PEMIKIRAN TRANS-NASIONAL ABAD MODERN

Sudah lama kita mendengar gerakan ideologi baru yang disebut “ideologi trans-nasional” sebagai manifesto gerakan dari Timur Tengah yang hendak melumat ideologi pancasila yang sudah final. Ideologi baru tersebut menghendaki sebuah perubahan revolusioner dan radikal guna memantapkan dasar negara yang dinilai timpang dalam mengayomi dakwah keislaman. Sebagai sebuah tatanan baru dalam ranah ideologi politik, ideologi transnasional juga hendak mengusung gerakan keagamaan yang masuk pada dimensi kultural dan struktural. Dengan kata lain, ideologi transnasional mengacu pada politik lintas sektoral yang berasal dari dunia ketimuran. Ideologi ini memungkinkan bangsa kita terjebak pada pragmatisme faham dan sindroma kekuasaan yang melabelkan agama sebagai manifesto gerakan Persentuhan Indonesia dengan ideologi transnasional adalah hal yang tak terelakan. Bukan hanya ideologi, Indonesia juga bersentuhan dengan hal lain baik itu berupa agama, seni, budaya, bahasa, bahkan juga makanan yang bersifat trans-nasional. Lima agama yang diakui (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha) juga Konghu Cu, semuanya berasal dari luar Indonesia. Makanan seperti bakso, bakmi dan sejenisnya aslinya dari Cina. Istilah kertas, kursi, rakyat, majelis, dewan, perwakilan, keadilan dan sebagainya merupakan serapan dari bahasa Arab. Diskotik, nite-club, musik, rock, dan sejenisnya jelas dari Barat. Termasuk pula gagasan-gagasan sistem politik seperti demokrasi, bahkan istilah republik juga berasal dari Barat. Posisi geografis Indonesia yang berada di persilangan dua benua dan dua samudera, yang membuat arus orang dan informasi mengalir deras, memang sangat memungkinkan hal itu terjadi. Maka tidak heran bila banyak unsur transnasional yang masuk dan mewarnai perikehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya Indonesia. Tak berlebihan bila dikatakan cukup sulit untuk mencari sosok ‘Indonesia yang benar-benar asli Indonesia”. Setiap kita menyebutkan satu ’tradisi’ di Indonesia, hampir pasti ia memiliki akar ke budaya luar atau setidaknya dipengaruhi unsur luar Indonesia. Pengaruh-pengaruh asing yang masuk ke Indonesia itu dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok gerakan, terutama kelompok gerakan keagamaan Islam. Pertama adalah kelompok Islam yang menolak sikap saling menghargai atau tidak toleran. “Kelompok ini cirinya mudah sekali mengkafirkan orang lain" mereka mengikuti gerakan politik dari kelompok-kelompok di Timur Tengah (Timteng), seperti Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Jaulah, Al-Qaeda, dan lain-lain. Sehingga, tampak seakan-akan segala sesuatu yang diperjuangkan di negara-negara Timteng itu juga harus diterapkan di Indonesia. “Padahal, kelompok-kelompok (di Timteng) itu, di negaranya saling bertentangan. Tidak hanya bertentangan antar-kelompok, tetapi juga pada negara atau pemerintahnya. Kalau kita mengikuti mereka, maka kita akan jadi bagian masalah mereka.” Sedangkan, kelompok kedua adalah kelompok yang mengusung dan menyebarkan paham kebebasan atau liberalisme. “Kelompok ini, kerjaannya atau cirinya membongkar akidah dan fanatisme orang beragama." Ideologi transnasional adalah suatu istilah yang merujuk pada penggunaan istilah kejahatan transnasional, dengan konotasi lintas batas negara. Jika ada agama dan ideologi yang disebut sebagai agama dan ideologi transnasional, itu adalah Islam. Kalau Islam bukan agama transnasional, maka tidak ada ibadah yang dilakukan lintas negara, seperti haji, umrah dan jihad. Kalau Islam bukan agama transnasional, pasti praktik ibadah kaum Muslim di Indonesia berbeda dengan kaum Muslim di Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan sebagainya. Namun, justru karena shalat, puasa, zakat dan hajinya sama, maka semuanya ini membuktikan, bahwa Islam adalah agama transnasional. Walaupun itu membuktikan bahwa Islam adalah agama transnasional, tetapi bukan berarti Islam dianut dalam lintasan yang semrautan tanpa mempertimbangkan dasar-dasar keyakinan yang terbingkas dalam ajaran agama itu sendiri. Dalam artian, ideologi transnasional tidak merujuk pada konsepsi tentang substansi agama, karena yang dipermasalahkan adalah motif ideologi yang radikal dan bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Jika ideologi itu dianggap berbahaya, maka tugas kita menolaknya sehingga tidak merusakan tatanan masyarakat yang lebih