya masih bersifat deskriptif anlitis yakni mendiskripsikan hasil penelitian sedemikian rupa, dilanjutkan menganalisisnya dengan menggunakan pendekatan fiqih, sehingga terkesan ada misi pembelaan dan pemurnian ajaran Islam dari berbagai paham yang dianggapnya tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang mutawatir.
            Masalah yang terdapat dalam buku hasil penelitian Muhammad Al-Ghazali itu nampak cukup banyak. Setelah ia menjelaskan kesahihan hadits dan persyaratannya,
Ia mengemukakan tentang mayyit yang di azab karena tangisan keluarganya, tentang hukum qhisas, shalat tahiyah masjid, tentang dunia wanita yang meliputi antara kerudung dan cadar, wanita keluarga dan profesi, hubungan wanita dengan masjid, kesaksian wanita dalam kasus-kasus pidana dan qhisas, prihal nyanyian, ketika makan,
minum, berpakaian, dan membangun rumah, kemasukan syetan, esensi dan cara pengobataannya, memahami al-qur’an secara serius, hadits-hadits tentang kekacauan, antara sarana dan tujuan, serta takdir fatalisme.
            Berbagai masalah yang dimuat dalam buku tersebut tampak didominasi oleh masalah-masalah fiqh yang actual. Sedangkan masalah-masalah yang berkaitan dengan etika dan teologi hanya disinggung secara sepintas saja. Disini menunjukkan kecendrungan peneliti menekuni masalah fiqh.

4. Model Zain Al-Din ‘Abd Al- Rahim bin Al-Husain Al-Iraqiy
            Al-Hafidz Zain Al- Din ‘Abd Al- Rahim bin Al-Husain Al-Iraqiy yang hidup tahun 725-806 tergolong ulama generasi pertama yang banyak melakukan penelitian hadits. Bukunya berjudul Al-Taqyid wa Al-Idlah Syarh Muqaddiman ibn al-shalah adalah termasuk kitab ilmu hadits tertentu yang banyak mengemukakan hasil penelitian dan banyak dijadikan rujukan oleh para peneliti dan penulis hadis generasi berikutnya. Ia disebut sebagai penganut mazhab Syafi’i, belajar di Mesir dan mendalami bidang fiqih. Diantara gurunya adalah Al-Asnawi dan Ibnu Udlan yang keduanya pendiri mazhab Syafi’i. Selain itu ia juga dikenal mengusai ilmu Al-Nahwu
(gramatika), ilmu qiraat dan hadits.                                                                  
            Mengingat sebelum zaman Al-Iraqi belum ada hasil penelitian hadits, maka nampak ia berusaha membangun ilmu Hadits dengan menggunakan bahan-bahan hadits Nabi serta berbagai pendapat para ulama yang dijumpai dalam kitab tersebut. Dengan demikian, peneliannya bersifat awal, yaitu penelitian yang ditujukan untuk menemukan bahan-bahan untuk digunakan membangun suatu ilmu. Buku inilah buat pertama kali mengemukakan macam-macam hadits yang didasarkan pada kualitas sanad dan matannya, yaitu ada hadits yang tergolong Shahih, Hasan, Dan Dhoif. Kemudian dilihat pula dari keadaan bersambung atau terputusnya sanad yang di baginya menjadi hadits Musnad, Muttasil, Marfu’, Mauquf, Mursal, Al-Munqatil. Selanjutnya, dilihat pula dari kualitas matannya yang dibagi menjadi hadits yang syadz dan munkar.

5. Model Penelitian Lainnya
Selanjutnya, terdapat pula model penelitian hadits yang diarahkan pada focus kajian tertentu saja, misalnya, Rif’at Fauzi Abd Al-Mutallib pada tahun 1981, meneliti tentang perkembangan Al-Sunnah pada abad kedua Hijriah, hasil penelitiannya itu dilaporkan dalam bukunya berjudul Tautsiq Al-Sunnah Fi Al-Qur’an Al-Tsani Al-hijri Ususuhu wa Ijtihat. Selanjutnya, Mahmud Abu Rayyah melalui telaah kritis atas sejumlah hadits nabi Muhammad SAW. Dalam bukunya brjudul Adlwa’a ‘Al-Sunnah Al-Muham-Madiyah, tanpa menyebut tahun terbitnya. Sementara itu Mahmud Al-Thahhan khusus meneliti cara menyeleksi hadits serta penentuan sanad yang disampaikan dalam bukunya berjudul Ushul Al- Tahrij Wa Dirasat Al-Assanit, diterbitkan tanpa tahun. Disusun pula oleh Ahmad Muhammad Syakir yang meneliti buku ikhtishar ulum Al-Hadits karya Ibnu Katsir (701-774 H). dalam bukunya berjudul Al-Baist Al-Haidts Syarah Ikhtishar Ulum Al-Hadits yang diterbitkan di
Beirut, tanpa tahun.
            Dalam keadaan itu ada pula yang menyusun buku-buku hadits dengan mengambil bahan-bahan pada hasil penelitian tersebut. Diantaranya Muhammad Ajjaj
Al-Khatib menulis buku berjudul Ushul Al-Hadits Ulumuhu Wa Mustholahuhu; Adib Shaleh menulis buku berjudul Lahmat Fi Ushul Al-Hadits; dan Nur Al-Din Atar menulis buku berjudul Manhaj Al-Naqd Fi Ulum Al-Hadits, yang diterbitkan Dar Al- Fiqri tanpa tahun .
            Berdasarkan pada hasil-hasil penelitian tersebut, maka kini ilmu hadits tumbuh menjadi salah satu disiplin ilmu keislaman. Penelitian hadits tampak masih terbuka luas terutama jika dikaitkan dengan permasalahan actual dewesa ini. Penelitian terhadap kualitas hadits yang dipakai dalam berbagai kitab misalnya belum banyak dilakukan. Demikian pula penelitian hadits-hadits yang ada hubungannya dengan berbagai masalah actual tampak masih terbuka luas. Berbagai pendekatan dalam memahami hadits juga belum banyak digunakan. Misalnya pendekatan sosiologi, paedagogis, antrolopogis, ekonomi, politik, filosofis, tampaknya belum banyak digunakan oleh para peneliti hadits sebelumnya. Akibat dari keadaan demikian, tampak bahwa pemahaman masyarakat terhadap hadits umumnya masih besifat pasial.

















