makalah tentang malu

KATA PENGANTAR

            Puji syukur dan alhamdulillah senantiasa aku panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat kasih sayangnya aku dapat menulis makalah yang diberikan oleh dosen sebagai pelatihan dalam dunia karya tulis dan berkarya ilmiyah.
            Sholawat serta Salam tak lupa aku persembahkan kepada Nabi tercinta yang telah berkorban jiwa dan raga demi terbentuknya masyarakat madani yang hidup dalam ketentraman dan berdampingan tanpa ada perbedaan apalagi permusuhan. Dialah makhluk yang paling sempurna yang diutus  kepada seluruh alam sebagai akhir dari para utusan-utusan yang terdahulu.
            Permohonan bimbingan dan konseling selalu kami harap kepada semua dosen dan teman sejawat yang masih aktif berkuliah atau sudah menyelesaikan S1 nya. Dalam penulisa makalah hadits ini tentunya kurang begitu sempurna karena kekurangan referensi yang kami tulis.
            Oleh aku ucapkan banyak terima kasih kepada semua rekan mahasiswa yang telah banyak memberikan sumbangsih  wawasan dalam penyusunan makalah ini, sehingga kami dapat mengumpulkan data-data tentang malu sesuai denan konsep hadits nabi.

















BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
               Kehidupan manusia sangat variatif sekali, baik dari segi pakaian, makanan, sampai hal-hal an berhubungan dengan tingkah laku manusia itu sendiri. Namun tatanan manusia sekarang ini sunguh sangat mempereihatinkan. Sesuatu yang dulu dianggap tabu danm sangat memalukan kini menjadi sesuatu yang dibanga-banggakan sehingga terjadilah degradasi manusia secara multi dimensi.
               Degradasi tersebut terjadi karena kurangnya penanaman moralitas pada anak-anak yang tentunya itu dikarenakan kurangnya perhatian orang tua dan juga guru pada moraa anak. Tentunya moralitas yang peerlu jugfa ditanamkan pada anak adalah bagimana mereka punya rasa  malu pada tempatnya.
               Menginjak pada hari kebankitan Nasional keseratus ini yang telah diprakaersai oleh Budi Oetomoe  pada 1908 yang silam maka perlu kiranya kita memutar waktu pada sejarah yang tenggelam. Bagaimana mereka bangkit tentunya bagimana kita menanamkan kembali budi utama atau akhjlakul karimah yang telah tinggal kenangan namun ruh budi utama tetap terpatri pada anak-anak bangsa dengan menanamkan malu yang sesuai dengan tempatnya. Sehingga terbangunlah generasi-generasi yang berbudi utama atau akhlakul karimah yang telah dirintis pioneernya, BUDI OETOMOE.
B. Rumusan masakah
Dari syllabus mata kuliah hadits yang ke sembilan maka kami dapat menyimpulkan beberapa poin-poin hadits sebagai berikut:
1        Malu adalah sebagian dari iman
2        Malu tidak datang kecuali dengan kebikan
3        Semua malu itu baik
4        Iman itu ada 78 cabang. Paling utamanya adalah kalimat Lailahaillallah dan paling rendahnya adalah mebuang sesuatu yang penyakitkan di tengah jalan.
Dar bebrapa poin mata kuliah hadits diatas maka kami akan menulis makalah dengan judul : MALU ITU SEBAGIAN DARI PADA IMAN.