luas. Demikian halnya dengan Islam sebagai ideologi. Persatuan umat Islam di seluruh dunia selama 14 abad dalam satu kebudayaan dan negara adalah bukti, bahwa Islam juga merupakan ideologi transnasional. Seperti kata Will Durant (1885-1981), “Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan sampai Maroko dan Spanyol”. Islam juga telah menguasai cita-cita mereka, mendominasi akhlaknya, membentuk kehidupannya dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan masalah maupun duka mereka. Kita bisa memahami bahwa Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka, sehingga jumlah orang yang memeluknya dan berpegang teguh kepadanya pada saat ini. Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hatinya walaupun ada perbedaan pendapat dan latar belakang politik di antara mereka. Watak transnasional ini wajar saja mengingat Islam memang agama bagi seluruh manusia di dunia (rahmatan lil ‘alamin). Organisasi Islam di Indonesia pun tidak bisa dilepaskan dari ciri ’transnasional’-nya. Sebagian pendiri organisasi Islam di Indonesia seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan, juga ribuan ulama lainnya belajar di Timur Tengah. Bisa dipahami, sebab pusat Islam sejak kelahiran hingga zaman keemasannya memang ada di Timur Tengah. Oleh karena itu, membicarakan ideologi semestinya bukan pada apakah ia berasal dari luar atau tidak; transnasional atau bukan, karena faktanya semua ideologi yang ada memang bersifat transnasional. Tapi yang lebih penting adalah apakah ideologi itu membawa kemashlahatan atau kebaikan bagi rakyat atau tidak. Bila secara historis Islam telah terbukti memberikan sumbangsih yang luarbiasa kepada negeri ini, termasuk dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda melalui tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Tjut Nyak Dien, HOS Cokroaminoto, Imam Bonjol dan lain-lainnya, lantas ideologi transnasional mana, yang berbahaya dan karenanya harus diwaspadai, yang dimaksud bahwa ideology transnasional itu mengancam NKRI. Kita yakin, yang dimaksud bukanlah ideologi Islam. Sebab, bila itu yang dimaksud tentu tidak sesuai dengan fakta sejarah – sebagaimana dijelaskan di muka – maupun fakta kekinian. Sudah waktunya semua elemen bangsa waspada dengan infiltrasi ideologi yang bertendensi mengancam keutuhan NKRI. Dan sudah waktunya pula, agama sebagai jalan hidup yang “rahmatan lil alamiin” ini tidak dibelokkan untuk memuaskan syahwat politik oknum-oknum partai dan Ormas transnasional tadi. Kita harus tetap waspada mencermati gerakan politik yang beraroma keagamaan dengan memberikan perhatian lebih terhadap tegaknya kedaulatan negara sebagai manifestasi dari sikap nasionalisme dan patriotisme kita. Kita tidak boleh bersikap arogan dan mengedepankan sikap egosentrisme berlebihan yang bisa mengancam disintegrasi bangsa sehingga menyulut api pertikaian maupun permusuhan antar sesama bangsa yang majemuk ini. kapitalisme itu transnasional bukan? demokrasi itu transnasional bukan? sekularisme itu transnasional bukan? semuanya juga transnasional, mana ada yang bikinan orang indonesia? kalau menolak transnasional ya pakai saja ide asli dan orisinil indonesia (emangnya ada?) khilafah islam jelas transnasional... apakah itu membahayakan? tunggu dulu... ukuran bahaya khan tidak dilihat dari sifatnya yang transnasional atau tidak... dalam sejarahnya yang panjang (13 abad lho), khilafah islam sesungguhnya tidak pernah terbukti menyengsarakan umat manusia (termasuk bangsa indonesia)... anda pikir kita mengenal islam siapa yang ajarin? Indonesia mayoritas muslim apalah otomatis dengan sendirinya? bayangkan bila khilafah islam tidak transnasional, maka saya dan anda tetap tidak mengenal Alloh hingga kini karena nenek moyang kita di indonesia adalah penganut animisme dan dinamisme (anda buka buku sejarah deh..) wali songo yang kita kenal sebagai pembawa risalah kenabian ke indonesia, bukanlah penduduk asli Indonesia, mereka adalah para ulama dari turki dan palestina yang dikirim oleh khalifah yang memang dalam sistem khilafah islam berkewajiban mendakwahkan islam ke seluruh dunia (dan itulah transnasional yang sesungguhnya) jadi, apakah anda masih akan mengingkari bahwa ke-transnasional-an khilafah islam justru kita butuhkan? karena itu terbukti membawa manfaat besar dengan tersebarnya islam ke penjuru dunia, termasuk saya dan anda bisa menjadi muslim yang punya kans masuk surga kelak, insya Allah.