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Hadits sebagai sumber kedua dari ajaran agama Islam harus terjaga dari kesalahan selain sebagai pensyarah dan penjelas dari al-Qu’ran . oleh karena itu perlu penelitian yang ekstra serius agar kemurnian kedua kutub ajaran agama itu tidak terkontaminasi dengan hal-hal yang hanya dibuat manusia. Namun untuk mengetahui identitsas sebuah hadits bukanlah sesuatu yang gampang. Para Sahabat dan Tabi’in serta para perawi hadits sangat berhati-hati dalam meneliti hadits. Mereka sangat cermat dan tekun dalam mengemukakan sebuah hadits, sehingga dapat diketahui keabsahan hadits tersebut. Namun tidak serta merta mereka menolak sebuah hadits tanpa alasan yang ilmiyah. Dalam meneliti identitas hadits atau kesahihannya, mereka meneliti keadaan para rawi baik sikap, akhlak, daya ingat, daya pikir, latar berlakang pendidikan dan keluarganya. Sehingga hadits-hadits-hadits itu betul-betul murni dari aslinya sesuai dengan apa yang disampaikan dari nabi SAW. Serta menolak hadits-hadits yang hanya dibuat-buat manusia  untuk menguatkan argumentasi pendapat mereka atau yang hanya berbuat sekehendak nafsu. Sehingga perlu kita ketahui identitas hadits itu agar tidak terjadi tafsir buta atau tafsir  yang mengada-ada yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam yang sebenarnya dengan adanya model-model hadits dari para punggawa agama Islam modern dan klasik.
B. Kesan
            Dalam rangka melestarikan khazanah keislaman maka perlu kita mengetahui bagaimana model-model ulama’ dalam meneliti sebuah hadits. Agar kita  bisa mengetahui seluk-beluk yang sebenarnya. Selain itu model penelitian hadits sangat berkaitan erat dengan tafsir al-qur’an yang notabene merupakan first source dalam artian sumber utama dalam pedoman agama Islam. Dengan mengetahui model-model penelitian hadits maka dalam memahami tafsir tidak akan kabur yang menjurus pada penalaran logika belaka.
            Saya sangat bersyukur dan berterima kasih terutama kepada Allah yang telah memberikanku hidayah-hidayah-Nya sehingga kami dapat merampungkan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

1.      Fayyad, Ali, Mahmud, Metodologi Penetapan Hadits Sahih, ( Bandung : CV. PUSTAKA SETIA, 1998)
2.      Qardawi, Yusuf , iman dan kehiduapn, (terj.). fahruddin Hs.(Jakarta: Bulan Bintang, 1997 )
3.      Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam. (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1998)
4.      Hassan, Ibrohim Hassan, Sejarah Dan Kebudayaan Islam, (Yogyakarta: Kota Kebang , 1989 )
5.      Nasution, Harun, Islam ditinjau dari semua aspekya, (Jakarta : UI Press, 1979)
6.      Ghazali al-Imam, Ihta’ ‘Ulumuddin, jilid III (Beirut: Dar al-Fikri)
7.      Hanafi, A, Theology Islam, (Jakarta : Bulan Binatng, 1979) cet. III





















DAFTAR ISI
Daftar Isi …………………………………………………………………………    
Mukoddimah  ……………………………………………………………………      1
Bab I Pendahuluan ………………………………………………………………       2
A. Pengertian Hadits  ……………………………………………………………       2.
B. Methodology Penelitia Hadits ………………………………………………..        2
1.      Tahammul ………………………………………………………………..      2
2.      Mencari Sanad-sanad terbaik ……………………………………………      3.
3.      Jarh Watta’dil  ……………………………………………………………     3
4.      Tajrih ……………………………………………………………………..    4
Bab II Model-model Penelitian Hadits …………………………………………..        5
1.      Model H.M.quraish Sihab ……………………………………………….     5
2.       Model Musthafa al-Sihaba’iy ……………………………………………    7
3.      Model Muhammad Al-Ghazali ……………………………………………   8
4.      Model Zain Al-Din ‘Abd Al- Rahim bin Al-Husain Al-Iraqiy ……………     9
5.      Model Penelitian Lainnya ………………………………………………..    10
BAB III PENUTUP ………………………………………………………………    12
A.     Kesimpulan ……………………………………………………………….    12
B.     Saran  …………………………………………………………………….    12
Daftar Pustaka  ……………………………………………………………………    13


close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==