BAB II
a. Malu Sebagai Benteng Keimanan
            Salah satu ciri-ciri utama fitra manusia adalah adanya rasa malu sebab dengan rasa malu kita tidak ceplas-ceplos dalam melakukan berbagai hal. Lebih lebih dalam perkara yang melanggar syariat karena dengan rasa malu baik kepada Allah atau kepada manusia akan terpatri sebuah keimanan yang kokoh, namun apabila rasa manusia itu hilang, manusia cendrung berbuat seperti perbuatan binatang. Seluruh perbuatannya berorentasi pada yang bersifat menumbara hawa nafsu dan maksiat. Allah menegaskan dalam al-qur’an yang artinya:
            “Mereka mempunyai hati tetepi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga. Tetapi, tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah) mereka itu bagaikan binatang, bahkan mereka sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (qs-7:199)
            Melihat kandungan ayat-ayat diatas kalau di korelasikan dengan era sekarang sudah sepantasnya mengkaji kembali apa yang terat dalam hadits al-qur’an diatas malu punyua eksistensi yang dan pengaruh yang besar terhadap gaya hidup manusia, mungkin, deisebabkan orang islam sendiri tidak punya rasa malu mereka, lalai terhadap firman Allah bahkan orang-orang sendiri yang menghina bahwa al-qur’an itu lebih porno dari yang lain, kita ternyata sebagai ummat yang mempunyai akal sehat pasti bertanya-tanya apakah itu orang-orang islam? Apakah seperti itu pemikiran orang Islam, apakah sepantasnya orang Islam berucap dengan kata-kata yang dapat menimbulkan pemikiran yang membuat orang Islam pusing? Apakah tidak mempunyai rasa malu? Orang Islam sendiri menghina terhadap apa yang menjadi pedoman hidup yang apabila manusia dalam kesesatan, itu kembalinya pada al-qur’an dan hadist
            Kini kita sedang barada disebuah zaman yang menunjukkan bahwa manusia lebih sesat dari pada binatang sedangkan apabila lebih sesat dari pada binatang tidak mempunyai rasa malu sama sekali, mereka berbuat sesuka hati seperti orang tua menghamili anak kandungnya, memperkosa anak tirinya, juga ada seorang tega membunuh anaknya. Aurat dipertontonkan disana sini dengan menggunakan kecanggihan tehnologi harga diri dijual menjadi ajang komunity bahkan yang lebih parah lagi seluruh aurat dipertontonkan lewan situs-situs enternit lewat CD dan tanyangan telvisi bukan hal yang tabu lagi  semua perbuatan diatas karena minimnya rasa malu dan minimnya iman mereka karena kedua saling berkaitan dengan berlandasan. Malu itu sebagian dari iman dalam hadist rosulullah menceritakan dan artinya sebagai berikut;[1]
            “Rasa malu itu tidak pernah mendatangkan kecuali kebaikan” (Hadist Bukhori Muslim)
Dari hadist yang telah dipaparka diatas bahwa, rasa malu itu sangatlah organ dalam kepribadian atau sifat manusia dan sangatlah menunjang keimanan dalam perbuatan amal baik manusia, hususnya dalam kehidupan umat islam oleh karena itu Nabi sangat menganjurkan kita, agar kita selalu menjaga dan melindungi rasa malu, agar tidak lepas dari dalam tubuh kita. Dengan melalui baberapa hadist diatas.
            Abu said Al- Khodri pernah menggambarkan bahwa Rasulullah SAW. Lebih malu dari seorang gadis, bila melihat sesuatu yang tidak disukai, tampaklah tanda rasa malu dari wajah Rasulullah. Dalam kesempatan lain. Rasulullah, mengkaitkan antara iman dan rasa malu adalah bagian dari iman tempatnya disurga, perilaku jelek adalah bagian dari kekeringan iman, dan orang-orang yang imannya kering tempatnya dineraka.[2]
            Abu hurairah meriwayatkan bahwa iman mampunyai lebih dari tujuh puluh bagian diantaranya adalah rasa malu.
            Imam Ibnu majah menyebutkan sebuah hadist yang menggambarkan, betapa rasa malu itu harus dibudayakan demi keselamatan sebuah bangsa.[3]
            Melihat kontek hadist diatas mungkin Ibnu Majah meriwayatkan hadist ini, karena saking parahnya budaya dan perbuatan yang tampa didasari rasa malu sehingga beliau meriwayatkan hadist yang berkaitan erat dengan perilaku manusia pada zaman itu. Apa lagi dizaman sekarang yang namanya kukltur dan budaya-budaya masuk tana oprasi kedunia asia hususnya Negara indunisia ini.Marilah kita lihat hadist nabi yang berkaitan erat dengan sifat malu yang artinya sebagai berikut;
“Jika Allah ingin menghanirkan sebuah kaum dicabutlah rasa malu, apa bila rasa malu itu hilang maka yang muncul adalah sikap keras hati. Sedangkan sikap keras hati membudaya, maka Allah mencabut dari mereka sikap amanah (kejujuran dan tanggung jawab) apabila sikap amanah telah hilang, maka yang muncul adalah para penghinat, bila penghianat meraja lela Alla mencabut rahmatnya, bila rahmat Alla dicabut maka yang muncul manusia laknat sedangkan apabila manusia laknat meraja lela Allah akan mencabut dari merka tali-tali islam, Maka itu pertanda akan munculnya bencana alam dan rusaknya dunia”.
            Kalau menurut syaikh Muhammad Al-Ghazali tentang mengambil intisari hadist diatas
“bila seseorang tidak mempunyai rasa malu dan amanah dia akan menjadi keras dan berjalan mengikuti kehendak hawa nafsunya, ia takperduli apakah yang harus menjadi korban adalah mereka yang takberdosa, ia rampas dari tangan-tangan mereka yang fakir tampa belas kasihan, hatinya tidak tersentuh sedikitpun oleh kesedihan, dari orang-orang yang lemah dan menderita; matanya gelap, pandangannya ganas ia tidak tahu kecuali apa yang memuaskan hawa nefsunya. Apa bila orang sampai pada tingkat perilaku seperti ini, maka telah terkupas darinya fitrah agama dan terkikis habis jiwa ajaran islamnya”.[4]
            Dalam kitab lain Imam Annawawi menyebutkan bahwa hakikat rasa malu itu muncul dalam bentuk sikap meninggalkan perbuatan jelak dan perbutan dzalim.
            Seorang Sufi besar Imam Junit menerangkan dalam bukunya bahwa rasa malu muncul dari melihat besarnya nikmat Allah, sedangkan ia merasa banyak kekurangan dalam megamalkan ketaatan kepadanya.[5]
           
