FILTERISASI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM PESANTREN


            Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling diminati dalam pengembangan diri guna mengimbangi arus global dalam dunia pendidikan. Dimana banyak pesantren yang sudah mendirikan kursus-kursus untuk menngintensifkan pembelajaran bahasa nomor wahid dunia ini. Memang tidak dapat dipungkri bahwa bahasa inggris memang menjadi sebuah ikon kemajuan pendidikan dimana lembaga-lembaga formal atau informal mulai aktif mengedepankan bahasa Inggris daripada bahasa yang lain guna menyetarakan lembaganya dengan lembaga tingkat internasional. Itu terbukti dengan banyaknya fakultas-fakultas yang menyaratkan calon mahasiswanya untuk menguasai bahasa Inggris sebagai syarat untuk memasuki fakultas tersebut. Apalagi fakutas-fakultas ternama dinegeri ini.
            Bahasa merupakan warisan nenek moyang dari masing-masing daerah dengan karakteristik, citarasa bahasa dan budaya bahasa yang berbeda sesuai dengan budaya para pewarisnya. Begitupun bahasa Inggris yang merupakan warisan budaya barat tentunya akan menelurkan karakteristik dan budaya sesuai dengan pewarisnya (barat). Gaya dan budaya bahasa Inggris begitu tampak mencolok dalam penampilannya ketika ada even-even kompetisi seperti lomba pidato (speech competition), lomba baca berita (news reading) dll. Dapat kita bandingkan antara anak yang berkompetisi dalam bahasa Arab dengan anak yang ikut kompetisi bahasa Inggris baik dalam segi penampilan, pakaian atau dalam segi dialektikanya. Tentunya mereka akan menampilkan busana sesuai dengan budaya masing-masing bahasa. Dalam segi menyapa, berdialok, dan berkunjungpun berbeda. Ini hanya segelintir contoh deferenisiasi karakteristik bahasa yang tentunya ini akan menjadi sebuah akulturasi budaya yang akan mudah diyakini dan diikuti oleh peminatnya.
            Dalam sebuah kesempatan penulis pernah mengikuti sebuah acara international workshop and training yang bertema "one day practice, give more competencies" yang berkooperasi dengan lembaga Acces Malang di sebuah universitas di pulau ini dengan jumlah member 120 yang mayoritas adalah mahasiswa. Training yang berdurasi kurang lebih 4 jam tersebut sangat menarik dengan dibekali 4 skill bahasa inggris; listening, speaking (meliputi pronunciation/accent), writing dan translation yang dibimbing oleh trainer-trainer khusus  dalam bidangnya dimana setiap skill bahasa ditutori oleh dua tourist yang berpasangan (suami-istri). Setiap tutor punya kesempatan untuk menyampaikan materinya selama kurang lebih satu jam. Sungguh penulis sangat tertarik dengan gaya bahasanya yang seakan unik dan begitu natural. Tapi yang paling menarik ketika pada penyampaian translation (penerjemahan), kami dibentuk beberapa kelompok group, dimana setiap group harus menterjemah sebuah lembaran yang dikasih oleh tourist tersebut. Pada awalnya penulis acuh tak acuh dengan hal tersebut karena pengelompokan hal semacam itu sudah sering penulis lakukan dalam kelas. Tapi ketika itu teman-teman menunjuk saya untuk menterjemah ahirnya sayapun mulai melihat lembaran itu, dan ternyata itu adalah sepotong ayat Injil yang disuruh terjemah, walau dengan terpaksa penulispun menterjemahnya karena tuntutan dinamika kompetisi dalam kelas, dan touris itupun mengacungi jempol bagi yang menterjemah dengan baik. Dan memberikan kosakata-kosakata yang kurang tepat secara penggunaan bahasa Inggris yang baik dalam transliterasi tersebut.
            Dari pengalaman diatas penulis berpikir betapa workshop tersebut sarat dengan doktrinisasi kristiani yang halus dan hampir tidak terlihat, kalau tourist itu berhasil mendoktrin 120 orang Islam dalam sekali seminar lalu berapa ribu orang Islam yang telah dia doktrin untuk mentranslate injil tersebut dan berapa ribu ayat injil pula yang telah berhasil didoktrinisasi ke alam bawah sadar kita. Tentunya kita sebagai warga pesantren yang exis dalam pengembangan bahasa asing ini yang pastinya perduli terhadap aqidah Islam perlu memfilter materi-materi yang diberikan kepada anak didik kita, apalagi ketika kita memberikan visualisasi kepada anak didik kita berupa video berbahasa inggris kita tidak serta merta memberikan secara langsung kepada anak didik sebelum kita tahu isi dari audio visual tersebut. Bukan hanya sekedar itu text-text berbahasa inggris atau gambar-gambar yang kita gunakan sebagai adapted material atau materi penunjang pembelajaran yang sering diberikan kepada kita ketika kita belajar bahasa inggris mayoritas mendeskripsikan tentang kehidupan barat yang serba freedom tanpa batas. Banyak buku sejarah dimana buku itu bukan hanya sebuah sejarah semata tapi mengandung propaganda missionaries yang sengaja diselipkan untuk mempelintir sebuah ajaran, dalam sebuah buku "The history of Isro' Mi'roj" buku sejarah berbahasa Inggris dimana dalam buku itu ada gambar nabi Muhammad yang sedang dibedah oleh Empat bidadari dengan pisau bergambar salip. Kalau kita serta merta memberikan text-text itu secara bebas kepada anak didik kita bagaimana dengan aqidah dan pengalaman sejarah mereka yang masih dangkal sedangkan anak didik kita adalah anak yang polos yang bisanya cuma menyerap semua yang dia dapatkan dari dalam kelas tanpa bisa membedakan mana budaya yang sesuai dengan budaya Islam dan mana budaya yang bertentangan dengan islam itu sendiri.
            Ini bukanlah justifikasi bahwa semua materi pembelajaran bahasa inggris mengandung westernisasi terselubung, tapi bagaimana kita mengantisipasi hal yang tidak kita inginkan dengan memfilter semua pembelajaran bahasa inggris sebagai langkah defensive. Tentunya dalam hal ini peran guru sebagai creator yang paling fital dalam filterisasi tersebut. Sebagai langkah filterisasi bahasa guru setidaknya bisa menggiring murid-muridnya ke dalam ranah budaya kita, setidaknya guru bisa memberikan informasi bahwa itu adalah budaya barat yang tidak pantas ditiru oleh kita. Islamisasi pendidikan bahasa inggris merupakan jurus yang jitu bagi guru untuk tetap menanamkan nilai-nilai moral dan aqidah islamiyah yang merupakan keyakinan yang secara absolute kita harus pertahankan sampai akhir hayat ini.
            Belajar bahasa sama halnya belajar budaya. Layaknya kata pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui atau menyelam sambil minum. Dua pepatah ini memang pas dalam belajar sejarah karena bahasa adalah bagian dari budaya setali tiga uang bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
            Walau demikian belajar bahasa Inggris adalah sebuah kemutlakan yang harus kita pelajari dalam mengarungi prospek masa depan yang lebih baik serta agar kita tidak terisolir dari kancah globalisasi yang mulai merambah Madura ini. Namun preventif memang perlu kita lakukan sebelum kita terjerumus kedalam jurang westernisasi. Kalau tidak demikian, maka pembelajaran bahasa Inggris di pesantren khususnya bukan justru menjadi prospek yang lebih baik tapi menjadi media missionaries yang tersembunyi (hidden missionary).