A. Malu Menuntun Amal
            Rasulullah dalam sebuah riwayat telah bersabda “ malu itu sebagian daripada iman “. Kemudian ada orang yang megisahkan “ pada suatu ketika datang seorang perempuan datang menghadap Rasulullah seraya berkata: “ Ya Rasulullah, sungguh aku telah terlanjur melakukan dosa besar aku sangat berharap agar engkau berkenan memberikan padaku obat penawar dosa yang telah aku lakukan. Rasulullah menjawab: “ bertaubtlah kepada Alla.” Perempuan itu berkata lagi : “ sungguh bumi telah telah menjdi saksi dari perbuatan dosa yang telah aku lakukan, sebab aku melakukannya diatas bumi. Sungguh bumi tidak akan pernah mengingkari kesksiannya terhaap diriku di hari kiamat nanti.” Rasulullah menjwab: “ sadaraku yang  mulia, bumi yang ada sekarang ini tidak akan menjadi saksi. Sebab Allah telah berfirman dalam al-Qur’an “ yauma tbaddalul ardhu ghoirol ardhi.” Perempuan itu bekata lagi : “ ya Rasulullah sungguh langit juga menjadi saksi atas perbuatanku di hari kiamat nanti.” Rasulullah menjawab : “ Saudaraku, pada hari kiamat nanti lkangit akan dilipat seperti lipatan buku di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman “ Yauma nathwissama’a kathiyyissijilli lilkutub.” Perempuan itu berkata lagi : “ ya Rasulullah, sungguh para malaikat pada hari kiamat nanti akan menjadi saksi dari perbuatan dosaku yang terlanjur aku lakukan. Itu sudah ditulils dalam buku amal.” Rasulullah menjawab: “ saudaraku, amal kebajikanmu  dapat melebur perbuatan dosa yang telah engkau lakukan. Dalam al-Qur’an Allah berfirman : “ innal hasanati yudzhibnas sayyiat”  sungguh orang yang bertaubat dar perbuatan dosa ibarat orang yang tidak punya dosa.” Perempuan itu berkata lagi: “ Ya Rasulullah, sungguh para malaikat itu tidak akan pernah melupakan perbuatan dosa yang aku lakukan dan mereka tetap menjadi saksi.” Rasulullah menjawab : “ di hari kiamat nanti Allah akan membuat para malaikat itu lupa terhadap perilaku yang pernah dilakukan ummat manusia sepanjang mereka mau bertaubat[6]
Memang benar apa yang telah dilontarkan oleh Imam Ghazali dalam kitab khukul muslim dan pendapatnya imam annawawi dalam kitab riyadussholihin, apa bila dikaitkan dengan kehidupan diman sekarang. Banyak seorang pemimpin merampas harta-harta yang telah menjadi hak-hak orang miskin, mereka rampas mereka curi Tampa memandang bulu demi memuaskan hawa nafsunya sendiri, itu karena, rasa malu sudah kabur dari merka dan iman mereka sudah terkelupas.
            Kita sebagia umat Muslim harus menyakini bahwa seamua perbuatan kita senantiasa dilihat oleh Allah dan jelek akan melahirkan perbuatan jelek pula sedangkan perbuatan baik akan melahirkan perbuatan jelek pula. Oleh karena itu demi kelangsungan hidup kita kejalan yang lebih terarah dan lebih baik dan diridai oleh Allah SWT. Marilah kita menjaga perbuatan kita, amal kita, baik itu yang berhubungan langsung dengan Allah maupun manusia untuk mencegah dari hal-hal yang tidak baik. Sehingga amal kita terbentengi dengan keimanan yang tegak dan kokoh. Dan dapat menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak keimanan itu sendiri.






MOTTO

Orang yang berakal bukanlah orang yang mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, tapi orang yang berakal adalah orang yang mengetahui mana yang lebih baik dari dua keburukan.
 Siaran radio karimata pkl 08.00 tgl 28/05/2008


[1] KH. M. Arifin Ilham, Majalah Muzzaki, JL gudang sakinah permai,  Malang , P,23.
[2] Imam Ghazali, hulukul Muslim, P,71.
[3] Ibid,
[4] Ibid,
[5] Riyadus Solihin, P,246
[6] Ibnu Mahalli Abdullah, perjalanan Rohani kaum sufi, hal. 163-164.





Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng My Diary Makalah

0 comments:

Poskan Komentar

Geo Footer

Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More